Chairun Nisa Fadillah
Universitas Prof Dr Hafiz MPH

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Analisis Kurikulum Merdeka Dalam Satuan Pendidikan Anak Usia Dini Chairun Nisa Fadillah; Hibana Yusuf
JURNAL BUNGA RAMPAI USIA EMAS Vol 8, No 2: Desember 2022
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jbrue.v8i2.41596

Abstract

Analisis Belajar Mandiri Kurikulum Merdeka Untuk Pendidikan Anak Usia Dini. Jenjang satuan pendidikan termasuk PAUD sudah mulai mencerminkan kebebeasan kurikulum merdeka.. Kurikulum merdeka merupakan kurikulum baru, perlu dipahami bahwasanya tidak mudah untuk menyusun kurikulum baru bagi satuan pendidikan. Pendidik sering mengalami polemic akibat hal ini ketika kurikulum diubah. Namun, belum semua lembaga pendidikan anak usia dini menerapkan kurikulum merdeka mengingat masih perlunya pengetahuan dan penyusunan serta pengimplementasian kurikulum merdeka. Oleh sebab itu peneliti ingin menjelaskan tentang teori-teori dan peraturan yang ada pada kurikulum merdeka. Tujuan dari penelitian ini adalah memahai konsep belajar mandiri dan struktur kurikulum merdeka pada pendidikan anak usia dini. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualittatif. Studi kepustakaan digunakan untuk mengumpulkan data, yaitu melalui jurnal-jurnal dan buku-buku yang berkaitan dengan kurikulum merdeka pada pendidikan anak usia dini. Dengan menggunakan teknik analisis data, peneliti menggambarkan dengan tepat apa yang mereka temukan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa gagasan belajar mandiri Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan kompatibel dengan kurikulum merdeka. Kerangka dasar untuk penyusunan dan struktur kurikulum harus diperhatikan dengan seksama dalam membuat kurikulum merdeka. Pofil pelajar pancasila dalam kurikulum merdeka meliputi: a) bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; b) mandiri; c) bekerja sama dengan orang lain; d) keberagaman global; e) penalaran kritis; dan f) inovatif dan kreatif. Melalui struktur kurikulum, prinsip pembelajaran, penilaianm dan hasil belajar, kurikulum merdeka telah mengacu pada standar acuan Standar Nasional Pendidikan. Kegiatan intrakurikuler yang dimasukkan ke dalam kurikulum merdeka berfungsi untuk meningkatkan profil pelajar pancasila. Selain itu, terdapat capaian pembelajaran yang harus dipenuhi dalam kaitannya dengan tiga aspek: nilai-nilai agama dan karakter, identitas diri, serta dasar-dasar literasi dan STEAM (sains, teknologi, teknik, seni dan matematika).
MENGEMBANGKAN KECERDASAN SPIRITUAL ANAK MELALUI PEMBIASAAN PUASA RAMADHAN SEJAK DINI Nur Cahyati Ngaisah; Reza Aulia; Chairun Nisa Fadillah
Bunayya Vol 9, No 1 (2023): Januari 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/bunayya.v9i1.16753

Abstract

Pengembangan kecerdasan spiritual anak merupakan hal yang sangat penting untuk dikembangkan karena anak sebagai generasi penerus berikutnya. Dalam pengembangan kecerdasan spiritual dapat dilakukan melalui beberapa hal, salah satunya melalui puasa ramadhan. Anak dilatih melakukan puasa ramadhan sesuai dengan tahapan anak dan kemampuan anak. Pencapaian dalam pengembangan kecerdasan spiritual anak dapat diukur dengan indikator kecerdasan spiritual dan nilai-nilai yang mempengaruhi kecerdasan spiritual anak melalui pembiasaan puasa ramadhan sejak dini. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi yang di lakukan di TPA Al-Hikmah Jurugsari Yogyakarta. Teknik analisis data yakni menggunakan teori miles dan Huberman dengan langkah-langkah : merangkum, menyajikan data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mengembangkan kecerdasaan spiritual anak dapat melalui pembiasaan puasa ramadhan yang terjadi di TPA Al-Hikmah Jurugsari yang diukur melalui indikator kecerdasan spiritual dan nilai-nilai yang mempengaruhi kecerdasan spiritual anak.
PERSEPSI MASYARAKAT MENGENAI GURU LAKI-LAKI PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Chairun Nisa Fadillah; Nur Cahyati Ngaisah
Bunayya Vol 9, No 1 (2023): Januari 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/bunayya.v9i1.16885

