Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PENINGKATAN KOMPETENSI KOGNITIF, AFEKTIF, DAN PSIKOMOTOR SISWA MELALUI METODE MEMORY MNEMONIC PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Nobertha Mandessy; Tarto Sentono; Sunarti
Jurnal Sosialita Vol. 20 No. 2 (2025): Pendidikan untuk Masa Depan Berkelanjutan (Education for a Sustainable Future)
Publisher : Program Magister Pendidikan IPS UPY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/js.v20i2.8628

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan metode pembelajaran memory mnemonic terhadap peningkatan kompetensi kognitif, afektif, dan psikomotor siswa pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di SMA Negeri 2 Maluku Tenggara. Mata pelajaran PKn, yang esensial dalam pembentukan karakter bangsa, seringkali dihadapkan pada tantangan metode pembelajaran yang cenderung berorientasi pada hafalan, sehingga membatasi pengembangan kompetensi secara menyeluruh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode quasi-eksperimen dan desain Nonequivalent Control Group Pretest-Posttest, dengan melibatkan 60 siswa Kelas X di SMA Negeri 2 Maluku Tenggara yang terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontorl masing- masing 30 siswa. Data dikumpulkan melalui instrumen tes untuk kompetensi kognitif, lembar observasi untuk kompetensi afektif, dan rubrik penilaian untuk kompetensi psikomotor. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada skor tes kognitif kelompok eksperimen. Selain itu, implementasi metode mnemonik juga secara positif memengaruhi kompetensi afektif dan psikomotor, yang terbukti dari meningkatnya partisipasi aktif, kolaborasi, dan keterampilan praktis siswa. Disimpulkan bahwa metode pembelajaran memory mnemonic merupakan pendekatan holistik yang efektif meningkatkan ketiga ranah kompetensi, sekaligus mengatasi keterbatasan pembelajaran hafalan tradisional dalam PKn.
KEARIFAN LOKAL PELA DARAH ANTARA DESA SOHUWE DAN DESA LUMAPELU SEBAGAI TANDA PERDAMAIAN MASYARAKAT DI SERAM BAGIAN BARAT Elvi Yoan Paisina; Sukadari; Sunarti
Jurnal Sosialita Vol. 20 No. 2 (2025): Pendidikan untuk Masa Depan Berkelanjutan (Education for a Sustainable Future)
Publisher : Program Magister Pendidikan IPS UPY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/js.v20i2.8631

Abstract

This study aims to examine the local wisdom of Pela Darah (blood oath) between Sohuwe and Lumapelu Villages in West Seram Regency, a symbol of peace and brotherhood between the two communities. Pela Darah is a traditional bond formed through a blood oath between two villages to protect each other, maintain harmony, and prevent conflict. This tradition embodies noble values ​​such as unity,solidarity,and shared responsibility,which are passed down through generations.In a socio-cultural context, Pela Darah serves as an important tool for strengthening community identity and building sustainable peace in areas that have experienced social tension. The research methodology used was a qualitative approach with descriptive methods. Data were obtained through in-depth interviews with traditional leaders, community leaders, and village officials, as well as direct observation of the Pela Darah traditional procession. Furthermore, a literature review was conducted to strengthen understanding of the history and philosophical meaning of this tradition. Data analysis was carried out through the stages of data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results indicate that Pela Darah plays a strategic role in maintaining peace between the communities of Sohuwe and Lumapelu Villages. This customary bond serves as a mechanism for conflict resolution, strengthening social relations, and preserving local cultural values. This tradition also encourages cooperation in the social, economic, and security sectors. Revitalizing Pela Darah through the support of traditional leaders and the local government is considered crucial to ensuring the preservation of these noble values ​​and the foundation for building a harmonious and peaceful society. Keywords: Pela Darah, Peace, West Seram
REVITALISASI BUDAYA KEI SEBAGAI UPAYA PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER MENGHADAPI FENOMENA SOSIAL DI MALUKU TENGGARA: REVITALISASI BUDAYA KEI SEBAGAI UPAYA PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER MENGHADAPI FENOMENA SOSIAL DI MALUKU TENGGARA Nike Novita Ohoiwutun; Sunarti; Salamah
Jurnal Sosialita Vol. 20 No. 2 (2025): Pendidikan untuk Masa Depan Berkelanjutan (Education for a Sustainable Future)
Publisher : Program Magister Pendidikan IPS UPY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/js.v20i2.8635

