Winda Gustika
Program Studi Sosiologi, Universitas Maritim Raja Ali Haji, Jalan Raya Dompak, Pulau Dompak, Tanjungpinang 29124, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Peran PUSPAGA sebagai Lembaga Sosial dalam Edukasi Pencegahan Kekerasan dan Bullying di Sekolah Kota Tanjungpinang Jesika Kartika; Winda Gustika; Muhamad Mardian; Rolike Anas Tasya
Pengabdian Kepada Masyarakat Indonesia SEAN (ABDIMAS SEAN) Vol. 4 No. 02 (2026): Pengabdian Kepada Masyarakat Indonesia SEAN (ABDIMAS SEAN), 2026
Publisher : SEAN Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) merupakan layanan yang berperan dalam memperkuat pengetahuan dan kapasitas keluarga dalam pengasuhan serta perlindungan anak. Dalam konteks pencegahan kekerasan dan bullying, keberadaan PUSPAGA menjadi penting karena persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan perilaku anak, tetapi juga dengan kondisi lingkungan keluarga dan sekolah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran PUSPAGA Kota Tanjungpinang dalam memberikan edukasi mengenai pencegahan kekerasan dan bullying di lingkungan sekolah. Kegiatan dilaksanakan melalui pendekatan edukatif dan partisipatif dengan melibatkan siswa, guru, dan pihak sekolah. Data pendukung kegiatan diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi selama pelaksanaan kegiatan di PUSPAGA Kota Tanjungpinang. Hasil pelaksanaan menunjukkan bahwa PUSPAGA menjalankan peran sebagai edukator, fasilitator, dan pendamping dalam meningkatkan pemahaman anak mengenai bentuk, dampak, serta upaya pencegahan kekerasan dan bullying. Kegiatan sosialisasi juga membuka ruang bagi siswa untuk menyampaikan pengalaman dan pandangan mereka mengenai interaksi sosial di lingkungan sekolah. Pelaksanaan program didukung oleh kerja sama PUSPAGA dengan pihak sekolah, keterlibatan guru, partisipasi siswa, serta dukungan pemerintah daerah. Namun, masih terdapat tantangan berupa anggapan bahwa bullying merupakan bentuk candaan, keterbatasan waktu edukasi, belum optimalnya keterlibatan orang tua, dan munculnya bentuk bullying di ruang digital. Oleh karena itu, pencegahan bullying perlu dikembangkan melalui kolaborasi berkelanjutan antara PUSPAGA, sekolah, keluarga, siswa, dan pemerintah daerah guna membangun lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan ramah anak.