Abstract. Rahn musta‘ār refers to the pledging of borrowed property by a musta‘īr, which raises legal issues concerning the authority to use another person’s property as collateral. This study aims to analyze the legal construction of the ‘āriyah contract as the basis for the formation of rahn musta‘ār, the validity of rahn musta‘ār from the perspective of Islamic commercial jurisprudence, and its legal position within the framework of Islamic Economic Law in Indonesia. This study employed a normative juridical method using conceptual, statutory, and comparative approaches. Legal materials were collected through library research involving the Qur’an, hadith, classical Islamic jurisprudential literature, the Compilation of Sharia Economic Law, DSN-MUI fatwas, books, and scientific journals. The collected materials were analyzed qualitatively using descriptive-analytical and prescriptive methods. The findings indicate that the ‘āriyah contract is understood through two legal constructions, namely tamlīk al-manfa‘ah and ibāḥah al-intifā‘, which form the basis of the legal relationship in rahn musta‘ār. The owner’s permission constitutes the basis for the musta‘īr’s legal authority to undertake legal actions concerning the borrowed property. The validity of rahn musta‘ār depends not solely on ownership but also on the existence of legitimate ḥaqq al-taṣarruf. In Indonesian Islamic Economic Law, rahn musta‘ār is recognized under Article 342 of the Compilation of Sharia Economic Law and supported by the general principles governing rahn and I‘ārah in DSN-MUI fatwas. Therefore, rahn musta‘ār may be implemented provided that the owner’s permission is obtained and the transaction remains within the scope of the authority granted. Abstrak. Akad rahn musta‘ār merupakan penggadaian barang pinjaman oleh musta‘īr yang menimbulkan persoalan mengenai kewenangan untuk menjadikan barang milik pihak lain sebagai objek jaminan. Penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi hukum akad ‘āriyah sebagai dasar terbentuknya rahn musta‘ār, keabsahan rahn musta‘ār dalam perspektif fikih muamalah, serta kedudukannya dalam kerangka Hukum Ekonomi Syariah di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan konseptual, perundang-undangan, dan perbandingan. Bahan hukum dikumpulkan melalui studi kepustakaan terhadap Al-Qur’an, hadis, kitab fikih klasik, Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah, fatwa DSN-MUI, buku, dan jurnal ilmiah, kemudian dianalisis secara kualitatif menggunakan metode deskriptif-analitis dan preskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akad ‘āriyah dipahami melalui dua konstruksi hukum, yaitu tamlīk al-manfa'ah dan ibāḥah al-intifā', yang menjadi dasar hubungan hukum dalam rahn musta‘ār, sedangkan izin pemilik barang menjadi dasar kewenangan musta‘īr untuk melakukan tindakan hukum. Keabsahan rahn musta‘ār tidak semata-mata bergantung pada kepemilikan, melainkan pada adanya ḥaqq al-taṣarruf yang sah. Dalam Hukum Ekonomi Syariah Indonesia, rahn musta‘ār diakui melalui Pasal 342 KHES dan didukung oleh prinsip umum dalam Fatwa DSN-MUI tentang rahn dan akad I‘ārah. Dengan demikian, rahn musta‘ār dapat diterapkan sepanjang memperoleh izin pemilik dan dilaksanakan sesuai batas kewenangan yang diberikan.