Andrian Hoerul Anwar
Prodi Farmasi, Fakultas Farmasi dan Sains, Universitas Islam Bandung, Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Evaluasi Efektivitas Eritropoietin terhadap Respons Hematologi Pasien Gagal Ginjal Kronis Agnia Aulia Syifa; Suwendar Suwendar; Andrian Hoerul Anwar
Bandung Conference Series: Pharmacy 275 - 284
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24771

Abstract

Abstract. Chronic kidney disease (CKD) is commonly associated with anemia due to decreased erythropoietin production by the kidneys, resulting in impaired erythropoiesis and reduced hemoglobin, hematocrit, and erythrocyte levels. This study aimed to evaluate the effectiveness of erythropoietin-containing combination therapy based on changes in hemoglobin, hematocrit, and erythrocyte levels in CKD patients undergoing hemodialysis at Bandung Kiwari Regional Hospital. A descriptive observational study with a retrospective approach was conducted using medical records of 53 patients who met the inclusion and exclusion criteria. Data were analyzed descriptively, while statistical analyses were performed using the Shapiro–Wilk normality test followed by the Wilcoxon test. The results showed that 62% of patients achieved the target hemoglobin response of 0.5–1.5 g/dL. The combination of epoetin alfa and folic acid, as well as epoetin alfa, folic acid, and vitamin B12, significantly increased hemoglobin, hematocrit, and erythrocyte levels (p<0.05). In conclusion, erythropoietin-containing combination therapy was effective in improving hemoglobin, hematocrit, and erythrocyte levels in CKD patients undergoing hemodialysis. Abstrak. Gagal ginjal kronis (GGK) sering disertai anemia akibat penurunan produksi eritropoietin oleh ginjal yang mengganggu proses eritropoiesis sehingga menyebabkan penurunan kadar hemoglobin, hematokrit, dan eritrosit. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas terapi kombinasi yang mengandung eritropoietin berdasarkan perubahan kadar hemoglobin, hematokrit, dan eritrosit pada pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis di RSUD Bandung Kiwari periode Januari–Desember 2025. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan retrospektif menggunakan data rekam medis 53 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data dianalisis secara deskriptif, sedangkan analisis statistik dilakukan menggunakan uji normalitas Shapiro–Wilk dan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 62% pasien mencapai target respons peningkatan hemoglobin sebesar 0,5–1,5 g/dL. Terapi kombinasi epoetin alfa dan asam folat serta kombinasi epoetin alfa, asam folat, dan vitamin B12 meningkatkan kadar hemoglobin, hematokrit, dan eritrosit secara signifikan (p<0,05). Disimpulkan bahwa terapi kombinasi yang mengandung eritropoietin efektif meningkatkan kadar hemoglobin, hematokrit, dan eritrosit pada pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis.
Pola Peresepan Obat Pasien Gagal Jantung Kongestif RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Muhammad Ilham Al Ghifari; Bambang Tri Laksono; Andrian Hoerul Anwar
Bandung Conference Series: Pharmacy 311 - 320
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24807

Abstract

Abstract. Heart failure is a leading cause of global morbidity and mortality, presenting a significant burden on healthcare systems. The complexity of pharmacological therapy for chronic heart failure requires systematic evaluation to ensure clinical effectiveness and medication adherence. This study aims to evaluate the prescribing patterns of primary and adjunctive drugs based on demographic characteristics in congestive heart failure patients at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in the 2025 period. This research is a descriptive observational study with a retrospective cross-sectional design. Samples were obtained through a total sampling technique from the medical records of outpatient cases (ICD-10: 150.0) for the January-December 2025 period. Out of 258 samples, patients were predominantly male (60.85%) and aged 45-64 years (55.04%). The primary heart failure drug prescribing pattern was dominated by diuretics (36.83%) and beta-blockers (25.93%), with the main active ingredients being spironolactone, furosemide, and bisoprolol. Meanwhile, the adjunctive drug prescribing pattern was mostly dominated by antiplatelets (30.84%), statin antidyslipidemics (27.44%), and PPI gastroprotectors (14.12%). Abstrak. Gagal jantung merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas global yang memberikan beban signifikan pada sistem pelayanan kesehatan. Kompleksitas terapi farmakologis untuk gagal jantung kronis memerlukan evaluasi sistematis untuk memastikan efektivitas klinis dan kepatuhan pengobatan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pola peresepan obat utama dan obat penunjang berdasarkan karakteristik demografi pada pasien gagal jantung kongestif di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung periode 2025. Penelitian ini merupakan studi observasional deskriptif dengan desain cross-sectional retrospektif. Sampel diambil melalui teknik total sampling dari rekam medis pasien rawat jalan (ICD-10: 150.0) periode Januari hingga Desember 2025. Dari 258 sampel, pasien paling banyak adalah laki-laki (60,85%) dan kelompok usia 45–64 tahun (55,04%). Pola peresepan obat gagal jantung utama didominasi golongan diuretik (36,83%) dan beta bloker (25,93%), dengan zat aktif utama spironolakton, furosemide, dan bisoprolol. Sementara itu, pola peresepan obat penunjang terbanyak didominasi oleh golongan antiplatelet (30,84%), antidislipidemia statin (27,44%), dan gastroprotektor PPI (14,12%).
Efektivitas Bisoprolol pada Denyut Jantung Pasien Gagal Jantung di RS X Kintari Nabila; Bambang Tri Laksono; Andrian Hoerul Anwar
Bandung Conference Series: Pharmacy 391 - 398
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24965

