Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Model Strategi Keamanan Maritim Indonesia dalam Menghadapi Potensi Krisis Global Akibat Konflik Timur Tengah, Gangguan Sea Lines of Communication, dan Ancaman terhadap Ketahanan Maritim Nasional Lukman Yudho Prakoso; Muhamad Risahdi; Hidayaturrahman; Hudiarto Krisno Utomo; Bonan Dolog Oktavianus Siagian
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 6 No. 8 (2026): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v6i8.3628

Abstract

Perkembangan konflik di Timur Tengah, khususnya di kawasan Teluk Persia, Laut Merah, dan Selat Hormuz, telah meningkatkan risiko gangguan terhadap Sea Lines of Communication (SLOC) global yang menjadi tulang punggung perdagangan internasional dan distribusi energi dunia. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang sangat bergantung pada konektivitas maritim, Indonesia menghadapi berbagai risiko strategis yang dapat memengaruhi ketahanan ekonomi, keamanan energi, stabilitas perdagangan, dan keamanan nasional. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi strategi keamanan maritim Indonesia saat ini dalam menghadapi potensi krisis global serta merumuskan model strategi keamanan maritim yang adaptif dan resilien. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguatan Maritime Domain Awareness, ketahanan rantai pasok maritim, diplomasi maritim, keamanan energi, serta integrasi tata kelola keamanan maritim menjadi faktor utama dalam meningkatkan ketahanan maritim nasional menghadapi krisis global. Penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi strategi keamanan maritim Indonesia telah menunjukkan kemajuan melalui penguatan kelembagaan dan diplomasi maritim, namun masih menghadapi tantangan berupa integrasi data maritim, ketergantungan jalur perdagangan global, dan sistem manajemen krisis yang belum terintegrasi. Model Maritime Crisis Resilience Framework (MCRF) yang dihasilkan mengintegrasikan Maritime Domain Awareness, ketahanan energi, ketahanan rantai pasok, diplomasi maritim, transformasi digital, dan pemberdayaan masyarakat pesisir sebagai pilar utama ketahanan maritim nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Strategi Resiliensi Keamanan Maritim Indonesia dalam Menghadapi Rivalitas Geopolitik Amerika Serikat–Tiongkok di Kawasan Indo-Pasifik Melalui Pendekatan Integratif Empat Matriks Keamanan Maritim Christian BuegerMenuju Indonesia Emas 2045 A. Rivai Ras; Lukman Yudho Prakoso; Fitry Tafiq Sahary; Muhamad Risahdi; Bonan Dolog Oktavianus Siagian
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 6 No. 8 (2026): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v6i8.3810

Abstract

Rivalitas geopolitik Amerika Serikat dan Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik telah menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi stabilitas keamanan maritim global. Persaingan tersebut tidak hanya berdampak pada aspek pertahanan dan keamanan, tetapi juga memengaruhi perdagangan internasional, konektivitas maritim, keberlanjutan lingkungan laut, dan keamanan manusia. Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki posisi strategis yang rentan sekaligus berpeluang dalam dinamika tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi strategi keamanan maritim Indonesia saat ini dalam menghadapi rivalitas geopolitik Amerika Serikat–Tiongkok serta merumuskan strategi resiliensi yang ideal melalui pendekatan integratif empat matriks keamanan maritim Christian Bueger. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi keamanan maritim Indonesia telah mengalami kemajuan melalui penguatan diplomasi maritim, modernisasi sistem pengawasan, dan peningkatan kerja sama regional, namun masih menghadapi tantangan dalam integrasi data maritim, interoperabilitas antarlembaga, dan kapasitas Maritime Domain Awareness. Berdasarkan analisis menggunakan empat matriks Bueger (Sea Power, Economic Development, Marine Environment, dan Human Security), strategi resiliensi yang ideal mencakup penguatan Kesadaran Domain Maritim, diplomasi maritim, transformasi digital, ketahanan ekonomi maritim, dan pemberdayaan masyarakat pesisir. Penelitian menyimpulkan bahwa keempat dimensi keamanan maritim harus dikembangkan secara simultan dan terintegrasi untuk membentuk sistem keamanan maritim nasional yang adaptif, tangguh, dan berkelanjutan. Strategi ini diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai kekuatan maritim regional sekaligus mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045.
Strategi Penguatan Keamanan Chokepoints Maritim Global dalam Mendukung Ketahanan Ekonomi Nasional: Studi Geostrategis terhadap Selat Malaka, Laut Natuna Utara, dan Selat Hormuz Muhamad Risahdi; Lukman Yudho Prakoso; Hidayaturrahman Hidayaturrahman; Ceppi Hilmansyah; Yusnaldi Yusnaldi
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 6 No. 8 (2026): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v6i8.3813

