Ratna Puri Handayani
Universitas Maritim Raja Ali Haji

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

NILAI-NILAI GURINDAM DUA BELAS DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER KOMUNIKASI PROFESIONAL MURID MANAJEMEN PERKANTORAN Ratna Puri Handayani; Zaitun Zaitun
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.13176

Abstract

ABSTRACT The development of professional communication character is an essential need in vocational education, particularly for Office Management students who are prepared to interact and provide services in workplace environments. One source of value that can be utilized in character education is Gurindam Dua Belas by Raja Ali Haji, which contains various moral and ethical teachings of life. This study aims to analyze the values of Gurindam Dua Belas in developing professional communication character among Office Management students. This research employed a qualitative approach using a literature review method and content analysis. The primary data source consisted of verses from Gurindam Dua Belas, which were analyzed through data reduction, value categorization, data presentation, and conclusion drawing. The results revealed seven values relevant to the development of professional communication character: language politeness, honesty in communication, willingness to learn and ask questions, professional integrity, relationship-building ability, self-control in speaking, and communication responsibility. These values demonstrate that Gurindam Dua Belas possesses not only literary and cultural significance but also potential as a contextual source for character education in vocational learning. Therefore, integrating the values of Gurindam Dua Belas into learning activities can serve as an alternative approach to strengthening professional communication character required in the modern workplace. ABSTRAK Pembentukan karakter komunikasi profesional menjadi kebutuhan penting dalam pendidikan vokasi, khususnya bagi murid Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis (MPLB) yang dipersiapkan untuk berinteraksi dalam lingkungan kerja. Salah satu sumber nilai yang dapat dimanfaatkan dalam pendidikan karakter adalah Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji yang memuat ajaran moral dan etika kehidupan. Penelitian ini memiliki kebaruan melalui integrasi nilai sastra Melayu dengan penguatan karakter komunikasi profesional pada pendidikan vokasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis nilai-nilai Gurindam Dua Belas dalam pembentukan karakter komunikasi profesional murid MPLB. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka dan analisis isi (content analysis). Sumber data berupa bait-bait Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji yang dianalisis melalui identifikasi, reduksi data, kategorisasi nilai, penyajian data, dan penarikan simpulan berdasarkan relevansinya dengan karakter komunikasi profesional. Hasil penelitian menemukan tujuh nilai utama, yaitu kesantunan berbahasa, kejujuran komunikasi, kemauan belajar dan bertanya, integritas profesional, kemampuan membangun relasi, pengendalian diri dalam berbicara, serta tanggung jawab komunikasi. Temuan ini menunjukkan bahwa Gurindam Dua Belas dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran berbasis kearifan lokal untuk memperkuat soft skills dan etika komunikasi murid vokasi.
The Relationship Between Growth Mindset and Speaking Anxiety in English Learning Carli Alfian; Ratna Puri Handayani; Nur Izzati; Desi Rahmatina
Journal of English Language and Education Vol 11, No 5 (2026): ON PROGRESS
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jele.v11i5.2650

Abstract

English communication is an essential competency for office management students in vocational education. However, many students experience speaking anxiety, which may be related to their growth mindset. Growth mindset is considered important in language learning because students who believe their abilities can be developed through effort tend to take more risks in using the target language and recover more quickly from mistakes. Therefore, this study examined the relationship between growth mindset and speaking anxiety. This quantitative study used the Spearman correlation method with eleventh-grade Office Management students at SMK Negeri 1 Tanjungpinang as respondents (N = 108). The findings showed a significant negative relationship between growth mindset and speaking anxiety, with a correlation coefficient of -0.288 and a significance value of 0.003 (p 0.05). The results indicate that students with a higher growth mindset tend to experience lower speaking anxiety in English. However, the correlation strength was weak, suggesting that speaking anxiety is also influenced by other factors beyond growth mindset.
PENINGKATAN KEMANDIRIAN BELAJAR MURID MELALUI PENERAPAN LEARNING BY DOING BERBASIS MODUL PROSEDURAL MATERI MERGE MAILING Ratna Puri Handayani; Dody Irawan
EDUTECH : Jurnal Inovasi Pendidikan Berbantuan Teknologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/edutech.v6i4.12981

Abstract

ABSTRACT Learning independence is an important competency in vocational education because students are expected not only to understand the learning material but also to manage their learning process when dealing with practical tasks. The problem addressed in this study was students’ strong dependence on teacher guidance during mail merge instruction, resulting in suboptimal initiative, responsibility, and ability to complete practical tasks independently. This study employed Classroom Action Research conducted in two cycles consisting of planning, action implementation, observation, and reflection. The instructional intervention applied a learning by doing approach supported by a procedural module to provide students with opportunities to follow work procedures, engage in practice, identify difficulties, and complete tasks more independently. Data were collected through activity observation sheets, learning independence assessments, practical task performance, and field notes. The results showed an improvement in students’ learning independence during the intervention, with the percentage of students classified as independent increasing from 64% in the first meeting to 92% in the fourth meeting. This improvement was reflected in greater initiative in starting activities, increased ability to use the module to follow and navigate practical procedures, and reduced dependence on teacher guidance when completing tasks. Thus, the integration of learning by doing and a procedural module can serve as an alternative instructional approach to support the development of learning independence through structured and gradual practical experiences. ABSTRAK Kemandirian belajar merupakan salah satu kemampuan penting dalam pembelajaran vokasional karena murid dituntut tidak hanya memahami materi, tetapi juga mampu mengarahkan proses belajarnya ketika menghadapi tugas praktik. Permasalahan yang menjadi fokus penelitian ini adalah masih kuatnya ketergantungan murid terhadap arahan guru pada pembelajaran merge mailing, sehingga inisiatif, tanggung jawab, dan kemampuan menyelesaikan praktik secara mandiri belum berkembang secara optimal. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Tindakan pembelajaran menerapkan pendekatan learning by doing berbantuan modul prosedural agar murid memperoleh kesempatan mengikuti tahapan kerja, melakukan praktik, menemukan kendala, dan menyelesaikan tugas secara lebih mandiri. Data dikumpulkan melalui lembar observasi aktivitas, penilaian kemandirian belajar, hasil pelaksanaan tugas praktik, serta catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemandirian belajar murid mengalami peningkatan selama pelaksanaan tindakan, dengan persentase murid dalam kategori mandiri meningkat dari 64% pada pertemuan pertama menjadi 92% pada pertemuan keempat. Peningkatan tersebut tampak pada semakin kuatnya inisiatif dalam memulai kegiatan, kemampuan menggunakan modul untuk mengikuti dan menelusuri tahapan praktik, serta berkurangnya ketergantungan terhadap arahan guru ketika menyelesaikan tugas. Dengan demikian, perpaduan learning by doing dan modul prosedural dapat digunakan sebagai alternatif pembelajaran untuk mendukung perkembangan kemandirian belajar melalui pengalaman praktik yang terarah dan bertahap.