Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perspektif Antropologi Kesehatan: Pengobatan Tradisonal Cacat Air Pada Anak Di Minanga Kabupaten Tana Toraja Marida Tiana; Ambia Nurdin; Ully Fitria; Reza Kurnia
Public Health Journal Vol. 1 No. 2 (2024): Spesial Isuee
Publisher : Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/4e80jt48

Abstract

Masyarakat Toraja khususnya di Minanga masih sangat percaya dengan pengobatan tradisional yang diyakininya sebagai alternatif penyembuhan penyakit yang tidak bisa disembuhkan dengan pengobatan medis saja. Salah satu penyakit yang sering menyerang anak-anak di Minanga, Kecamatan Bungtu Tanti, adalah cacar air ataupuru. Cacar air adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyerang antibodi, terutama untuk anak-anak. Penyakit ini sangat menular, pandemik dan musiman. Cara penularannya berupa kontak langsung dengan penderita melalui droplet hidung, atau cairan dalam vesikel sehingga mudah menyerang anak-anak yang daya tahan tubuhnya masih belum kuat. Agar para orang tua memiliki pengetahuan yang ia rekontruksi menjadi sebuah tindakan untuk mencegah anaknya terkena cacar air sedini mungkin dan bahkan jika sudah terkena dapat segera mengobatinya dengan memanfaatkan bahan alam yang ada disekitarnya. Melalui penelitian ini, penulis bermaksud untuk mengkaji pengetahuan pengobatan tradisional dalam perspektif Antropologi Kesehatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, observasi dan wawancara mendalam melalui pemahaman holistik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari perspektif Antropologi Kesehatan, ditemukan bagaimana masyarakat Minanga memiliki pemahaman tentang pengobatan tradisional lokal terkait dengan perilaku manusia yang memiliki pengetahuan budaya terkait penyakit, serta cara pengobatan penyakit dan cara pengobatannya. untuk melindungi kesehatan keluarga dari infeksi cacar air.
Evaluasi Program Makanan Bergizi Gratis di Kecamatan Pasie Raja Aceh Selatan Kiki Asrifa Dinen; Aulia Zahrima; Mukhlisin Mukhlisin; Nurul Afrida; Deri Rahmat Akram; Nirwanna Nirwanna; Najma farha; Alviya Lisma Dewi; Dini Arminarthi; Riska Yuniarma; Raihatul Husna; Marida Tiana; Nurul Hijjah; Fera Julita; Isma Warni; Hasmatul Jannah; Mudatul izza
JURNAL ILMIAH KESEHATAN MASYARAKAT DAN SOSIAL Vol. 4 No. 1 (2026): JURNAL ILMIAH KESEHATAN MASYARAKAT DAN SOSIAL
Publisher : CV. ALIM'SPUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59024/jikas.v4i1.2505

Abstract

The Free Nutritious Meal Program (MBG) is one of the government's strategic initiatives aimed at improving the nutritional status of students, supporting the quality of education, and reducing the risk of malnutrition among school-aged children. This study aims to evaluate the implementation of the Free Nutritious Meal Program in Pasie Raja District, South Aceh Regency, by assessing the program's effectiveness, target accuracy, service quality, and the supporting and inhibiting factors affecting its implementation. The study employed a qualitative approach using an evaluative research method. Data were collected through observations, interviews with school personnel, meal providers, and relevant government agencies, as well as document analysis. The data were analyzed through the processes of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that the Free Nutritious Meal Program has provided positive benefits by improving students' access to nutritious meals and supporting their concentration during learning activities. However, several challenges remain, including delays in food distribution, limited menu variety, and suboptimal monitoring of food quality. Therefore, stronger inter-agency coordination, enhanced monitoring and evaluation systems, and improvements in distribution mechanisms are necessary to ensure the program is implemented more effectively, efficiently, and sustainably. The findings of this study are expected to provide valuable input for local governments and other stakeholders in improving the implementation of the Free Nutritious Meal Program.