Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kajian Stilistika Puisi “Kelinci” Karya Bening Tirtasari: Citraan, Diksi, dan Nilai Karakter Anak Isropiani Isropiani; Baiq Silvia Zahra Tuhry; Riza Mulia Junita; Aula Akbar; Hilmiyatun Hilmiyatun
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.1645

Abstract

Penelitian ini berakar dari signifikansi puisi untuk anak sebagai alat pembelajaran bahasa dan sebagai media awal untuk menanamkan nilai-nilai karakter. Puisi anak yang ringkas, relevan dengan pengalaman sehari-hari, dan mudah dicerna sangat berpotensi untuk membentuk rasa kasih, kepedulian, serta sensitivitas anak terhadap makhluk hidup di sekelilingnya. Namun, pemahaman mengenai aspek stilistika dalam puisi anak masih membutuhkan pengembangan, khususnya pada puisi Kelinci karya Bening Tirtasari yang menonjolkan keindahan bahasa secara sederhana. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan diksi, citraan, dan nilai-nilai karakter yang terdapat dalam puisi tersebut. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan stilistika. Data penelitian diambil dari teks puisi Kelinci oleh Bening Tirtasari, sedangkan sumber data berasal dari dokumen puisi anak yang memuat teks tersebut. Teknik pengumpulan datanya dilakukan melalui studi pustaka dan pemahaman-catatan, sementara teknik analisis datanya menggunakan analisis isi melalui langkah-langkah identifikasi, klasifikasi, interpretasi, dan menarik kesimpulan. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa puisi Kelinci mengandung diksi yang sederhana, konkret, dan komunikatif sehingga mudah diterima anak. Puisi ini juga memanfaatkan citraan visual, taktil, dan gerakan yang kuat untuk memberikan kesan lucu, lembut, dan menggemaskan pada karakter kelinci. Secara keseluruhan, puisi ini mengangkut nilai karakter seperti kasih sayang, kepedulian, tanggung jawab, dan keinginan untuk merawat hewan peliharaan dengan sepenuh hati. Dengan demikian, puisi Kelinci karya Bening Tirtasari sangat layak menjadi objek kajian sastra anak karena selain memiliki keindahan bahasa, juga menawarkan pendidikan moral yang sesuai untuk dijadikan bahan ajar di tingkat sekolah dasar.
Bahasa Kias Sebagai Etika: Telaah Majas Dan Nilai Sosial Dalam Puisi Hujan Bulan Juni Isropiani Isropiani; Aenani Tajrian; Paisal Tami; M Azizaturrahman; Herman Wijaya
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.1781

Abstract

Puisi Hujan Bulan Juni yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono, seorang sastrawan terkemuka Indonesia, menunjukkan penggunaan bahasa yang sederhana namun kaya akan makna filosofis dan nilai sosial. Studi ini bertujuan untuk membedah peran majas, yang berfungsi sebagai bahasa kias, bukan hanya sebagai hiasan, tetapi juga sebagai penyampai nilai moral dengan pendekatan stilistika dan analisis kualitatif deskriptif pada teks puisi secara keseluruhan. Sumber data utama berasal dari puisi tersebut, dengan perhatian khusus pada elemen linguistik yang penting. Temuan analisis menunjukkan bahwa personifikasi "hujan yang tabah" menggambarkan etika ketahanan dan pengendalian diri saat menghadapi ketidakpastian; metafora "jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu" merepresentasikan sikap santun dalam mempertimbangkan perasaan dan hak privasstilistiki orang lain; struktur paralel "Tak ada yang lebih sabar / Dari pada hujan. . . " menekankan kekokohan prinsip moral dalam masyarakat; sementara interaksi harmoni antara hujan, jalan, dan pohon memberikan gambaran tentang toleransi dan hidup secara berdampingan dengan damai. Kata kerja aktif seperti menghapus, membiarkan, dan menyerap menekankan etika tindakan yang bijaksana, arif, dan penuh empati. Secara keseluruhan, majas dalam puisi ini berfungsi sebagai alat etika yang paling tinggi: kebijaksanaan dalam keheningan dan ketabahan dalam menahan diri, yang relevan sebagai cermin norma perilaku masyarakat modern. Penelitian ini menggarisbawahi peran sastra sebagai pelatih etika masa kini.
Upaya Pelestarian Kesenian Cupak Gerantang di Sembalun Bumbung Lombok Timur Elvin Febrina; Ela Cahyani; Isropiani Isropiani; Baiq Azmira Antika Husna; Baiq Silvia Zahra Tuhry; Ashwan Kailani
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.1782

Abstract

Kesenian Cupak Gerantang yang ada di Desa Sembalun Bumbung, Kabupaten Lombok Timur, merupakan salah satu warisan budaya dari komunitas Sasak yang menggabungkan elemen musik, tarian, teater, dan karya sastra lisan dalam sebuah sajian tradisional. Kesenian ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai saluran untuk menyampaikan nilai moral, pendidikan, dan identitas budaya dari masyarakat setempat. Dengan adanya perubahan modernisasi dan transformasi sosial-ekonomi, keberlanjutan praktik serta kontinuitas regenerasi kesenian ini mengalami penurunan disebabkan oleh menurunnya ketertarikan generasi muda, terbatasnya dukungan dari lembaga, kurangnya dana, serta pengaruh budaya modern yang semakin kuat. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya upaya pelestarian yang melibatkan berbagai pihak agar keberadaan kesenian ini tetap terjaga sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Sasak. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan keadaan saat ini dari seni Cupak Gerantang, mengidentifikasi beragam tantangan yang dihadapi dalam usaha pelestariannya, serta menganalisis berbagai bentuk penguatan masyarakat yang diimplementasikan untuk memastikan keberlanjutan seni tersebut. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam kepada praktisi seni, tokoh masyarakat, dan pihak yang relevan, observasi langsung terhadap aktivitas latihan dan pertunjukan, serta kajian dokumentasi pada berbagai sumber yang mendukung. Hasil studi menunjukkan bahwa untuk melestarikan Cupak Gerantang, dibutuhkan pendekatan menyeluruh dengan meningkatkan kemampuan para pelaku seni, menyusun program untuk regenerasi generasi muda, memajukan sanggar seni, mengintegrasikan seni dalam pendidikan berbasis budaya lokal serta pariwisata budaya, dan menyediakan dukungan pendanaan yang berkelanjutan dari pemerintah dan berbagai pihak terkait. Selain itu, penggunaan media digital untuk mendokumentasikan, mempromosikan, dan menyebarluaskan informasi mengenai Cupak Gerantang merupakan langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya di tengah kemajuan zaman.