Anggi Lukman Wicaksana
Departemen Keperawatan Medikal Bedah, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, Dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Published : 23 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Kualitas Hidup Peserta Prolanis Diabetes Tipe 2 di Yogyakarta Noviyantini, Ni Putu Ayu; Wicaksana, Anggi Lukman; Pangastuti, Heny Suseani
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.699 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v4i2.183

Abstract

ABSTRAKDiabetes merupakan penyakit metabolik yang dapat berpengaruh pada kualitas hidup. Pemerintah Indonesia berupaya meningkatkan kualitas hidup penyandang diabetes melalui Prolanis. Tujuan: Penelitian bertujuan untuk mengetahui kualitas hidup peserta Prolanis diabetes tipe 2 di Puskesmas Depok Sleman Yogyakarta. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-kuantitatif dengan rancangan cross-sectional. Responden penelitian ini adalah peserta Prolanis diabetes tipe 2 di Puskesmas Depok Sleman Yogyakarta berjumlah 85 orang, diperoleh dengan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan untuk mengkaji kualitias hidup adalah Diabetes Quality of Life-Brief Clinical Inventory. Analisis data disajikan dalam tabel distribusi frekuensi. Hasil: Rerata kualitas hidup peserta Prolanis diabetes tipe 2 adalah 3,84 ± 0,51. Angka tersebut relatif mendekati nilai optimal yang menunjukkan kualitas hidup baik. Rerata kualitas hidup berdasarkan karakteristik demografi ditemukan bahwa pada kelompok usia dewasa akhir (≥ 60 tahun), berjenis kelamin laki-laki, pendidikan terakhir SMP, tidak bekerja, berstatus menikah, berpenghasilan 2 juta - 4 juta, lama menyandang diabetes selama <5 tahun, mengikuti Prolanis ≥ 6 bulan, dan tidak memiliki penyakit penyerta menunjukkan kualitas hidup yang lebih baik. Kesimpulan: Kualitas hidup peserta Prolanis diabetes tipe 2 di Puskesmas Depok Sleman Yogyakarta dalam kategori baik.Kata Kunci: diabetes mellitus, diabetes tipe 2, kualitas hidup, Prolanis Quality of Life Among Prolanis Members of Type 2 Diabetes in Yogyakarta ABSTRACTDiabetes is a metabolic disease that will affect quality of life. Implementing Prolanis is the current effort of the Indonesian government to improve the quality of life for people with diabetes. Objective: The research aimed to determine the quality of life for Prolanis members of type 2 diabetes in Puskesmas Depok Sleman Yogyakarta. Method: It was a quantitativedescriptive study with a cross-sectional design. Respondents involved were Prolanis members of type 2 diabetes in Puskesmas Depok Sleman Yogyakarta. We recruited 85 respondents using total sampling technique. Diabetes quality of life-brief clinical inventory assessed quality of life among respondents. The analysis was presented in a distributionfrequency table. Results: The average quality of life of Prolanis type 2 diabetes participants was 3.84 ± 0.51, relatively closed with the optimal number, which indicated good quality of life. The average quality of life based on the demographic characteristics revealed the age group of late adult, male, junior high school alumnae, unemployed person, marriage, income 2 - 4 million, having diabetes for <5 years, following Prolanis ≥ 6 months, and no comorbidity indicated good category of quality of life. Conclusion: Prolanis members of type 2 diabetes in Puskesmas Depok Sleman Yogyakarta have good category of quality of life.Keywords: diabetes mellitus, Prolanis, quality of life, type 2 diabetes
EDUKASI PEMANTAUAN CAIRAN PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS DENGAN ANURIA 8 TAHUN: STUDI KASUS Khusna, Rohmah Puriana; Wahyuni, Tatik Dwi; Wicaksana, Anggi Lukman
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 7, No 3 (2022)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v7i3.403

