Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hak Asasi Manusia dalam Perspektif Pendidikan Kewarganegaraan: Penguatan Kesadaran Demokrasi, Toleransi, dan Tanggung Jawab Warga Negara Muhammad Alwie; Dwi Wiji Astuti; Abdul Mutholib; Muhamad Subkhan
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.12780

Abstract

Arus globalisasi yang semakin pesat, didukung perkembangan teknologi digital, telah mengubah cara generasi muda memperoleh pengetahuan, belajar, serta berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Generasi Z yang tumbuh di tengah kemajuan teknologi memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perkembangan informasi, teknologi, dan budaya. Namun, kemudahan akses tersebut juga menghadirkan tantangan, seperti penyebaran hoaks, rendahnya literasi digital, serta memudarnya rasa nasionalisme di kalangan generasi Z sebagai penerus bangsa. Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) sebagai garda terdepan perlu bertransformasi untuk menjawab tantangan tersebut. PKn tidak hanya berperan menanamkan nilai-nilai kebangsaan, tetapi juga membentuk warga negara yang memiliki wawasan global serta mampu berinteraksi secara bertanggung jawab tanpa kehilangan jati diri bangsa. Penelitian ini bertujuan mengkaji peran Pendidikan Kewarganegaraan dalam membangun wawasan global warga negara muda di era Generasi Z. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research) melalui telaah berbagai buku, artikel ilmiah, dan dokumen kebijakan yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan berkontribusi strategis dalam membentuk kompetensi global peserta didik melalui penguatan karakter Pancasila, literasi digital, kemampuan berpikir kritis, penghormatan terhadap keberagaman, serta kesadaran akan hak dan tanggung jawab sebagai warga negara. Oleh karena itu, pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan perlu dikembangkan secara inovatif, kontekstual, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi untuk menghasilkan generasi muda yang berdaya saing global tanpa kehilangan identitas kebangsaannya.
Harmonisasi Adaptasi Sistem Teknologi di Tengah Modernisasi Eksistensi Masyarakat Adat AKUR Pasir Garut Sri Rumiati; Dwi Wiji Astuti; Iin Indarwati; Maylisa Pujiana
El-Mujtama: Jurnal Pengabdian Masyarakat  Vol. 6 No. 5 (2026): El-Mujtama: Jurnal Pengabdian Masyarakat 
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/elmujtama.v6i5.13321

Abstract

The Akur Indigenous Community of Kampung Pasir, Cinta Karya Village, Samarang District, Garut Regency, is a group that consistently preserves ancestral knowledge systems and traditional technologies, deeply rooted in Sunda Wiwitan teachings and having strong cultural ties with the Cigugur tradition in Kuningan. This study aims to describe, analyze, and reveal the educational meanings of the technological systems developed by the local community, including the use of the Cigugur variant of Sundanese script as a medium for preserving identity and transmitting cultural values, Bale traditional house construction technology based on environmental wisdom, the architectural system and function of rice barns as food security infrastructure and spiritual symbols, as well as sustainable agricultural practices aligned with ecosystem dynamics. This research employs a descriptive qualitative approach with a case study method, collecting data through literature review, participatory observation, and in-depth interviews with customary leaders, cultural custodians, and local residents. The findings indicate that every technological element serves not only practical daily needs but is also integrated with value systems, character education, and social structures that maintain balance between humans, nature, fellow beings, and ancestors. These results confirm that indigenous traditional technology is a rich learning resource, relevant for strengthening culture-based education, and serves as an intelligent adaptation model in addressing sustainable development challenges amid modernization.