Transisi kurikulum berstandar Asia di sekolah dasar menghadapi gap operasional pada tingkat tapak. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi adaptasi siswa, kesiapan guru, dan kendala implementasi kurikulum baru. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini melibatkan guru kelas IV SDN 101766 Bandar Setia sebagai subjek utama di Desa Bandar Setia pada Maret–Mei 2024. Alur penelitian mencakup pra-lapangan, pengumpulan data, analisis, dan pelaporan. Data dikumpulkan melalui studi dokumentasi serta wawancara semi-terstruktur, lalu dianalisis menggunakan model kualitatif interaktif Miles et al. (reduksi, penyajian, verifikasi) dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan 65% siswa beradaptasi positif pada pembelajaran berbasis proyek, meskipun 35% mengalami hambatan adaptasi. Kesiapan guru tergolong sedang (pemahaman diferensiasi 55%, penyusunan modul ajar 60%, penguasaan teknologi 50%), yang dipicu oleh minimnya pelatihan intensif (40%). Keterbatasan sarana terlihat dari ketercukupan buku teks (50%, rasio 1:2), proyektor LCD (25%), jaringan internet (30%), serta pemahaman orang tua (70%). Disimpulkan bahwa transformasi kurikulum mampu meningkatkan keaktifan belajar siswa, namun efektivitas menyeluruh terhambat oleh defisit sarana dan pendampingan teknis. Direkomendasikan pelaksanaan pelatihan pedagogis klinis secara terstruktur, pemenuhan infrastruktur digital, serta penguatan sinergi komunikasi bersama orang tua murid.