Abstract

ABSTRAKPembatasan cairan sangat penting bagi pasien gagal ginjal kronis (GGK). Banyak pasien tidak mengetahui pentingnya pemantauan cairan berkala dan enggan membatasi cairan yang dikonsumsi. Tujuan penelitian: Untuk mengujicobakan edukasi pemantauan cairan berbasis bukti pada pasien GGK dengan anuria 8 tahun. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dalam mengimplementasikan edukasi pemantauan cairan.Keluhan utama pasien: Ny. S sering melaporkan kenaikan berat badan > 4 kg prehemodialisis, terdapat asites, dan edema perifer. Tidak dilaporkan adanya sesak napas, tetapi pasien sering lelah dan pusing. Diberikan edukasi pemantauan cairan, penggunaan buku monitoring cairan, dan pendampingan selama 10 hari. Pasien didorong menuliskan hasil asupan dan haluaran harian. Hasil: Setelah pemberian intervensi, terjadi penurunan kenaikan berat badan prehemodialisis (6,7 kg menjadi 4 kg), ultrafiltration rate (4.500 ml menjadi 2.800 ml), Kt/v (2,08 menjadi 1,46), dan QB (230 menjadi 150). Kesimpulan: Edukasi pemantauan cairan berbasis bukti mampu membantu menurunkan kenaikan berat badan sebelum hemodialisis dan jumlah volume tarikan saat dialisis. Dengan demikian, penting bagi pasien untuk mendapatkan edukasi dan intervensi yang tepat dari tenaga kesehatan, khususnya perawat selama menjalani hemodialisis.Kata kunci: anuria, asupan cairan, gagal ginjal kronis, ketidakpatuhan, pemantauan cairan Fluid Monitoring Education in Patient with Chronic Kidney Disease Suffering from 8-Year Anuria: A Case Study ABSTRACTFluid restriction is crucial for patients with chronic kidney disease (CKD). Lots of patients are unaware of the importance of regular fluid monitoring and reluctant to restrict the fluid intake. Objective: To pilot an evidence-based fluid monitoring education in patients with CKD suffering from 8-year anuria. This research applied a case study design to implement the fluid monitoring education. Patient's chief complaint: Mrs. S regularly reported > 4 kg weight gain at pre-hemodialysis; experienced ascites and peripheral edema. No shortness of breath was reported, but the patient complained fatigue and dizzy. The patient received education on fluid monitoring, using fluid monitoring book, and assistance for 10 days. In her daily basis, patient was encouraged to record the amount of intake and output results. Results: After the intervention, there was a decrease in pre-hemodialysis weight gain (from 6,7 kg to 4 kg), ultrafiltration rate (from 4.500 ml to 2.800 ml), Kt/v (from 2.08 to 1.46), and QB (from 230 to 150). Conclusion: Evidence-based fluid monitoring education can assist to reduce pre-hemodialysis weight gain and the ultrafiltration rate during dialysis. Therefore, patients with CKD facing from 8-year anuria need to receive proper education and intervention from healthcare workers, especially nurses, while undergoing hemodialysis.Keywords: anuria, fluid intake, chronic kidney disease, non-adherence, fluid monitoring
Penggunaan Honey Dressing dan Povidone Iodine untuk Ulkus Kaki Diabetes: Systematic Review Cicirosnita Jayadi Idu; Josepha Mariana Tamaela; Anggi Lukman Wicaksana
Jurnal Kesehatan Vol. 15 No. 1 (2022): Jurnal Kesehatan
Publisher : UPPM Poltekkes Kemenkes Ternate

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32763/bjh6m485

Abstract

Latar Belakang: Dengan semakin meningkatnya penderita ulkus kaki diabetes, dan jenis luka yangkronis dan membutuhkan waktu yang lama untuk penyembuhan maka semakin banyak inovasi untukmempercepat penyambuhan luka. Salah satunya dengan pengunaan balutan yang digunakan denganberbagai jenis mulai dari konvensional hingga modern. Tujuan: Tinjauan ini ditujukan ntuk mengetahuiefektifitas pengunaan honey dressing dibandingkan povidone iodine pada ulkus kaki diabetes. Metode:Tinjauan sistematis digunakan sebagai metode dalam laporan ini. Artikel diperoleh dari PubMed, GoogleScholar Sciencedirect, dan EBSCO dengan kata kunci pencarian:“Diabetic foot ulcer”, “Honeydressing”, “Povidone iodine dressing”, dan “wound healing” dari jurnal yang terbit sejak 20 tahunterkahir. Selanjutnya dianalisis menggunakan analisis konten. Hasil: Dalam pengobatan ulkus kakidiabetes terdapat berbagai balutan yang bertujuan untuk pengobatan ulkus kaki namun hingga saat inibelum ada satu dressing yang tepat untuk mempercepat penyembuhan dan selalu dikembangkan. Hasildari analisis ini menjelaskan bahwa honey dressing memiliki manfaat lebih baik dibandingkanpenggunaan povidone iodine. Manfaat tersebut yaitu berpangaruh pada total penyembuhan luka,mempercepat waktu penyembuhan luka, dan ukuran luka. Kesimpulan: Upaya untuk mempercepatpenyembuhan ulkus kaki diabetes dengan mengunakan honey dressing telah menujukan manfaat yangdiharapkan sehingga hal ini dapat menjadi alternative dressing dalam pemilihan perawatan ulkus kakidiabetes.