Abstract

Dalam pendidikan, khususnya pendidikan anak usia dini, kedua jenis kelamin baik laki-laki maupun perempuan memainkan peran penting, proporsi guru laki-laki dan perempuan penting karena guru berperan sebagai orang tua anak selama anak berada di sekolah. Dengan begitu, artikel ini memberikan gambaran persepsi masyarakat terhadap guru PAUD laki-laki. Penelitian ini menggunakan penelitian kualittaif, dimana objek dideskripsikan secara holistik dengan kondisi lapangan yang sebenarnya. Penelitian ini mengandalkan sumber data primer dan skunder. Respon angket dari informan dijadikan sebagai sumber data primer, sebaliknya berbagai jurnal terkait penelitian berfungsi sebagai sumber data skunder. Angket dan dokumentasi digunakan sebagai teknik pengumpulan data dalam penelitian ini. Teknik analisis data juga digunakan untuk memastikan pola analisis sesuai dengan data yang diambil. Hasil temuan penelitian, persepsi masyarakat terhadap guru PAUD laki-laki sangat bervariasi, sebagian masyarakat menerima keberadaan guru PAUD laki-laki dan sebagian lainnya menolak.
Permainan Tradisional Kelereng dan Perannya dalam Mengembangkan Keterampilan Sosial Anak Nur Cahyati Ngaisah; Muhammad Al Ayyubi; Lati Nurliana Wati Fajzrina; Reza Aulia; Munawarah Munawarah; Chairun Nisa Fadillah; Nailul Padhil Zohro
Jurnal Ilmiah POTENSIA Vol 8 No 1 (2023): JANUARI
Publisher : UNIB Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/jip.8.1.103-113

Abstract

Kebebasan anak dalam bermain gadget berdampak buruk dalam kamampuan anak bersosial. Permaian di dalam gadget dianggap sangat canggih dan menarik untuk dimainkan. Hal ini menjadi pengaruh punahnya permainan tradisional yang ada di Indonesia salah satunya permaian tradisional kelereng. Tujuan penelitian ini adalah mengingatkan dalam eksistensi permainan tradisional kelereng dari masa ke masa dan membantu anak mengembangakan kemampuan sosial dalam lingkungan keluarga ataupun masyarakat sekitar secara optimal. Penelitian menggunakan jenis kualitatif dengan metode etnografi. Teknik pengumpulan data melalui dokumentasi, wawancara dan studi literatur terkait permainan kelereng dalam mengembangkan kemampuan sosial anak. Analisis hasil penelitian menunjukan bahwa 1) permainan tradisional kelereng mengalami kelangkaan di salah satu desa Beran Ngawi Jawa Timur, anak usia 4-7 tahun yang terdiri dari 6 orang yang dapat menguasai skill permainan kelereng hanya satu anak laki-laki saja. 2) Peran permainan tradisonal kelereng dapat mengembangkan kemampuan sosial anak yang awalnya bergantung dengan gadget dan mengabaikan lingkungan sekitarnya. Temuan penelitian ini membuktikan bahwa anak memiliki ketertarikan memainkan permainan tradisional kelereng namun tidak mengetahui cara permainannya sehingga perlu adanya pengenalan permainan tradisional kelereng pada anak yang berpengaruh besar dalam kemampuan sosial anak terhadap kerjasama, menyesuaikan diri, berinteraksi, mengontrol diri, empati, menaati aturan dan menghargai orang lain.
PERSEPSI GURU PAUD TENTANG PENTINGNYA PELATIHAN KURIKULUM MERDEKA Chairun Nisa Fadillah; Munawarah Munawarah; Reza Aulia
Jurnal Dedikasi Pendidikan Vol 7, No 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Center for Research and Community Service (LPPM) University of Abulyatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30601/dedikasi.v7i2.3723

Abstract

For curriculum development and classroom implementation to be successful, teachers must be fully supported. The process of developing and implementing the curriculum is very dependent on the teacher, for this reason all teachers must receive ongoing training in order to increase their professionalism and understanding of the applicable curriculum. In this study, an interactive qualitative data analysis model was used which was adopted from a qualitative descriptive research method where the researcher collected data repeatedly so that the results obtained were more accurate. This research was conducted in one of the private PAUD schools in the Aceh Tamiang area with the subject being teachers who had attended independent learning training. The findings obtained from this research are that teachers are very enthusiastic to be able to understand the concepts in the independent curriculum so that they can apply them in classroom learning. Teachers feel very responsible for implementing this independent curriculum in the learning process because teachers play a very important role in the development and implementation of the curriculum in schools. Based on this research, it can be concluded that the independent curriculum makes students more free to learn and develop themselves. The independent curriculum is also more interactive, providing opportunities for students to explore their insights. Therefore the teacher becomes a vital facilitator in exploring, overseeing and leading the development of students' skills. Independent curriculum training is the main medium for aligning perceptions regarding the principles and objectives of implementing the curriculum, so that a truly independent learning climate will be created and students will have strong resilience in studying or constructing problem solving
Strategy for Accepting New Students Post-COVID-19: A Case Study Munawarah, Munawarah; Ikhsan, Ikhsan; Fajzrina, Lati Nurliana Wati; Aulia, Reza; Fadillah, Chairun Nisa
Al-Athfal: Jurnal Pendidikan Anak Vol. 8 No. 2 (2022)
Publisher : Islamic Early Childhood Education Study Program, Faculty of Tarbiyah and Education, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/al-athfal.2022.82-03

