Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENERAPAN KESELAMATAN PASIEN PADA PERAWAT RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT HARAPAN SEHATI TAHUN 2025 Fitri Handayani; Ahmad Pin Maulana; Novy Emnawati
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 4 (2026): August 2026 (1)
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i4.6967

Abstract

Keselamatan pasien merupakan isu global dan prioritas utama dalam pelayanan rumah sakit untuk meningkatkan mutu serta citra institusi. Insiden keselamatan pasien yang masih terjadi di Rumah Sakit Harapan Sehati menunjukkan perlunya identifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan penerapan keselamatan pasien oleh perawat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara karakteristik perawat (usia, jenis kelamin, pendidikan, lama kerja, dan pelatihan) dengan penerapan sasaran keselamatan pasien pada perawat rawat inap. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh perawat pelaksana di lima ruang rawat inap Rumah Sakit Harapan Sehati yang berjumlah 43 orang, dengan teknik pengambilan sampel total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji chi-square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas perawat berusia 22–30 tahun (81,4%), berjenis kelamin perempuan (88,4%), berpendidikan D-III (81,4%), dan memiliki masa kerja 1–5 tahun (48,8%). Penerapan keselamatan pasien oleh perawat mayoritas berada pada kategori baik (48,8%). Hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara penerapan keselamatan pasien dengan usia (p=0,009), jenis kelamin (p=0,006), pendidikan (p=0,006), lama kerja (p=0,014), dan pelatihan (p=0,001). Dapat disimpulkan bahwa karakteristik perawat berhubungan secara signifikan dengan penerapan sasaran keselamatan pasien. Rumah sakit disarankan untuk meningkatkan program pelatihan keselamatan pasien secara berkala bagi seluruh perawat, khususnya perawat dengan masa kerja dan usia yang lebih muda.
Hubungan Pemberian Asi Eksklusif Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Di Wilayah Pmb Bidan R Kabupaten Sukabumi Tahun 2026 Erma Herdyana; Betristasia Puspitasari; Zakia Hary Nisa; Widi Sagita; Fitri Handayani; Alda Agriyanti
Indonesian Journal of Innovation Science and Knowledge Vol. 3 No. 4 (2026): IJISK 2026
Publisher : Fakultas Pendidikan Ilmu Keguruan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/ijisk.v3i4.559

Abstract

Stunting merupakan masalah gizi kronis pada balita akibat kekurangan gizi dalam jangka waktu lama, terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Salah satu faktor penting pencegahan stunting adalah pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan. Prevalensi stunting yang masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat memerlukan penanganan serius melalui intervensi gizi spesifik. Penelitan ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada balita usia 6-12 bulan di wilayah Praktik Mandiri Bidan (PMB) Bidan R Kabupaten Sukabumi Tahun 2026. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain cross-sectional study. Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki balita usia 6-12 bulan di wilayah PMB Bidan R sebanyak 75 orang. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik simple random sampling dengan rumus Slovin sehingga diperoleh 63 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan pengukuran tinggi/panjang badan balita. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji statistik Chi-Square (lpha = 0,05). Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa mayoritas ibu memberikan ASI eksklusif yaitu sebanyak 46 responden (73,0%), dan sebagian besar balita memiliki pertumbuhan yang baik/tidak stunting yaitu sebanyak 47 balita (74,6%). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa pada kelompok ASI eksklusif, sebagian besar balita tumbuh baik (87,0%) dan hanya 13,0% yang stunting. Sebaliknya, pada kelompok tidak ASI eksklusif, mayoritas balita mengalami stunting (59,0%). Uji statistik Chi-Square menghasilkan nilai pvalue < 0,001 (p < 0,05). Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada balita di wilayah PMB Bidan R Kabupaten Sukabumi. Diharapkan fasilitas kesehatan dan tenaga bidan terus meningkatkan edukasi serta pendampingan pemberian ASI eksklusif guna menekan angka kejadian stunting.