Andhita Nurul Khasanah
Prodi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Islam Bandung, Indonesia

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Quarter Life Crisis pada Mahasiswa: Kajian Literatur Faktor Protektif dan Risiko Luzhain Syafyra; Andhita Nurul Khasanah
Bandung Conference Series: Psychology Science 837-844
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24096

Abstract

Abstract. College students are facing a crucial developmental transition known as emerging adulthood, a phase characterized by intense identity exploration and instability, making them vulnerable to experiencing a quarter-life crisis. Although quarter-life crisis is often described as stressful experience, it does not always lead to psychological suffering. Some individuals are able to navigate it with self-acceptance, while others experience a prolonged crisis that disrupts daily activities. This literature review aims to examine psychological factors that act as protective factors that help individuals navigate quarter-life crisis more adaptively, as well as the risk factors that can exacerbate the experience. Using a literature review approach, literature search was conducted through academic databases using relevant keywords. The results indicate that personal growth initiative, self-compassion, psychological well-being, and social support act as protective factors that increase tolerance for uncertainty, strengthen self-acceptance, and provide the psychological stability necessary to face a quarter-life crisis. Conversely, family pressure, a tendency to do social comparison, and intolerance of uncertainty were found to exacerbate the crisis by increasing feelings of inferiority and avoiding challenges necessary for personal growth. These findings suggest that quarter-life crisis is not a uniform experience but rather the result of interactions between protective and risk factors. Abstrak. Mahasiswa tengah menghadapi transisi perkembangan penting yang dikenal dengan istilah emerging adulthood yaitu fase yang ditandai dengan eksplorasi identitas dan ketidakstabilan tinggi yang membuat mahasiswa rentan mengalami quarter life crisis. Meskipun quarter life crisis seringkali digambarkan sebagai pengalaman yang selalu menekan, fenomena ini tidak selalu berujung pada penderitaan psikologis. Sebagian individu mampu menjalaninya dengan penerimaan diri sementara sebagian lainnya mengalami krisis berkepanjangan yang menganggu aktivitas sehari-hari. Kajian literatur ini bertujuan untuk menelaah faktor-faktor psikologis yang berperan sebagai faktor pelindung yang membantu individu menjalani quarter life crisis secara lebih adaptif, serta faktor risiko yang dapat memperparah pengalaman quarter life crisis. Dengan menggunakan pendekatan literature review, Penelusuran literatur dilakukan melalui basis data akademik menggunakan kata kunci yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa personal growth initiative, self-compassion, psychological well-being, dan dukungan sosial berperan sebagai faktor pelindung yang meningkatkan toleransi terhadap ketidakpastian, memperkuat penerimaan diri, serta memberikan stabilitas psikologis yang diperlukan untuk menghadapi quarter life crisis. Sebaliknya tekanan keluarga, kecenderungan untuk melakukan perbandingan sosial, dan intolerance of uncertainity ditemukan dapat memperburuk krisis dengan meningkatkan perasaan rendah diri dan penghindaran terhadap tantangan yang diperlukan untuk perkembangan diri. Temuan ini menunjukkan bahwa quarter life crisis bukan pengalaman yang seragam melainkan hasil interkasi antar faktor pelindung dan risiko.
Gambaran Need to belong pada Individu Emerging adulthood Pengguna Media Sosial Jeconia Nasywa Pandita; Andhita Nurul Khasanah
Bandung Conference Series: Psychology Science 1165-1172
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24724

Abstract

Abstract. Need to belong is one of the most fundamental psychological needs driving individuals to form and maintain positive, stable, and meaningful interpersonal relationships. This article examines need to belong as a fundamental psychological need in emerging adulthood and explains its relevance to social media use based on previous research. Using a literature review method, relevant scientific articles and theoretical books published mainly within the past ten years were descriptively analyzed to synthesize findings on the concept, aspects, factors, and impacts of need to belong. The results show that need to belong comprises the drive to affiliate with others and the need for social acceptance, shaped by a sense of identity, security, and orderliness, and producing broad effects on individuals' cognitive, emotional, and behavioral functioning. This need becomes increasingly salient during emerging adulthood alongside developmental tasks such as identity formation, autonomy, and intimacy, and its fulfillment is now largely facilitated through social media features such as likes, comments, and other forms of feedback. In conclusion, need to belong not only explains the dynamics of direct interpersonal relationships but also serves as a relevant theoretical framework for understanding broader psychological and social phenomena, including social media use among emerging adults. Abstrak. Need to belong merupakan salah satu kebutuhan psikologis paling mendasar yang mendorong manusia membentuk dan mempertahankan hubungan interpersonal yang positif, stabil, dan bermakna. Artikel ini mengkaji need to belong sebagai kebutuhan psikologis fundamental pada emerging adulthood serta menjelaskan relevansinya dalam konteks penggunaan media sosial berdasarkan penelitian terdahulu. Metode yang digunakan adalah literature review, dengan mengkaji artikel ilmiah dan buku teori yang relevan, terutama publikasi sepuluh tahun terakhir, yang dianalisis secara deskriptif untuk mensintesis temuan mengenai konsep, aspek, faktor, dan dampak need to belong. Hasil kajian menunjukkan bahwa need to belong tersusun atas dorongan untuk menjalin hubungan dengan orang lain dan kebutuhan akan penerimaan sosial, yang dipengaruhi oleh sense of identity, security, dan orderliness, serta memberikan dampak luas pada aspek kognitif, emosional, dan perilaku individu. Kebutuhan ini semakin relevan pada fase emerging adulthood seiring tugas perkembangan identitas, otonomi, dan keintiman, dan pemenuhannya kini banyak difasilitasi oleh media sosial melalui fitur seperti likes, komentar, dan umpan balik lainnya. Dapat disimpulkan bahwa need to belong tidak hanya menjelaskan dinamika hubungan interpersonal, tetapi juga menjadi kerangka teoritis penting untuk memahami perilaku penggunaan media sosial pada emerging adulthood.
Parental Phubbing: Implikasi dan Faktor Protektif pada Remaja Molek Khansa; Andhita Nurul Khasanah
Bandung Conference Series: Psychology Science 1237-1246
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25074

