Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Self-Disclosure Pengurus Kopri Pada Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kota Kendari Siti Risma Ningsih; Syahruddin Syahruddin; La Ode M. Nasir
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 2 (2026): April - Juni
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i2.1101

Abstract

Keterbukaan diri merupakan salah satu unsur penting dalam membangun komunikasi yang efektif di dalam organisasi. Rendahnya keterbukaan diri dapat menghambat terbentuknya kepercayaan, kedekatan emosional, serta kerja sama antaranggota organisasi. Fenomena tersebut terlihat pada pengurus Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri Cabang Kota Kendari yang cenderung lebih terbuka dalam membahas urusan organisasi dibandingkan persoalan pribadi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterbukaan diri pengurus Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri Cabang Kota Kendari serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keterbukaan diri tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teori Jendela Johari sebagai landasan analisis. Informan penelitian dipilih secara bertahap berdasarkan kebutuhan data. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Data dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data diperiksa menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterbukaan diri pengurus lebih dominan pada aspek yang berkaitan dengan aktivitas organisasi, seperti koordinasi program kerja, pelaksanaan kegiatan, dan komunikasi antarpengurus. Sebaliknya, persoalan yang bersifat pribadi masih cenderung disimpan karena adanya pertimbangan citra diri, rasa sungkan, dan kekhawatiran terhadap penilaian orang lain. Faktor yang memengaruhi keterbukaan diri terdiri atas faktor internal berupa kepercayaan diri, harga diri, dan karakter kepribadian, serta faktor eksternal berupa tingkat kepercayaan, dukungan emosional, dan suasana komunikasi organisasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keterbukaan diri pengurus belum berlangsung secara menyeluruh dan masih dipengaruhi oleh faktor individu maupun lingkungan organisasi.
Konstruksi Pesan Adat Kalosara Dalam Penyelesaian Konflik Sosial Di Desa Tetenggabo Kecamatan Sabulakoa Kabupaten Konawe Selatan Wahyuning Wahyuning; Syahruddin Syahruddin; Paramitha Purwita Sari
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.1745

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peran adat Kalosara sebagai media komunikasi budaya dalam menyelesaikan konflik sosial di masyarakat Tolaki, khususnya di Desa Tetenggabo, Kecamatan Sabulakoa, Kabupaten Konawe Selatan. Meskipun penyelesaian konflik melalui jalur hukum formal semakin berkembang, masyarakat setempat masih mempertahankan Kalosara sebagai simbol perdamaian yang mengandung nilai persatuan, penghormatan, tanggung jawab, dan musyawarah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konstruksi pesan adat Kalosara dalam penyelesaian konflik sosial serta menjelaskan makna yang terbentuk melalui proses komunikasi antara tokoh adat dan masyarakat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi yang melibatkan tokoh adat, pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan warga yang pernah mengikuti proses penyelesaian konflik menggunakan Kalosara. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi pesan adat Kalosara dibangun melalui komunikasi simbolik yang menanamkan nilai perdamaian, keadilan, penghormatan, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial. Pesan-pesan tersebut diterima sebagai pedoman dalam memulihkan hubungan antarpihak yang berkonflik sekaligus memperkuat solidaritas masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Kalosara tidak hanya berfungsi sebagai simbol adat, tetapi juga sebagai media komunikasi budaya yang efektif dalam menciptakan penyelesaian konflik secara damai serta menjaga kelestarian nilai-nilai budaya masyarakat Tolaki di tengah perubahan sosial.