Irwan Budiono
Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Faktor Risiko Kejadian Underweight Pada Anak Usia 6-59 Bulan: Studi Case-Control di Puskesmas Lebdosari Hanna Damai Yolanda; Irwan Budiono
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v6i1.45671

Abstract

Belakang: Underweight pada balita usia 6–59 bulan masih menjadi masalah gizi yang signifikan karena dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Berbagai faktor seperti asupan zat gizi, penyakit infeksi, berat badan lahir, praktik pemberian makan, serta kondisi sosial ekonomi diduga berkontribusi terhadap kejadian tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian underweight pada balita usia 6–59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Lebdosari Kota Semarang. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional case-control. Sampel penelitian berjumlah 96 responden yang memiliki balita usia 6–59 bulan yang dibagi menjadi kelompok kasus dan kontrol menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui pengukuran antropometri, wawancara dengan kuesioner terstruktur, serta data sekunder dari buku KIA. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, serta multivariat menggunakan regresi logistik untuk mengetahui faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian underweight pada balita. Hasil: Asupan energi (p=0,000), asupan protein (p=0,000), asupan lemak (p=0,000), asupan karbohidrat (p=0,000), riwayat penyakit infeksi (p=0,009), BBLR (p=0,007), riwayat ASI eksklusif (p=0,031), pendidikan ibu (p=0,049), pendapatan keluarga (p=0,042), kebiasaan makan utama (p=0,043), kebiasaan selingan (p=0,000), jumlah anggota keluarga (p=0,029), dan status sosial ekonomi (p=0,043) berhubungan signifikan dengan kejadian underweight. Analisis multivariat menunjukkan bahwa BBLR merupakan variabel bebas paling dominan (OR=11,213; 95% CI: 2,458–51,162), sedangkan penimbangan berat badan merupakan variabel perancu paling dominan (OR=12,659; 95% CI: 1,881–85,184). Kesimpulan: Kejadian underweight pada balita dipengaruhi oleh faktor asupan gizi, riwayat penyakit infeksi, berat badan lahir, praktik pemberian makan, serta kondisi sosial ekonomi keluarga. Riwayat BBLR dan penimbangan berat badan merupakan faktor paling dominan yang meningkatkan risiko underweight pada balita usia 6–59 bulan di wilayah penelitian.
Faktor yang Berhubungan dengan self-care pada Lansia Hipertensi Berdasarkan Teori Health Belief Model Jamila; Bertakalswa Hermawati; Irwan Budiono
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v6i1.48767

Abstract

Latar Belakang: Perilaku perawatan diri (self-care) pada lansia penderita hipertensi masih tergolong rendah, terutama pada kelompok yang tinggal di panti sosial. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan konstruk Health Belief Model  (HBM) dengan perilaku self-care pada lansia hipertensi di Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia (RPSLU) Pucang Gading Semarang. Metode: Penelitian kuantitatif observasional analitik dengan desain cross-sectional melibatkan 32 responden yang dipilih melalui purposive sampling dari populasi 47 lansia hipertensi. Variabel independen adalah konstruk HBM (persepsi kerentanan, persepsi keseriusan, persepsi manfaat, persepsi hambatan, efikasi diri, dan isyarat untuk bertindak), sedangkan variabel dependen adalah perilaku self-care pada lansia hipertensi. Data dikumpulkan menggunakan H-SCALE dan kuesioner kemudian dianalisis dengan uji Chi-Square (α=0,05). Hasil: Sebanyak 62,5% responden memiliki perilaku  self-care yang rendah. Seluruh enam konstruk HBM berhubungan secara signifikan dengan self-care: persepsi kerentanan (p=0,002; PR=3,11), persepsi keseriusan (p=0,003; PR=2,64), persepsi manfaat (p=0,006; PR=2,38), persepsi hambatan (p=0,011; PR=2,33), efikasi diri (p=0,001; PR=3,0), dan isyarat untuk bertindak (p=0,001; PR=3,87). Kesimpulan: Seluruh konstruk HBM berhubungan signifikan dengan perilaku self-care pada lansia hipertensi. Temuan ini mendukung pengembangan intervensi berbasis HBM yang mencakup edukasi kesehatan, penguatan efikasi diri, dan pemberian stimulus perilaku sehat yang berkelanjutan di panti wreda untuk meningkatkan self-care pada lansia hipertensi di lingkungan panti sosial.
Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 24-59 Bulan diPuskesmas Kayumas Afi Elsha Veryana; Irwan Budiono
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v6i1.50258

Abstract

Latar Belakang: Stunting adalah masalah gizi kronis yang ditandai dengan tinggi badan anak kurang dari anak seusianya. Sejak 3 tahun terakhir, kasus stunting di wilayah kerja Puskesmas Kayumas mengalami peningkatan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Kayumas. Metode: Penelitian ini menerapkan desain case-control study, dengan jumlah sampel sebanyak 50 kasus dan 50 kontrol. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Variabel independen meliputi berat badan lahir, panjang badan lahir, riwayat penyakit infeksi, ketahanan pangan rumah tangga, dan pola pemberian makan yang dikumpulkan melalui kuesioner. Sementara itu, tinggi badan balita diperoleh melalui pengukuran antropometri. Data dianalisis menggunakan uji chi-square dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05). Hasil: Tidak ada hubungan signifikan antara berat badan lahir (p-value = 0,387), panjang badan lahir (p-value = 0,070), riwayat penyakit infeksi (p-value = 0,659), dan ketahanan pangan rumah tangga (p-value = 0,610) dengan kejadian stutning. Sebaliknya, terdapat hubungan signifikan antara pola pemberian makan dengan kejadian stunting (p-value = 0,001). Kesimpulan: Faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting adalah pola pemberian makan. Peran ibu sangat penting dalam menerapkan pola pemberian makan yang baik agar pertumbuhan dan perkembangan balita dapat berlangsung optimal serta mencegah terjadinya stunting.