Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Evaluasi Sistem Saluran Sekunder Malenggang Pada Daerah Irigasi Desa Puty Kecamatan Bua Kabupaten Luwu Muh Idhfi Syafaat; Syaifullah Syaifullah; Andi Tenri; Sudirman Sudirman
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 26 No. 2 (2026): Ecosystem Vol. 26 No 2, Mei - Agustus Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v26i2.9849

Abstract

Bagaimana dimensi saluran dan debit air yang ada pada Saluran Sekunder Malenggang Daerah Irigasi Desa Puty Kecamatan Bua Kabupaten Luwu Untuk mengetahui dimensi dan debit air di Saluran Sekunder Malenggang Daerah Irigasi Desa Puty Kecamatan Bua Kabupaten LuwuMetode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif, yaitu tidak dimulai dari edukasi teori tetapi objektif melalui perhitungan ilmiah dimana peneliti terjun ke lapangan mempelajari, menganalisis, menafsirkan dan menarik kesimpulan dari fenomena yang ada di lapangan. Berdasarkan hasil analisa luas penampang pada STA 0+000 hingga 1+000, diperoleh nilai luas bervariasi antara 0.641 m² hingga 0.706 m². Perbedaan ini menunjukkan adanya variasi dimensi saluran sepanjang segmen yang dianalisis. Adapun debit total saluran sekunder Malenggang adalah 1.051 m3/detik. Normalisasi juga perlu dilakukan pada segmen yang mengalami penyempitan agar aliran tidak terhambat dan kapasitas saluran dapat dipertahankan. What are the dimensions of the channel and water discharge in the Malenggang Secondary Channel, Puty Village Irrigation Area, Bua District, Luwu Regency? To find out the dimensions and water discharge in the Malenggang Secondary Channel, Puty Village Irrigation Area, Bua District, Luwu Regency, the research method used is quantitative research, which does not start from theoretical education but is objective through scientific calculations where researchers go into the field to study, analyze, interpret and draw conclusions from the phenomena in the field. Based on the results of the cross-sectional area analysis at STA 0+000 to 1+000, the area values vary between 0.641 m² to 0.706 m². This difference indicates a variation in channel dimensions along the analyzed segment. The total discharge of the Malenggang secondary channel is 1,051 m3/second. Normalization also needs to be done on segments that experience narrowing so that the flow is not obstructed and the channel capacity can be maintained.
Analisis Penanganan Erosi Pada Bantaran Sungai Makawa Kelurahan Bosso Kecamatan Walenrang Utara Kabupaten Luwu Analta Fatrah Hakim; Syaifullah Syaifullah; Sudirman Sudirman
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 26 No. 2 (2026): Ecosystem Vol. 26 No 2, Mei - Agustus Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v26i2.9857