Abstract

Purpose – The impact of COVID-19 has created new problems in the world of education. In addition to the decreasing number of students, the community prefers to provide education to children at home. It makes the education reflection worse because of the minimum number of students. For this reason, in the new normal or post-COVID-19 era, a strategy is needed to increase the number of students. In addition, the purpose of this study was to find out the strategies used in accepting new students after COVID-19. Then, find out the management of new student admissions at PAUD IT ADAR.Design/methods/approach – The method used was a qualitative methods, the research describes a descriptive narrative and is strengthened by data in the field obtained through interviews, filling out questionnaires, and direct observation.Findings – The results of this study showed that the new student acceptance strategy was carried out by distributing brochures, repairing facilities and infrastructure or modernizing facilities and infrastructure, enriching relationships, teaching creativity, and providing good service. The management function is carried out by planning related to the new student admissions program, then organizing to form several work groups and teams, for implementing initiatives referring to the initial planning following the strategy carried out, then for evaluating the activities of institutional personnel who conduct evaluation meetings.Research implications/limitations – The limitation of this study is the lack of quantitative data (numbers), which improves the theoretical findings. The strategy for accepting new students indeed post-COVID 19 in PAUD IT ADAR. Practical implications – The research suggests that adequately utilizing of the management function can effectively run the post-COVID-19 student acceptance strategy in early childhood institutions. It requires cooperation from various parties and a mature process, including planning, implementation, and evaluation. Good planning and cooperation are necessary to achieve the goal, and the implemented strategy can serve as a best practice for other early childhood education institutions.Originality/value – The management of implementing the new student admissions program post-COVID-19 can help teachers increase the number of students. Paper type Case study
Cultivating Cultural Literacy Through The ATIK Learning Model in RA Bustanul Ulum Viny Anggradini Puspitaloka; Siti Nur Azizah; Chairun Nisa Fadillah; Yuliatul Rohimah
ABNA Journal of Islamic Early Childhood Education Vol. 7 No. 1 (2026): ABNA : Journal of Islamic Early Childhood Education
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penanaman literasi budaya pada anak usia dini perlu dilakukan melalui pembelajaran yang konkret dan menyenangkan. Penelitian terdahulu telah membahas literasi budaya melalui tarian, permainan edukatif, dan pembiasaan, serta model ATIK yang banyak digunakan untuk meningkatkan kemampuan kognitif, motorik, dan pra-menulis anak. Namun, kajian yang secara khusus menjelaskan penggunaan model ATIK untuk menanamkan literasi budaya pada anak usia dini di lingkungan RA masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perencanaan dan pelaksanaan penanaman literasi budaya melalui model pembelajaran ATIK di RA Bustanul Ulum Jayasakti. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Subjek penelitian meliputi kepala sekolah, guru kelas B, dan 20 anak kelas B. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi. Data dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan validitas data dicapai melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Penerapan model ATIK dilakukan melalui tiga kegiatan utama: tahap observasi membantu anak mengenali simbol-simbol budaya, tahap imitasi membantu anak meniru perilaku dan gerakan budaya, serta tahap implementasi memberikan kesempatan kepada anak untuk mempraktikkan pengetahuan budaya secara langsung. Kata kunci: Literasi, Budaya, ATIK model, Anak. Cultural literacy in early childhood needs to be introduced through concrete and enjoyable. Previous studies have discussed cultural literacy through dance, educational games, and habituation, while the ATIK model has mostly been applied to improve children's cognitive, motor, and pre-writing skills. However, studies that specifically explain the use of the ATIK model to cultivate cultural literacy in Islamic early childhood education settings remain limited. This study aims to describe the planning and implementation of cultural literacy cultivation through the ATIK learning model at RA Bustanul Ulum Jayasakti. This research employed a descriptive qualitative approach with a case study design. The subjects consisted of the principal, class B teachers, and 20 class B children. Data were collected through observation, semi-structured interviews, and documentation. The data were analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing, while data validity was examined through source and technique triangulation. The findings indicate that cultural literacy planning was carried out through the selection of local culture-based activities, budget planning using BOP funds, and activity scheduling based on learning themes. The implementation of the ATIK model was conducted through three main activities: the observing stage helped children recognize cultural symbols, the imitating stage helped children model cultural movements and behaviors, and the doing stage provided opportunities for children to practice cultural knowledge directly. Thus, the ATIK model can cultivate cultural literacy through visual experiences, movement, and daily habituation Keywords: Literacy, Culture, ATIK model , Child.