Abstract

Chokepoints maritim merupakan jalur strategis yang berperan penting dalam kelancaran perdagangan internasional, distribusi energi global, dan stabilitas ekonomi dunia. Selat Malaka, Laut Natuna Utara, dan Selat Hormuz merupakan tiga kawasan strategis yang memiliki pengaruh signifikan terhadap ketahanan ekonomi nasional Indonesia. Meningkatnya rivalitas geopolitik, ancaman keamanan maritim, gangguan rantai pasok global, serta konflik regional menjadikan keamanan chokepoints maritim sebagai isu strategis yang memerlukan perhatian serius. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi kebijakan keamanan maritim Indonesia dalam menghadapi dinamika keamanan pada chokepoints maritim global serta merumuskan strategi penguatan keamanan yang mampu mendukung ketahanan ekonomi nasional. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kebijakan keamanan maritim Indonesia telah mengalami kemajuan melalui penguatan kesadaran domain maritim, patroli maritim, kerja sama regional, diplomasi maritim, dan pembangunan kapasitas kelembagaan, namun masih menghadapi tantangan berupa integrasi data maritim yang terbatas, koordinasi lintas sektor yang kurang optimal, ketergantungan pada jalur energi global, dan meningkatnya risiko geopolitik di Indo-Pasifik dan Timur Tengah. Penelitian menyimpulkan bahwa penguatan Maritime Domain Awareness, diplomasi maritim, kerja sama regional, ketahanan logistik nasional, serta integrasi tata kelola keamanan maritim menjadi faktor utama dalam meningkatkan resiliensi ekonomi nasional terhadap dinamika keamanan chokepoints maritim global.
Optimalisasi Tata Kelola Keamanan Maritim Indonesia Menghadapi Ancaman Grey Zone Warfare dan Maritime Hybrid Threats pada Era Kompetisi Geostrategis Global di Indo-Pasifik Nefra Firdaus; Lukman Yudho Prakoso; Muhammad Ali; Muhamad Risahdi; Wisnu Pramandita
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 6 No. 8 (2026): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v6i8.3815

Abstract

Perkembangan lingkungan strategis global menunjukkan meningkatnya penggunaan strategi Grey Zone Warfare dan Maritime Hybrid Threats oleh berbagai aktor negara maupun non-negara untuk mencapai tujuan politik, ekonomi, dan keamanan tanpa memicu konflik terbuka. Kawasan Indo-Pasifik sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan persaingan geopolitik global menjadi wilayah yang rentan terhadap berbagai bentuk ancaman tersebut. Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia menghadapi tantangan dalam menjaga kedaulatan wilayah, keamanan jalur perdagangan internasional, serta stabilitas keamanan maritim nasional. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi tata kelola keamanan maritim Indonesia saat ini dalam menghadapi ancaman Grey Zone Warfare dan Maritime Hybrid Threats serta merumuskan strategi optimalisasi tata kelola keamanan maritim yang adaptif dan resilien. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguatan tata kelola maritim terintegrasi, Maritime Domain Awareness, diplomasi maritim, transformasi digital, dan sinergi antarlembaga menjadi faktor kunci dalam meningkatkan resiliensi keamanan maritim Indonesia di era kompetisi geostrategis global Penelitian menyimpulkan bahwa penguatan tata kelola maritim terintegrasi, Maritime Domain Awareness, diplomasi maritim, transformasi digital, dan sinergi antarlembaga menjadi faktor kunci dalam meningkatkan resiliensi keamanan maritim Indonesia di era kompetisi geostrategis global.