Ade Nur Rizal Lul Huda
Universitas Muhammadiyah Surakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pancasila dan Piagam Madinah: Relevansi dan Implementasinya dalam Pembentukan Etika Berbangsa dan Bernegara Rio Pradita Wibowo; Berliana Anggita Putri; Sandya Mahendra; Ade Nur Rizal Lul Huda
Prosiding Seminar Nasional Program Doktor Ilmu Hukum 2023: Prosiding Seminar Nasional Program Doktor Ilmu Hukum
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Piagam Madinah, yang merupakan perjanjian luhur (high agreement) untuk mengabadikan negara Madinah, adalah konstitusi tertulis pertama yang pernah dibuat. Piagam Madinah berisi gagasan-gagasan dari budaya dunia kontemporer yang prinsip-prinsipnya dapat diterapkan pada etika nasional dan pemerintahan. Berbeda dengan pengertian rechtsstaat, atau negara hukum, yang bersumber dari gagasan dan pandangan hidup bangsa Indonesia, khususnya negara hukum Pancasila, negara Indonesia lebih sesuai dengan pengertian negara hukum baru. Teknik penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif, kadang dikenal dengan istilah “penelitian hukum”. Ciri-ciri Hukum Pancasila Negara menggunakan sumber hukum primer, sekunder, dan tersier. Analisis kualitatif merupakan teknik yang digunakan untuk analisis data. Menurut temuannya, negara hukum Indonesia adalah negara hukum Pancasila dengan kekeluargaan yang menjunjung tinggi kepastian dan keadilan, bangsa yang religius, adanya kerjasama hukum sebagai sarana untuk mengubah masyarakat dan hukum, serta dasar pembuatan dan pembentukan hukum berdasarkan asas-asas hukum yang netral dan universal. Penggunaan Piagam Madinah dan Pancasila, sangat diperlukan dalam penerapan aturan etika dalam berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai persatuan dan kesatuan haruslah mendasar dalam tatanan Negara Indonesia supaya melahirkan etika berbangsa dan bernegara yang baik untuk masyarakat Indonesia.
Potential for Legalization of Marijuana According to Islamic Law in The Study of The Rules of Fathu Dzariah wa Saddu Dzariah Ade Nur Rizal Lul Huda; M. Junaidi; Indah Maulani
Proceeding International Conference Restructuring and Transforming Law Vol. 2 No. 2 (2023): Proceeding International Conference Restructuring and Transforming Law
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Determining the illegalization of marijuana in Indonesia always reaps many pros and cons in society. Law Number 35 of 2009 concerning Narcotics is the main basis for prohibiting marijuana plants for medical purposes, even though some treatments require the Thetrahydrocannabinol or THC-9 content of marijuana plants. Various attempts to release marijuana from Category I narcotics have occurred many times, both through literature from the marijuana research community, and even PUU before the Constitutional Court. The Ministry of Health has repeatedly issued regulations regarding the classification of Narcotics, but Marijuana is still in Class I Narcotics. In Islamic law, Marijuana is legal in jurisprudence in qiyas by several fiqh scholars with Khamr because it has similarities in the consequences of its use, namely loss of mind, even though The origin and substances contained are different. But there are several scholars who do not agree with this qiyas, this is based on Khamr which has no benefits at all while Ganja still has benefits in it, moreover, no Nash clearly mentions the prohibition of Marijuana in Islam. This research was conducted using the Normative Juridical research method, so this research will focus on the legislative approach, conceptual approach, approach to Islamic law and analysis of the rules of Usul Fiqh. The final aim is to state whether marijuana is worthy of being legalized in Indonesia in the study of the fiqh proposals of Fathu Dzariah and Saddu Dzariah's rules.