Abstract. Islamic microfinance institutions, particularly Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS), theoretically serve an intermediary function that should accelerate national economic growth. However, although third-party funds (DPK) and financing distributed by BPRS in Indonesia grew consistently from 2015 to 2024, this growth has not always been followed by a corresponding contribution to national economic growth. This study analyzes the short-run and long-run relationship between DPK, BPRS financing, inflation, and Indonesia's economic growth (GDP), using the Autoregressive Distributed Lag (ARDL) approach on quarterly secondary data from 2015 to 2024, sourced from the Financial Services Authority (OJK), Bank Indonesia, and Statistics Indonesia (BPS). The bounds testing results confirm the existence of a long-run relationship among the variables (F-statistic = 5.34). In the short run, DPK at the second lag and BPRS financing at the third lag significantly affect GDP, while in the long run none of the independent variables show a significant partial effect, although the error correction term is negative and significant, indicating a rapid adjustment mechanism toward equilibrium. These findings are interpreted through Financial Intermediation Theory and Endogenous Growth Theory, suggesting that the intermediation function of BPRS is directionally consistent with theory but has not yet reached a scale sufficient to produce a statistically significant macroeconomic impact. Abstrak. Lembaga keuangan mikro syariah, khususnya Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS), secara teoritis berperan sebagai lembaga intermediasi yang seharusnya mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, meskipun Dana Pihak Ketiga (DPK) dan pembiayaan yang disalurkan BPRS di Indonesia terus tumbuh secara konsisten selama 2015-2024, peningkatan tersebut tidak selalu diikuti oleh kontribusi yang sepadan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Penelitian ini menganalisis hubungan jangka pendek dan jangka panjang antara DPK, pembiayaan BPRS, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi Indonesia (PDB), menggunakan pendekatan Autoregressive Distributed Lag (ARDL) pada data sekunder kuartalan periode 2015-2024, bersumber dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia, dan Badan Pusat Statistik (BPS). Hasil uji kointegrasi bounds test mengonfirmasi adanya hubungan jangka panjang antar variabel (F-statistic = 5,34). Dalam jangka pendek, DPK pada lag kedua dan pembiayaan BPRS pada lag ketiga berpengaruh signifikan terhadap PDB, sementara dalam jangka panjang tidak ada satu pun variabel independen yang berpengaruh signifikan secara parsial, meskipun error correction term bernilai negatif dan signifikan, menunjukkan mekanisme penyesuaian yang berlangsung cepat menuju keseimbangan. Temuan ini diinterpretasikan melalui Teori Intermediasi Keuangan dan Teori Pertumbuhan Endogen, yang menunjukkan bahwa fungsi intermediasi BPRS secara arah sudah konsisten dengan teori, namun belum mencapai skala yang cukup untuk menghasilkan dampak makroekonomi yang signifikan secara statistik.