Abstract

Abstract. Advances in digital technology have transformed family interaction patterns, including the increased use of smartphones by parents when interacting face-to-face with their children. This has given rise to the phenomenon of parental phubbing, in which parents focus more on their digital devices than on direct interaction with their children. This article aims to examine the impact of parental phubbing on adolescents using a literature review method. The literature search was conducted through Google Scholar, PubMed, and ScienceDirect using the keywords Psychological Impact, Parental Phubbing, and Adolescents. The review found that parental phubbing reduces the quality of parent-child relationships, communication, and emotional warmth, while increasing adolescents’ perception that they are being neglected. This phenomenon is also associated with various psychological problems, including low self-esteem, anxiety, depression, loneliness, problematic internet use, and behavioral issues. However, open communication, perceived family support, and warm, high-quality family relationships can serve as protective factors that mitigate these negative effects. Therefore, parents should use digital devices more wisely while maintaining meaningful interactions and emotional engagement with adolescents to support their social, emotional, and psychological development. Abstrak. Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola interaksi dalam keluarga, termasuk meningkatnya penggunaan smartphone orang tua saat berinteraksi langsung dengan anak. Kondisi ini memunculkan fenomena parental phubbing, yaitu perilaku orang tua yang lebih memusatkan perhatian pada perangkat digital dibandingkan dengan interaksi bersama anak. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji berbagai dampak parental phubbing terhadap remaja menggunakan metode literature review. Penelusuran literatur dilakukan melalui database Google Scholar, PubMed, dan ScienceDirect menggunakan kata kunci Dampak Psikologis, Interaksi Orang Tua Anak, Parental Phubbing, Remaja. Hasil kajian literatur menunjukan bahwa parental phubbing berdampak pada menurunnya kualitas hubungan orang tua dan anak, berkurangnya intensitas komunikasi, melemahnya kehangatan emosional, serta meningkatnya persepsi diabaikan pada remaja. Selain itu, parental phubbing juga berkaitan dengan berbagai permasalahan psikologis, seperti rendahnya harga diri, kecemasan, depresi, kesepian, penggunaan internet yang bermasalah, serta muncul masalah perilaku. Namun, komunikasi terbuka, dukungan keluarga yang dirasakan, serta keluarga yang hangat dan berkualitas dapat menjadi faktor protektif yang membantu mengurangi dampak negatif parental phubbing. Oleh karena itu, diperlikannya kesadaran orang tua dalam menggunakan perangkat digital dengan tetap menjaga kualitas interaksi dan keterlibatan emosional bersama remaja untuk mendukung perkembangan sosial emosional dan psikologis mereka secara optimal.
Di Balik Interaksi Digital: Tinjauan Literatur tentang Hubungan Kesepian dan Nomophobia Safa Ainun Nisa Lukito; Andhita Nurul Khasanah
Bandung Conference Series: Psychology Science 1363-1372
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25630

