Rendahnya kualitas interaksi literasi dalam keluarga serta terbatasnya literasi kesehatan mental ibu menjadi tantangan dalam mewujudkan pengasuhan yang responsif dan mendukung perkembangan sosial-emosional anak. Kondisi tersebut juga ditemukan pada Komunitas Baca Wiji Semi, Desa Susukan, Kabupaten Semarang, sehingga diperlukan inovasi program yang mengintegrasikan penguatan literasi keluarga dan kesehatan mental. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan keterampilan ibu dalam menerapkan Dialogic Reading serta memperkuat kemampuan pengelolaan emosi melalui Writing Therapy yang diintegrasikan dalam forum Ruang Aman Kita. Kegiatan dilaksanakan menggunakan pendekatan community-based empowerment dengan sasaran 18 ibu yang memiliki anak usia sekolah dasar. Intervensi meliputi pelatihan Dialogic Reading, praktik membaca reflektif melalui program One Day One Book Plus+, Writing Therapy berbasis expressive writing, dan forum dukungan sebaya Ruang Aman Kita. Evaluasi dilakukan melalui observasi praktik, analisis tulisan reflektif, dan evaluasi diri peserta menggunakan desain sebelum dan sesudah kegiatan. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pada seluruh indikator keterampilan Dialogic Reading, dengan peningkatan tertinggi pada kemampuan menggunakan pertanyaan terbuka dari 38,9% menjadi 83,3%. Writing Therapy juga meningkatkan kemampuan ibu mengenali emosi (55,6% menjadi 88,9%), mengekspresikan perasaan melalui tulisan reflektif (44,4% menjadi 83,3%), serta menyusun strategi pengelolaan emosi yang adaptif (38,9% menjadi 77,8%). Program ini menunjukkan bahwa integrasi Dialogic Reading, Writing Therapy, dan Ruang Aman Kita efektif memperkuat praktik literasi keluarga sekaligus meningkatkan kesadaran diri dan kesehatan mental ibu. Model pemberdayaan ini berpotensi direplikasi pada komunitas literasi lain sebagai upaya mendukung penguatan kualitas pengasuhan dan kesejahteraan keluarga.