Abstract

Erosi pada bantaran Sungai Makawa di Kelurahan Bosso, Kecamatan Walenrang Utara, Kabupaten Luwu menjadi permasalahan yang berpotensi mengancam lahan pertanian, pemukiman, serta infrastruktur di sekitar aliran sungai. Tingginya debit air saat musim hujan menyebabkan gerusan sepanjang ±100 meter pada tebing sungai sehingga diperlukan upaya penanganan yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk penanganan erosi yang efektif berdasarkan kondisi eksisting bantaran sungai. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif melalui pengumpulan data primer berupa survei lapangan, pengambilan sampel tanah terganggu dan tidak terganggu menggunakan handboring, serta pengukuran geometrik tebing sungai. Selain itu, dilakukan pengujian laboratorium meliputi kadar air, berat jenis, dan permeabilitas tanah. Analisis stabilitas dinding penahan tanah digunakan untuk menentukan konstruksi yang paling sesuai dalam menanggulangi erosi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi turap beton merupakan alternatif struktur yang paling efektif digunakan pada lokasi penelitian. Segmen 1 dan 2 direncanakan memiliki kemiringan 50°, panjang 50 meter, tinggi dinding 2,5 meter, lebar 2,5 meter, dan tebal 50 cm. Sedangkan Segmen 3 dan 4 menggunakan kemiringan 49° dengan dimensi yang sama. Berdasarkan perhitungan stabilitas terhadap guling dan geser, seluruh segmen memenuhi kriteria keamanan dengan faktor keamanan >2 untuk stabilitas guling dan >1,5 untuk stabilitas geser. Hal ini menunjukkan bahwa konstruksi turap beton mampu menjaga kestabilan tebing dan efektif digunakan sebagai penanganan erosi pada bantaran Sungai Makawa. Erosion along the banks of the Makawa River in Bosso Village, Walenrang Utara District, Luwu Regency has become a critical issue that threatens agricultural land, residential areas, and nearby infrastructure. The high river discharge during the rainy season has caused scouring along approximately 100 meters of the riverbank, requiring an appropriate mitigation strategy. This study aims to analyze the most effective erosion-control measures based on the existing physical conditions of the riverbank. A quantitative research method was employed, utilizing primary data obtained from field surveys, soil sampling (disturbed and undisturbed) using a handboring tool, and geometric measurements of the riverbank. Laboratory tests, including water content, specific gravity, and soil permeability, were conducted to support the analysis. The stability of retaining structures was evaluated to determine the most suitable construction for erosion mitigation. The results indicate that concrete sheet pile structures are the most effective solution for erosion control at the study site. Segments 1 and 2 are designed with a 50° slope angle, a length of 50 meters, a wall height of 2.5 meters, a base width of 2,5 meters, and a thickness of 50 cm. Segments 3 and 4 use a 49° slope with the same dimensions. Stability analysis shows that the structure meets safety requirements, with safety factors greater than 2 for overturning and greater than 1.5 for sliding. These results demonstrate that concrete sheet pile construction is capable of maintaining riverbank stability and serves as an effective erosion mitigation measure along the Makawa River.
Analisis Perbandingan Mutu Beton Pada Perumahan Subsidi Dan Non Subsidi : Studi Kasus: Perumahan Harmoni Songka Dan C Rymon Abraham; Muhammad Fikri; Sudirman Sudirman
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 26 No. 2 (2026): Ecosystem Vol. 26 No 2, Mei - Agustus Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v26i2.9859

Abstract

Kota Palopo secara umum telah membuat kemajuan yang baik dan cepat dalam pembangunan rumah. Hal ini terlihat dari meningkatnya pembangunan di Palopo, termasuk pengembangan rumah. Kebutuhan pokok manusia dan faktor dalam kesehatan masyarakat adalah perumahan. Akibatnya, standar perumahan menjadi perhatian penting dalam kesehatan masyarakat dan penyediaan perumahan merupakan tujuan inti yang kompleks. Perbandingan kualitas beton pada rumah bersubsidi (Harmoni Songka) dan rumah non-subsidi (Baverlly Hills) menunjukkan bahwa untuk semua elemen struktural pada rumah bersubsidi, kekuatan tekan beton yang diukur langsung dari lapangan adalah 16,7 MPa atau K-200. Hal ini masih di bawah kualitas yang direncanakan, yaitu K-225 atau 18,6 MPa. Sebaliknya, beton yang digunakan pada rumah non-subsidi memiliki kekuatan tekan sebesar 22,3 MPa, atau K-250, untuk semua komponen struktural, memenuhi kualitas yang direncanakan sebesar 20,7 MPa, atau K-250. The city of Palopo has generally made good and rapid progress in housing development. This is evident from the increasing construction in Palopo, including housing development. Basic human needs and factors in public health include housing. As a result, housing standards are an important concern in public health, and housing provision is a complex core objective. A comparison of concrete quality in subsidized houses (Harmoni Songka) and non-subsidized houses (Baverlly Hills) shows that for all structural elements in subsidized houses, the compressive strength of concrete measured directly from the field is 16.7 MPa or K-200. This is still below the planned quality, which is K-225 or 18.6 MPa. In contrast, the concrete used in non-subsidized houses has a compressive strength of 22.3 MPa, or K-250, for all structural components, meeting the planned quality of 20.7 MPa, or K-250.
Analisis Indikator Kinerja Ruas Jalan Rantepao-Palopo Km 5 Samapai Dengan Km 10 Kota Palopo Fahmi Fahmi; Jusmidah Jusmidah; Sudirman Sudirman
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 26 No. 2 (2026): Ecosystem Vol. 26 No 2, Mei - Agustus Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v26i2.9860