Abstract

Abstract Fenomena sosial di Maluku Tenggara menunjukkan adanya tantangan serius berupa degradasi moral, menurunnya solidaritas sosial, serta melemahnya identitas kultural di kalangan generasi muda. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis revitalisasi budaya Kei sebagai strategi penguatan karakter dalam menghadapi perubahan sosial yang dinamis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur dan wawancara mendalam pada tokoh adat, pemuka agama, pendidik, serta pemuda Kei. Hasil kajian menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya Kei, seperti ain ni ain (kebersamaan dan solidaritas), hawear balwirin (ikrar persaudaraan), dan hira ni ngaran (penghormatan martabat), masih relevan sebagai fondasi pendidikan karakter. Implementasi revitalisasi dilakukan melalui pendidikan formal, kegiatan adat, serta praktik sosial berbasis kearifan lokal. Revitalisasi budaya Kei terbukti mampu memperkuat karakter generasi muda dalam menghadapi arus globalisasi, konflik sosial, serta pergeseran nilai modernitas. Artikel ini merekomendasikan integrasi nilai budaya Kei dalam kurikulum lokal dan program pembangunan sosial di Maluku Tenggara. Kata kunci: Revitalisasi, Budaya Kei, Pendidikan Karakter, Fenomena Sosial, Maluku Tenggara Abstract The social phenomena in Southeast Maluku present serious challenges such as moral degradation, declining social solidarity, and weakening cultural identity among the younger generation. This article aims to analyze the revitalization of Kei culture as a strategy for strengthening character in facing dynamic social changes. The study employs a qualitative approach through literature review and in-depth interviews with traditional leaders, religious figures, educators, and Kei youth. Findings reveal that Kei cultural values such as ain ni ain (togetherness and solidarity), hawear balwirin (oath of brotherhood), and hira ni ngaran (respect for dignity) remain relevant as a foundation for character education. The revitalization is implemented through formal education, customary practices, and community-based activities rooted in local wisdom. Kei cultural revitalization proves to be effective in reinforcing youth character in facing globalization, social conflicts, and shifts in modern values. The article recommends integrating Kei cultural values into local curricula and social development programs in Southeast Maluku. Keywords: Revitalization, Kei Culture, Character Education, Social Phenomena, Southeast Maluku
SISTEM STRATAFIKASI SOSIAL PADA MASYARAKAT KEI KABUPATEN MALUKU TENGGARA Carolina Feninlambir; Sunarti; Victor Novianto
Jurnal Sosialita Vol. 20 No. 2 (2025): Pendidikan untuk Masa Depan Berkelanjutan (Education for a Sustainable Future)
Publisher : Program Magister Pendidikan IPS UPY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/js.v20i2.8636

Abstract

Abstrak Penelitian ini mengkaji sistem stratafikasi sosial pada masyarakat Kei di Kabupaten Maluku Tenggara yang dihapuskan pada hukum adat Larvul Ngabal . Stratafikasi sosial masyarakat tradisional Kei terbagi dalam tiga lapisan utama, yaitu Mel (bangsawan/tuan tanah), Ren (orang merdeka), dan Iri/Ata (budak/hamba). Setiap lapisan memiliki peran sosial yang berbeda-beda, khususnya dalam penyelenggaraan upacara adat seperti perkawinan, penyelesaian konflik (perdamaian), dan ritual adat keagamaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan melibatkan tiga puluh responden dari berbagai lapisan sosial masyarakat Kei. Data dikumpulkan melalui kuesioner berbasis Skala Likert dan observasi lapangan, kemudian dianalisis dengan teknik statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stratafikasi sosial Kei masih dipahami sebagai instrumen penting pengorganisasian masyarakat sekaligus pelestarian identitas budaya. Lapisan Mel tetap diakui sebagai pemimpin adat, sementara Ren berperan dalam mendukung pelaksanaan kegiatan adat. Namun, status Iri tidak lagi diakui secara formal dalam struktur sosial modern. Posisi sosial masyarakat Kei dewasa ini lebih banyak ditentukan oleh faktor pendidikan, ekonomi, dan jabatan formal dibandingkan garis keturunan semata. Dengan demikian, sistem stratafikasi sosial Kei menampilkan dinamika antara pelestarian nilai adat dan penyesuaian terhadap perubahan sosial modern. Penelitian ini menegaskan bahwa hukum adat Larvul Ngabal masih relevan sebagai dasar kohesi sosial, meskipun mengalami transformasi dalam praktik kehidupan masyarakat kontemporer. Kata Kunci : stratafikasi sosial, masyarakat Kei, hukum adat, Larvul Ngabal, perubahan sosial
TRADISI MAREN SEBAGAI INSTRUMEN SOLIDARITAS SOSIAL MASYARAKAT KEI DI DESA WAIN Marlina Wokanubun; Tarto; Sunarti
Jurnal Sosialita Vol. 20 No. 2 (2025): Pendidikan untuk Masa Depan Berkelanjutan (Education for a Sustainable Future)
Publisher : Program Magister Pendidikan IPS UPY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/js.v20i2.8645

