Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Hot Water Treatment on Shallot (Allium cepa var. ascalonicum) Tuber to Suppress Viruses Infection in The Field Wiyono, Suryo; Harti, Heri; Sobir; Hendrastuti Hidayat, Sri
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 9 No. 3 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.62 KB) | DOI: 10.29244/jhi.9.3.149-157

Abstract

Infestasi virus pada umbi bawang merah dilaporkan sangat tinggi, meskipun efek infeksi virus terhadap produktivitas bawang merah masih sedikit diketahui. Penggunaan umbi bebas virus diasumsikan menjadi salah satu faktor utama untuk meningkatkan produktivitas. Perlakuan air panas pada umbi sebelum tanam merupakan metode pilihan untuk mengeliminasi virus. Penelitian dilakukan dengan tujuan mempelajari keefektifan metode perlakuan air panas pada umbi bibit bawang merah terhadap infeksi virus di lapangan. Penelitian disusun menggunakan rancangan acak lengkap petak terbagi dengan dua faktor. Faktor pertama adalah perlakuan rumah kasa dengan dua taraf, yaitu penanaman dalam rumah kasa dan penanaman di lahan terbuka. Faktor kedua adalah perlakuan air panas suhu 45 0C dengan 4 taraf waktu perendaman, yaitu 15 menit, 30 menit, 45 menit dan kontrol (tanpa perlakuan). Pengamatan dilakukan terhadap insidensi penyakit, parameter pertumbuhan tanaman (jumlah anakan dan tinggi tanaman), dan produktivitas tanaman. Insidensi virus dikonfirmasi dengan deteksi menggunakan antibodi spesifik. Hasil pengamatan gejala menunjukkan bahwa perlakuan rumah kasa tidak berpengaruh nyata terhadap penekanan insidensi penyakit, sementara perlakuan pemanasan berpengaruh nyata terhadap penekanan insidensi penyakit. Waktu perendaman umbi selama 15, 30 dan 45 menit pada suhu 45 0C dapat menekan insidensi penyakit virus dilapangan berturut-turut sebesar 54.98%, 56.77% dan 64.35%. Kata kunci: eliminasi virus, insidensi penyakit, rumah kasa, waktu perendaman
Seed tuber production of potato from stem cuttings, planting densities, and paclobutrazol concentrations Kalsum Yulifar, Andi Sri Ummi; Maharijaya, Awang; Purwito, Agus; Gunawan, Endang; Harti, Heri; Suhartanto , M. Rahmad
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 52 No. 1 (2024): Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy)
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24831/jai.v52i1.52685

Abstract

Rapid multiplication of potato seed using cuttings is a pivotal strategy for ensuring seed availability. This study aimed to elucidate the interactive effects of node number, paclobutrazol concentration, and planting density on seed potato and cutting productions. The study consisted of two experiments. The first experiment evaluated two genotypes (Granola and PKHT-6) with one or two nodes per cutting. The second experiment investigated planting density (one, three, or five plants per polybag) and paclobutrazol concentration (0, 15, 30, and 45 mg L-1). Notably, node number did not significantly influence cutting success, despite genotype-specific and interactive effects on vegetative parameters like plant height, stem diameter, leaf number, and root length. Planting density had no statistically significant impact on all vegetative parameters but demonstrably affected all production parameters. Conversely, paclobutrazol concentration significantly affected all vegetative parameters and influenced all production parameters except tuber weight per plant. From the results of this research, the use of single cutting is more recommended because it will obtain more plant material compared to two-node cuttings. Thus, in a more global context of potato development, this has the potential to increase the production of potato seeds from cuttings twice as much as the current seed production. The use of three plants/polybags is more recommended since it will produce more tuber but not different with five plants, and the use of paclobutrazol 15 mg L-1 is also recommended to increase the number of tubers. In this way, the production costs of G0 potato seeds can be reduced so that the availability of G0 potato seeds will be more guaranteed and affordable. Keywords: Granola; PKHT-6; rapid multiplication; tuber production
Dampak Kemitraan Closed Loop Terhadap Pendapatan Dan Efisiensi Usahatani Cabai Yanuar, S.P, M.Si, Rahmat; Rachmaniah, Muthia; Yanuar, Rahmat; Tinaprilla, Netti; Rachmania, Meuthia; Harti, Heri
Jurnal Agribisnis Indonesia Vol. 10 No. 1 (2022): Juni 2022 (Jurnal Agribisnis Indonesia)
Publisher : Departmen of Agribusiness, Economics and Management Faculty, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jai.2022.10.1.180-199

Abstract

Jawa Barat menjadi sentra komoditas cabai di Indonesia dengan urutan kedua penghasil cabai terbanyak Indonesia tahun 2020 sebanyak 14,32% dari produksi cabai nasional , tepat dibawah Jawa timur dengan produksi 28,28% dari produksi cabai nasional. Kemitraan adalah bentuk kerjasama yang bermanfaat bagi pihak yang telah bersepakat, biasanya kemitraan dibentuk dan dilakukan antara pihak yang telah bersepakat dan telah diikat oleh suatu perjanjian, SOP ataupun kontrak. Tujuan penelitian ini adalah apakah ada dampak kemitraan closed loop terhadap pendapatan petani cabai kemitraan dengan petani non mitra di Kabupaten Garut dan Sukabumi? Analisis data yang dilakukan meliputi metode analisis data kualitatif yang dipaparkan secara deskriptif pada analisis keragaan usahatani. metode analisis kuantitatif menggunakan analisis pendapatan usahatani, analisis perbandingan penerimaan dan biaya (R/C Ratio)dan analisis uji beda untuk mengetahui tingkat efisiensi usahatani komoditas cabai petani mitra dan non mitra di Kabupaten Garut dan Sukabumi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa keuntungan usahatani cabai petani closed loop lebih menguntungkan (Rp 89 889 654/ha/musim dengan R/C=2.06). Walaupun produktivitas dan kualitas cabai yang dihasilkan oleh petani closed loop (8.691 ton/ha) relatif sama dengan petani non closed loop (8.491 ton/ha) namun terlihat bahwa harga yang diterima petani closed loop lebih tinggi (Rp 15 457/kg) dibandingkan dengan harga yang diterima oleh petani non closed loop (Rp 11 998/kg).