Tuberkulosis (TBC) masih menjadi masalah kesehatan global dengan beban tinggi di Indonesia, sementara cakupan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) pada kontak serumah masih rendah. Keberhasilan TPT dipengaruhi berbagai faktor, terutama faktor lingkungan. Rendahnya penerimaan TPT di Puskesmas se-Kota Metro menunjukkan perlunya penelitian mengenai determinan penerimaan TPT sebagai dasar penyusunan strategi pengendalian TBC yang lebih efektif.. Penelitian ini bertujuan faktor environment sebagai determinan penerimaan terapi pencegahan Tuberkulosis pada kontak serumah pasien TBC di Puskesmas se-Kota Metro Tahun 2026. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh kontak serumah pasien Tuberkulosis (TBC) di wilayah kerja Puskesmas Se-Kota Metro sebanyak 242 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 46,7% responden menerima Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT). Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara dukungan keluarga (p<0,001; OR=3,995), stigma sosial (p=0,004; OR=3,107), peran tenaga kesehatan (p=0,032; OR=2,333), waktu pelayanan (p<0,001; OR=4,167), dan jarak tempat pelayanan kesehatan (p=0,001; OR=3,686) dengan penerimaan TPT. Analisis regresi logistik menyatakan bahwa stigma sosial, peran tenaga kesehatan, dan waktu pelayanan berhubungan signifikan dengan penerimaan TPT, dengan peran tenaga kesehatan sebagai faktor paling dominan (OR=3,483; 95% CI=1,358–8,929; p=0,009). Disarankan kepada Dinas Kesehatan dan UPTD Puskesmas se-Kota Metro untuk memperkuat edukasi dan konseling, serta meningkatkan kualitas pelayanan TPT untuk mengurangi stigma dan meningkatkan penerimaan TPT pada kontak serumah pasien tuberkulosis.