Abstract

Penelitian ini menganalisis tradisi Maren sebagai instrumen solidaritas sosial dalam masyarakat Kei di Desa Wain, Kepulauan Kei, Maluku. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi bentuk-bentuk praktik tradisi Maren, menganalisis fungsi dan makna dalam kehidupan sosial, serta mengevaluasi perannya dalam memperkuat solidaritas sosial masyarakat. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain etnografi. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam terhadap 40 responden yang dipilih secara purposive sampling, dan studi dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles–Huberman dengan triangulasi sumber dan metode untuk memastikan validitas. Hasil penelitian menunjukkan enam jenis praktik Maren yaitu kebun, pembangunan rumah, penangkapan ikan, perkawinan, kedukaan, dan pendidikan. Tradisi ini berlandaskan filosofi Ain Ni Ain dan berfungsi sebagai mekanisme solidaritas yang melintasi batas sosial, agama, dan etnis. Maren berperan signifikan dalam membangun modal sosial melalui jaringan kepercayaan, norma timbal balik, dan kohesi komunitas. Temuan menegaskan bahwa Maren merupakan modal sosial yang efektif dalam mempertahankan identitas budaya dan memperkuat resiliensi sosial masyarakat Kei di era modernisasi. Kata kunci: tradisi Maren, solidaritas sosial, modal sosial, etnografi, masyarakat Kei
THE INFLUENCE OF SOCIAL STUDIES LEARNING, GENDER, AND PARENTING STYLE ON THE SOCIAL SENSITIVITY OF EIGHTH-GRADE STUDENTS AT PUBLIC JUNIOR HIGH SCHOOLS IN CENTRAL SLEMAN REGENCY. Achmad Faisal Albani; Sunarti
Jurnal Sosialita Vol. 21 No. 1 (2026): Pendidikan IPS sebagai Instrumen Evaluasi Kebijakan dan Transformasi Sosial da
Publisher : Program Magister Pendidikan IPS UPY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/js.v21i1.9237

Abstract

This study aims to determine the influence of Social Studies Learning, Parenting Style, and Gender on the Social Sensitivity of eighth-grade students at public junior high schools in the central area of Sleman Regency. The research employed a quantitative approach using a survey method. The sample consisted of 358 students (175 male and 183 female), selected through a simple random sampling technique. The research instrument was a Likert-scale questionnaire that had been tested for validity and reliability. Data were analyzed using multiple linear regression with the assistance of SPSS version 25. The results of the study indicate that: (1) Social Studies Learning has a positive and significant effect on students’ Social Sensitivity and is the most dominant variable, as indicated by a t-value of 11.707, a significance level of 0.000, and the highest Beta coefficient of 0.532. This finding confirms that Social Studies Learning is the most influential factor in enhancing students’ Social Sensitivity; (2) Parenting Style also has a significant effect on Social Sensitivity, with a t-value of 6.201, a significance level of 0.000, and a Beta coefficient of 0.278, indicating that it remains an important supporting factor in the formation of students’ social behavior; (3) Although Gender shows a statistically significant effect (Sig. = 0.030), its Beta coefficient is very small and negative (–0.085), suggesting that it is not a dominant factor in the research model; (4) Simultaneously, the three independent variables have a significant effect on students’ Social Sensitivity, as evidenced by an F-value of 117.284 with a significance level of 0.000. Thus, this study concludes that Social Studies Learning is the most dominant factor influencing students’ Social Sensitivity, supported by the contribution of Parenting Style, while Gender does not serve as a primary factor in the model