Putri Puspita Ulya
Universitas Muhammadiyah Surakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengembangan Formula Enteral Blenderized Tinggi Branched Chain Amino Acids (BCAA) Berbahan Labu Kuning, Daging Ayam, Putih Telur Kharisma Diva Arrahmah Casta Dienningrum; Ida Rohmawati; Puput Fitria Erli Ningtyas; Alfi Mifthahul Nikmah; Putri Puspita Ulya; Farida Nur Isnaeni; Fitriana Mustikaningrum
Proceeding Seminar on Food and Dietetic 2025: Proceeding Seminar on Food and Dietetic
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Penyakit sirosis hati berisiko tinggi menyebabkan malnutrisi pada pasien yang dapat meningkatkan kejadian komplikasi dan kematian. Makanan enteral blenderized dapat menjadi alternatif terapi diet penderita sirosis hati karena mudah dicerna dan kandungan gizinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kandungan gizi, viskositas, osmolalitas, daya alir, endapan, dan organoleptik pada formulasi enteral komersil dengan dua formulasi enteral tinggi BCAA dengan perbandingan komposisi daging ayam, putih telur, roti tawar, dan maltodextrin yang berbeda. Metode: Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental yang melibatkan penyusunan komposisi dua formulasi enteral tinggi BCAA dengan perbandingan masing-masing komposisi pada formula 1 dan formula 2 yaitu, putih telur (6:9), daging ayam (5:4), roti tawar (4:3), dan maltodextrin (5:6). Penilaian kandungan gizi dilakukan dengan secara empiris, uji viskositas diukur menggunakan viskometer, osmolalitas diukur menggunakan osmometer, daya alir diukur menggunakan NGT ukuran 12 fr, uji endapan dilakukan selama 6 jam, dan uji organoleptik dengan 15 panelis. Analisis data hasil organoleptik diuji menggunakan uji Kruskal Wallis lalu dilanjutkan uji Post Hoc. Hasil: Kandungan energi formula enteral BUDALUR 1 dan 2 berkisar antara 553,6-567,8 kkal. Nilai osmolalitas formula enteral BUDALUR 1 dan 2 berkisar antara 494-543 mOSm/Kg. Nilai viskositas formula enteral BUDALUR 1 dan 2 berkisar antara 146,15-264,8 cp. Hasil uji daya alir formula enteral BUDALUR 1 dan 2 berkisar antara 0,22-1,335 cc/detik. Tidak ada endapan di kedua formulasi enteral BUDALUR. Hasil uji organoleptik didapatkan formula enteral BUDALUR 1 lebih disukai dibandingkan dengan formula enteral BUDALUR 2. Simpulan: Formula enteral BUDALUR 2 lebih direkomendasikan karena kandungan BCAA lebih tinggi, hasil osmolalitas dan viskositas lebih rendah serta hasil uji daya alir lebih cepat dibandingkan dengan formula enteral BUDALUR 1.
Studi Kasus: Evaluasi Pemberian Makanan Tambahan (PMT) terhadap Kenaikan Berat Badan pada Balita Usia 18 Bulan Gizi Kurang di Sukoharjo Putri Puspita Ulya; M Muwakhidah; Ninuk Kusumawati
Proceeding Seminar on Food and Dietetic 2025: Proceeding Seminar on Food and Dietetic
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Masalah gizi kurang pada balita masih menjadi tantangan serius di Indonesia, khususnya pada masa awal pertumbuhan yang dapat menentukan kualitas hidup di masa mendatang. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbasis pangan lokal terhadap peningkatan status gizi balita gizi kurang.Metode: Penelitian ini merupakan studi kasus deskriptif terhadap seorang balita perempuan berusia 18 bulan di wilayah Puskesmas Mojolaban, Sukoharjo. Intervensi dilakukan selama tujuh hari menggunakan menu PMT tinggi energi dan tinggi protein (225-275 kkal/hari dan 4,5-11 g protein/hari) dengan pemantauan asupan zat gizi dan status antropometri. Data diperoleh melalui wawancara, recall makanan, pengukuran antropometri, serta edukasi kepada ibu balita menggunakan pendekatan motivational interviewing.Hasil: Penelitian menunjukkan peningkatan signifikan dalam kecukupan zat gizi makro. Pada hari ke-7, asupan energi mencapai 96% kebutuhan harian, protein 97%, lemak 89%, dan karbohidrat 93%. Sempat mengalami penurunan konsumsi pada hari ke-4 dan ke-5 akibat demam dan diare, asupan nutrisi kembali membaik di akhir intervensi. Berat badan meningkat dari 7,75 kg menjadi 8 kg dalam 14 hari, tinggi badan tetap pada 73,2 cm.Kesimpulan: PMT berbasis pangan lokal dapat meningkatkan kecukupan gizi dan asupan harian balita dalam jangka pendek, terutama dalam pada zat gizi energi dan protein. Namun, perubahan indikator antropometri seperti tinggi badan dan berat badan membutuhkan durasi intervensi yang lebih panjang. Keberhasilan PMT dipengaruhi oleh faktor penerimaan makanan, variasi menu, kondisi kesehatan anak, serta keterlibatan aktif orang tua melalui edukasi yang efektif. Oleh karena itu, implementasi PMT harus disertai pemantauan rutin dan pendekatan yang menyeluruh untuk mendukung perbaikan status gizi balita secara berkelanjutan.