Film tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai teks budaya yang merepresentasikan, menegosiasikan, dan mengonstruksi realitas sosial, termasuk pemaknaan mengenai maskulinitas. Film A Man Called Otto (2022) menggambarkan Otto Anderson sebagai tokoh yang pada awalnya merepresentasikan karakter maskulinitas tradisional melalui pengekangan emosi, kompetensi teknis, dominasi teritorial, dan kemandirian ekstrem, tetapi secara bertahap menunjukkan kerentanan emosional serta keterikatan sosial. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi makna denotasi, menganalisis makna konotasi, dan membongkar mitos maskulinitas yang direpresentasikan melalui karakter Otto, sekaligus menentukan apakah film tersebut melanggengkan atau mendekonstruksi maskulinitas tradisional. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan paradigma interpretif dan analisis semiotika Roland Barthes. Data primer berupa tanda visual dan verbal dalam film yang dikumpulkan melalui observasi nonpartisipan secara berulang, close viewing, dokumentasi, tangkapan layar, dan pencatatan dialog. Enam adegan kunci dipilih secara purposif dan dianalisis berdasarkan denotasi, konotasi, dan mitos, serta diperkuat melalui triangulasi teori. Hasil penelitian menunjukkan adanya transformasi yang konsisten dari maskulinitas hegemonik yang ditandai stoisisme, agresi teritorial, kompetensi teknis, dan kemandirian berlebihan menuju maskulinitas positif yang diwujudkan melalui interdependensi, caring masculinities, penerimaan kerentanan emosional, dan redefinisi peran provider. Film ini terutama mendekonstruksi mitos bahwa laki-laki harus menekan kesedihan, menolak bantuan, menjaga jarak emosional, dan menunjukkan kekuatan melalui dominasi. Penelitian menyimpulkan bahwa A Man Called Otto mendekonstruksi maskulinitas patriarkal dengan menempatkan keterbukaan emosional, kepedulian, hubungan sosial, serta tanggung jawab berbasis kasih sayang sebagai bentuk kekuatan maskulin, bukan kelemahan.