Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengabdian Masyarakat Internasional sebagai Diplomasi Pendidikan bagi Anak Pekerja Migran Indonesia di Sanggar Bimbingan Klang Gate, Malaysia Syafiuddin Fadlillah; Ujang Komarudin; Yuherina Gusman; Heri Herdiawanto; Ramdhan Muhaimin; R. Mokhamad Luthfi; Rizal A. Hidayat; Wildan Faisol; Annis Alfitriya Syahida
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Universitas Al Azhar Indonesia Vol 8, No 3 (2026): Agustus 2026
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/jpm.v8i3.5644

Abstract

Anak pekerja migran Indonesia di Malaysia menghadapi tantangan pendidikan yang berkaitan dengan keterbatasan dokumen identitas, akses sekolah formal, dukungan keluarga, dan keberlanjutan pendidikan. Sanggar Bimbingan Klang Gate hadir membantu sebagai ruang belajar informal yang mendampingi anak pekerja migran Indonesia memperoleh pendidikan dasar dan membangun cita-cita masa depan. Kegiatan pengabdian masyarakat internasional ini bertujuan memperkuat motivasi pendidikan murid, alumni, dan orang tua/wali murid SB Klang Gate sekaligus menempatkan pengabdian perguruan tinggi sebagai bentuk diplomasi pendidikan. Kegiatan dilaksanakan oleh Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Al-Azhar Indonesia (Prodi HI UAI) bekerja sama dengan International Islamic University Malaysia dan SB Klang Gate pada tanggal 26-28 September 2025 di Kuala Lumpur, Malaysia. Kegiatan ini diikuti oleh 44 peserta yang terdiri atas murid, alumni, orang tua/wali murid, guru SB Klang Gate, serta delegasi UAI dan IIUM. Metode kegiatan yang dilakukan meliputi motivasi pendidikan, diskusi interaktif, kuis edukatif, dialog dengan guru dan wali murid, serta observasi kebutuhan pembelajaran. Tahapan kegiatan mencakup koordinasi mitra, pembukaan, identifikasi masalah, penyampaian motivasi, diskusi reflektif, dan perumusan tindak lanjut. Hasil kegiatan menunjukkan meningkatnya antusiasme murid dalam menyampaikan cita-cita, menguatnya kesadaran orang tua terhadap pendidikan anak, serta teridentifikasinya kebutuhan pendampingan belajar pada bidang Matematika, Bahasa Indonesia, dan IPA. Kata kunci: Anak Pekerja Migran, Diplomasi Pendidikan, Malaysia, Pengabdian Masyarakat Internasional, Sanggar Bimbingan
Yusuf al-Qaradawi and the Genealogy of Islamic Populist Politics in Indonesia Ujang Komarudin
SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum Vol. 5 No. 4 (2026): SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum, Agustus 2026
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/seikat.v5i4.2868

Abstract

This article analyzes the influence of Yusuf al-Qaradawi’s thought on the genealogy of Islamic populist politics in post-Reformasi Indonesia. The study is grounded in the growing mobilization of religious identity, the rise of Islamic moral politics, and the increasing use of “ummah”-based narratives within contemporary Indonesian democratic dynamics. In this context, Islam is not only understood as a spiritual identity but also as a political resource that shapes public discourse and electoral contestation. Methodologically, this research employs a qualitative approach using political genealogy analysis to trace the relationship between transnational Islamic thought and the development of Islamic populism in Indonesia. This approach enables a historical and contextual examination of how ideas circulate, transform, and are reinterpreted within specific socio-political environments. The theoretical framework used is Vedi R. Hadiz’s theory of Islamic populism, which conceptualizes Islamic populism as a form of identity-based political mobilization constructed through a dichotomy between the “ummah” and the elite. The findings show that Yusuf al-Qaradawi’s thought has made a significant contribution to the formation of Islamic political discourse in Indonesia. His key concepts—such as syumuliyyah al-Islam (the comprehensiveness of Islam), Muslim political participation, Islamic morality in public life, and global Muslim solidarity—have provided intellectual and moral foundations for various Islamic movements. The dissemination of his ideas has occurred through multiple channels, including campus da’wah networks, the tarbiyah movement, Islamic publishing houses, satellite television, graduates of Middle Eastern universities, and, more recently, digital media platforms. The study also finds that al-Qaradawi’s thought has undergone processes of adaptation and localization within Indonesia’s pluralistic and multicultural democratic context. His ideas are not adopted in a uniform manner but are reinterpreted according to local political and cultural conditions. The relevance of his intellectual legacy is evident in the rise of Islamic identity politics, religiously based mass mobilization, digital da’wah practices, and moralized political narratives within Indonesian Islamic populism. In conclusion, Yusuf al-Qaradawi’s thought constitutes one of the key intellectual and moral foundations of Islamic populist politics in Indonesia. However, its influence is neither singular nor deterministic, as it continuously interacts with domestic socio-political dynamics, digital media ecosystems, and broader cultural transformations within contemporary Indonesian Muslim society.