Penelitian ini menganalisis disrupsi komunikasi antara mahasiswa Generasi Z dan dosen Generasi X di lingkungan STIE Ganesha, sebuah perguruan tinggi vokasi bisnis di Jakarta. Perbedaan gaya komunikasi yang kontras—Gen Z yang serba digital, informal, dan instan versus Gen X yang formal, hierarkis, dan linear—sering menimbulkan misinterpretasi dalam pembelajaran, komunikasi digital, serta bimbingan akademik dan magang. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bentuk disrupsi, faktor penyebab, serta merumuskan strategi adaptif. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan desain studi kasus, melibatkan 12 mahasiswa Gen Z dan 8 dosen Gen X melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif pasif, dan dokumentasi pesan digital. Analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, & Saldaña, dengan pisau analisis Model Komunikasi Shannon-Weaver dan Social Penetration Theory Altman & Taylor. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama: (1) disrupsi di kelas akibat metode ceramah satu arah memicu noise psikologis berupa Gen Z stare dan penggunaan ponsel; (2) disrupsi komunikasi digital akibat perbedaan interpretasi emoji, formalitas pesan, dan kecepatan respons; (3) disrupsi dalam bimbingan dan magang akibat perbedaan ekspektasi waktu respons dan otonomi. Pembahasan mengonfirmasi bahwa noise kultural dan kegagalan negosiasi kedalaman komunikasi menjadi akar masalah. Penelitian ini menyimpulkan perlunya strategi adaptif dua arah, pelatihan komunikasi lintas generasi, serta panduan etika komunikasi digital yang inklusif. Kontribusi penelitian ini memperluas aplikasi teori komunikasi klasik dalam konteks pendidikan vokasi multigenerasi