Abstract

Abstract University students who use social media heavily often report loneliness alongside nomophobia (anxiety from being unable to access a smartphone), with TikTok and Instagram thought to produce different psychological effects due to their distinct algorithms and self-presentation styles; this paper synthesizes theoretical and empirical research on loneliness and nomophobia among student social media users, with particular focus on students in Bandung, using a narrative literature review approach drawing on national and international journals, systematic reviews, books, and theses published between 2013 and 2026 from Google Scholar, ScienceDirect, PubMed, Scopus, GARUDA, and similar databases, analyzed thematically. The review found that loneliness breaks down into three types romantic, family, and social while nomophobia involves four dimensions: difficulty communicating, loss of connectedness, limited information access, and reduced comfort, with global nomophobia rates ranging from 15.2% to 99.7% and Indonesia ranking among the countries with the highest prevalence of severe nomophobia worldwide. Each platform's characteristics appear to have distinct effects: TikTok's passive, algorithm-driven usage is more closely linked to family-related loneliness, while Instagram's identity-focused engagement is more closely linked to nomophobia, though the direct relationship between loneliness and nomophobia remains inconsistent across studies ranging from no relationship to weak-to-moderate positive correlation while self-control and self-esteem consistently emerge as protective factors, suggesting campus mental health programs should be tailored to platform-specific usage patterns and aimed at strengthening students' self-control, rather than treating all social media behavior as uniform. Abstrak. Mahasiswa yang aktif menggunakan media sosial sering mengalami kesepian dan nomophobia (rasa cemas ketika tidak bisa mengakses ponsel), dengan TikTok dan Instagram diduga memicu pengalaman psikologis berbeda karena cara kerja algoritma dan gaya presentasi diri yang tidak sama; tulisan ini merangkum kajian teori dan penelitian empiris tentang kesepian serta nomophobia pada mahasiswa pengguna media sosial, dengan fokus khusus pada mahasiswa di Bandung, menggunakan metode tinjauan literatur naratif yang menelusuri jurnal nasional maupun internasional, tinjauan sistematis, buku, dan skripsi terbitan 2013–2026 dari Google Scholar, ScienceDirect, PubMed, Scopus, GARUDA, dan basis data sejenis, lalu dianalisis secara tematik. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa kesepian terbagi menjadi tiga jenis romantis, keluarga, dan sosial, sedangkan nomophobia terdiri dari empat aspek: kesulitan berkomunikasi, hilangnya rasa terhubung, terbatasnya akses informasi, dan berkurangnya kenyamanan, dengan angka kejadian nomophobia global bervariasi dari 15,2% hingga 99,7% dan Indonesia termasuk negara dengan tingkat nomophobia parah tertinggi di dunia. Karakteristik masing-masing platform memberi dampak berbeda: penggunaan TikTok yang pasif dan mengikuti algoritma lebih terkait dengan kesepian keluarga, sementara Instagram yang berorientasi pembentukan identitas lebih terkait dengan nomophobia, meski hubungan langsung antara kesepian dan nomophobia sendiri belum konsisten antarpenelitian mulai dari tidak ada hubungan hingga korelasi positif lemah-sedang sementara kontrol diri dan harga diri konsisten menjadi faktor pelindung, sehingga program kesehatan mental kampus sebaiknya disesuaikan dengan pola penggunaan tiap platform dan diarahkan memperkuat kontrol diri mahasiswa, bukan menyamaratakan seluruh perilaku bermedia sosial.
Efek Perceraian Orang Tua Pada Dewasa Awal: dari Perspektif Psikologi Az-Zahra Tiaranida Sudrajat; Andhita Nurul Khasanah
Bandung Conference Series: Psychology Science 1405-1414
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25785

Abstract

Abstract. The phenomenon of parental divorce is becoming increasingly common among Indonesians. Individuals who grow up in divorced families may experience the sleeper effect, whereby the impact of their parents’ divorce becomes apparent in later stages of development specifically in early adulthood, particularly when entering romantic relationships. This study aims to examine the relationship between fear of intimacy and marital attitudes in early adulthood among individuals from divorced families. The research method employed in this study is a literature review, involving the collection of data from various relevant academic sources. Based on the results of the literature review, it was found that there is a relationship between fear of intimacy and marital attitudes in early adulthood among individuals who grew up in divorced families. This suggests that parental divorce can make young adults more vulnerable to developing a fear of intimacy, which in turn may influence their attitudes toward marriage. Therefore, young adults from divorced families need to practice greater self-acceptance and identify the sources of fear that can develop into a fear of intimacy, particularly when entering romantic relationships. Abstrak. Fenomena perceraian orang tua saat ini semakin sering terjadi di kalangan masyarakat Indonesia. Individu yang tumbuh dari keluarga bercerai dapat mengalami sleeper effect, dimana efek dari perceraian orang tua dapat terlihat pada tahap perkembangan selanjutnya yaitu pada tahap dewasa awal, khususnya ketika menjalin hubungan berpacaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan fear of intimacy dan marital attitude dewasa awal dari keluarga bercerai. Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan kajian literature review, dengan mengumpulkan data dari berbagai sumber akademik yang relavan. Berdasarkan hasil kajian literature, diperoleh temuan bahwa adanya hubungan antara fear of intimacy dengan marital attitude pada dewasa awal yang tumbuh dari keluarga bercerai. Hal ini menunjukkan bahwa perceraian orang tua dapat membuat dewasa awal memiliki kerentanan dalam mengalami fear of intimacy, sehingga dapat berpotensi mempengaruhi sikapnya terhadap marital attitude. Oleh karena itu, dewasa awal dari keluarga bercerai perlu untuk lebih menghargai diri sendiri dan mengenali sumber ketakutan yang dapat berkembang menjadi fear of intimacy, khususnya dalam menjalin hubungan romantis.