Abstract

Abstract. Heart failure is a cardiovascular disease with high morbidity and mortality rates. Bisoprolol as a beta-blocker is recommended in the treatment of heart failure because it can reduce heart rate and improve patient clinical outcomes. This study aims to evaluate the effectiveness of bisoprolol in the therapy regimen for congestive heart failure on reducing heart rate in Hospital X. This study used an observational analytical method with a retrospective cohort design in 131 patients selected using a total sampling technique. Data were analyzed using the One-Way ANOVA test with a significance level of p < 0.05. The results showed a significant difference in the average reduction in heart rate between bisoprolol dose groups (p = 0.007). The Tukey HSD test showed that a significant difference was only found between doses of 1.25 mg and 2.5 mg (p = 0.010), with a greater average reduction in heart rate at the 2.5 mg dose. Abstrak. Gagal jantung  merupakan penyakit kardiovaskular dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Bisoprolol sebagai beta-blocker direkomendasikan dalam pengobatan gagal jantung karena dapat menurunkan denyut jantung dan memperbaiki hasil klinis pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas bisoprolol dalam regimen terapi gagal jantung terhadap penurunan denyut jantung di RS X. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain kohort retrospektif pada 131 pasien yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dianalisis menggunakan uji One-Way ANOVA dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada rata-rata penurunan denyut jantung antar kelompok dosis bisoprolol (p = 0,007). Uji Tukey HSD menunjukkan bahwa perbedaan signifikan hanya terdapat antara dosis 1,25 mg dan 2,5 mg (p = 0,010), dengan rata-rata penurunan denyut jantung yang lebih besar pada dosis 2,5 mg.
Pengaruh Regimen Terapi Penyakit Jantung terhadap Kadar Kalium di RSUD Welas Asih Provinsi Jawa Barat Periode 2025 Nabila Nuzulhaq Aghnia Fahma; Fetri Lestari; Andrian Hoerul Anwar
Bandung Conference Series: Pharmacy 967 - 974
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.26291

Abstract

Abstract. Potassium balance is important to monitor in cardiovascular disease patients, as changes in potassium levels can affect cardiovascular status. Cardiac drug regimens, particularly diuretics and agents acting on the renin-angiotensin-aldosterone system, may alter potassium levels through different mechanisms, yet outpatient monitoring is often insufficient. This study aimed to describe potassium levels according to cardiac drug regimens among outpatients with cardiovascular disease at Welas Asih Regional Hospital, West Java Province, in 2025. This retrospective observational study used medical records of outpatients with cardiovascular disease as secondary data. Drug regimens were grouped by drug class based on potential effect on potassium balance, and data were processed descriptively to determine the distribution and mean potassium level per group. Of 159 patients, 149 were categorized into the predefined groups. Mean potassium level was 3.91 mEq/L, with hypokalemia in 32 patients (21.48%), normal levels in 116 patients (77.85%), and hyperkalemia in 1 patient (0.67%). The loop diuretic monotherapy group showed the highest hypokalemia proportion (43.75%), while the MRA-ACEI/ARB combination group showed the highest mean potassium and hyperkalemia occurrence (5.88%). Potassium levels varied across regimen groups. Regular monitoring is recommended for patients receiving therapy that may affect electrolyte balance to support treatment safety. Abstrak. Keseimbangan kadar kalium penting dipantau pada pasien penyakit jantung karena perubahan kadar kalium dapat mempengaruhi kondisi kardiovaskular. Regimen obat jantung, terutama diuretik dan obat yang bekerja pada sistem renin-angiotensin-aldosteron, dapat mempengaruhi kadar kalium melalui mekanisme farmakologis berbeda, namun pemantauan pada pasien rawat jalan masih sering kurang diperhatikan. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran kadar kalium berdasarkan regimen obat jantung pada pasien rawat jalan penyakit jantung di RSUD Welas Asih, Provinsi Jawa Barat, tahun 2025. Penelitian observasional retrospektif ini menggunakan data rekam medis pasien rawat jalan penyakit jantung sebagai data sekunder. Regimen obat dikelompokkan berdasarkan golongan obat sesuai potensi pengaruhnya terhadap kadar kalium, lalu data diolah deskriptif untuk melihat distribusi dan rata-rata kadar kalium tiap kelompok. Dari 159 pasien, 149 pasien dapat dikelompokkan sesuai kelompok regimen yang ditentukan. Rata-rata kadar kalium sebesar 3,91 mEq/L, dengan hipokalemia pada 32 pasien (21,48%), kadar normal pada 116 pasien (77,85%), dan hiperkalemia pada 1 pasien (0,67%). Kelompok diuretik loop tunggal menunjukkan proporsi hipokalemia tertinggi (43,75%), sedangkan kelompok kombinasi MRA dengan ACEI/ARB menunjukkan rata-rata kadar kalium tertinggi dan kejadian hiperkalemia sebesar 5,88%. Kadar kalium bervariasi antar kelompok regimen obat jantung. Pemantauan kadar kalium berkala disarankan bagi pasien penerima terapi berpotensi mempengaruhi keseimbangan elektrolit guna mendukung keamanan pengobatan.