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pemenuhan indikator kinerja serta menentukan strategi pemeliharaan yang tepat pada ruas Jalan Rantepao–Palopo Km 5 sampai dengan Km 10 Kota Palopo. Metode penelitian menggunakan survei lapangan terhadap lima indikator kinerja, yaitu perkerasan jalan, bahu jalan, drainase, perlengkapan jalan, dan pengendalian tanaman. Data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif untuk menghitung persentase pemenuhan indikator dan secara kualitatif melalui analisis SWOT guna mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam sistem pemeliharaan jalan. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan nilai rata-rata pemenuhan indikator dari 92% pada survei awal menjadi 96,36% pada survei akhir dengan capaian kinerja sebesar 4,36%. Kategori pengendalian tanaman mengalami peningkatan paling tinggi, sedangkan drainase masih memerlukan perhatian lanjutan. Berdasarkan analisis SWOT, kekuatan utama terdapat pada kondisi perkerasan dan perlengkapan jalan yang baik, sedangkan kelemahan utama berada pada sistem drainase. Strategi yang direkomendasikan adalah penerapan pemeliharaan rutin berbasis kinerja, peningkatan fungsi drainase, serta pengendalian vegetasi secara berkala untuk mempertahankan kualitas dan keberlanjutan jalan. This study aims to analyze the level of performance indicator fulfillment and determine appropriate maintenance strategies for the Rantepao-Palopo Road section from Km 5 to Km 10, Palopo City. The research method used a field survey of five performance indicators: pavement, shoulder, drainage, road equipment, and vegetation control. The data obtained were analyzed quantitatively to calculate the percentage of indicator fulfillment and qualitatively through a SWOT analysis to identify strengths, weaknesses, opportunities, and threats in the road maintenance system. The results showed an increase in the average indicator fulfillment score from 92% in the initial survey to 96.36% in the final survey, representing a performance achievement of 4.36%. The vegetation control category experienced the highest improvement, while drainage still requires further attention. Based on the SWOT analysis, the primary strength lies in the good condition of the pavement and road equipment, while the primary weakness lies in the drainage system. Recommended strategies include implementing performance-based routine maintenance, improving drainage functions, and periodically controlling vegetation to maintain road quality and sustainability.
Perancangan Sistem Irigasi Tambak : Studi Kasus : Tambak Tradisional Desa Munte, Kecamatan Tanalili, Kabupaten Luwu Utara Mifta Huljanna; Syahrul Ramadhan; Syaifullah Syaifullah; Sudirman Sudirman
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 26 No. 2 (2026): Ecosystem Vol. 26 No 2, Mei - Agustus Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v26i2.9866

Abstract

Desa Munte, Kecamatan Tanalili, Kabupaten Luwu Utara, memiliki tambak tradisional yang memanfaatkan pasang surut air laut sebagai sumber pengairan. Namun, sebagian besar pintu air yang digunakan belum dirancang secara teknis sehingga pengaturan muka air belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk merancang pintu air tipe Romijn yang sesuai dengan kondisi tambak serta menggambarkan skema jaringan irigasi tambak tradisional di Desa Munte. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei lapangan dan perhitungan hidrolika, meliputi pengukuran elevasi, debit aliran, tekanan hidrostatis, dan dimensi saluran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain pintu air Romijn dengan tinggi pintu rencana 2,19 meter, lebar bukaan 0,8 meter pada Tambak A dan 1 meter pada Tambak B, serta ketebalan pelat injak 10,2 cm dapat mengendalikan aliran secara efektif sesuai kondisi pasang dan surut. Selain itu, skema jaringan irigasi tambak menunjukkan bahwa sebagian tambak memperoleh suplai air melalui saluran primer, sementara sebagian lainnya mengambil air langsung dari laut. Munte Village, located in Tanalili District, North Luwu Regency, uses traditional fish ponds that rely on tidal sea water circulation. However, most of the existing sluice gates have not been technically designed, resulting in suboptimal water level control. This study aims to design a Romijn-type sluice gate suitable for local pond conditions and to describe the irrigation network system of the traditional ponds in Munte Village. A quantitative method was applied through field surveys and hydraulic calculations, including elevation measurement, discharge estimation, hydrostatic pressure analysis, and channel dimensioning. The results show that the designed Romijn sluice gate with a planned height of 2.19 meters, gate width of 0.8 meters for Pond A and 1 meter for Pond B, and a footplate thickness of 10.1 cm, is able to regulate water flow effectively under tidal variations. The irrigation network layout also indicates that some ponds receive water through a primary channel, while others take water directly from the sea.