Dody Herdianto
Politeknik Penerbangan Indonesia Curug

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Analisis Kegagalan dan Prediksi Umur Pakai Flow Control Valve Airbus A320 Menggunakan Distribusi Weibull Putu Diah Ayu Yogantari Sukabumi; Wahyu Cakra Nugraha; Dody Herdianto
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 5 No. 2 (2026): September 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v5i2.9185

Abstract

PACK Flow Control Valve (FCV) merupakan komponen utama sistem Air Conditioning PACK pesawat Airbus A320 yang mengatur aliran bleed air bertekanan dan bertemperatur tinggi sebelum udara diproses dan didistribusikan ke kabin. Data internal PT GMF AeroAsia mencatat 41 kejadian unscheduled removal komponen FCV P/N 1806D0000-01 sepanjang periode 2020–2025, sehingga menimbulkan peningkatan beban perawatan, penurunan redundansi Environmental Control System, dan potensi gangguan dispatch reliability. Kondisi tersebut belum didukung oleh analisis keandalan berbasis data time to failure, sehingga penentuan waktu pemeriksaan komponen masih bersifat korektif. Penelitian ini bertujuan menentukan karakteristik kegagalan, Mean Time to Failure (MTTF), tingkat reliability, Cumulative Distribution Function (CDF), failure rate, prediksi umur pakai, serta usulan interval preventive maintenance pada komponen tersebut. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan Distribusi Weibull dua parameter, yaitu shape parameter (β) dan scale parameter (η). Metode ini dipilih karena mampu memodelkan berbagai pola kegagalan komponen sekaligus menghasilkan estimasi parameter keandalan pada data kegagalan berukuran terbatas. Nilai Time Since Installation digunakan sebagai Time to Failure dengan rentang 928 FH hingga 29.774 FH dan rata-rata 15.608,63 FH. Pengolahan data dilakukan melalui pengurutan TTF, penentuan adjusted rank, perhitungan Benard’s Median Rank, transformasi variabel X dan Y, serta regresi linier. Hasil analisis menghasilkan β sebesar 2,015375676 dan η sebesar 18.009,99 FH dengan koefisien determinasi 0,8421, sehingga komponen berada pada fase wear-out. Nilai MTTF diperoleh sebesar 15.958,83 FH dengan reliability 45,67%, CDF 54,33%, dan failure rate 0,00009897 kegagalan per FH. Analisis B-Life menghasilkan B10 sebesar 5.896,31 FH, B20 sebesar 8.556,39 FH, dan B30 sebesar 10.798,36 FH. Berdasarkan acuan reliability 70%, penelitian menyimpulkan bahwa MTTF tidak tepat digunakan langsung sebagai batas penggantian dan merekomendasikan functional atau operational check pada kisaran 10.800 FH, monitoring awal pada 5.800–6.000 FH, serta evaluasi penggantian terencana sebelum 15.500 FH. Penelitian lanjutan disarankan mengintegrasikan Failure Mode and Effect Analysis, Root Cause Analysis, dan optimasi biaya perawatan.
Pengaruh Drain Fueling After Remain Over Night Terhadap Pertumbuhan Mikroba Boeing 737-8 MAX Muhammad Rafli; Wahyu Cakra Nugraha; Dody Herdianto
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 5 No. 2 (2026): September 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v5i2.9186

Abstract

Keandalan sistem bahan bakar pada pesawat terbang modern, khususnya Boeing 737-8 MAX, sangat bergantung pada ketepatan prosedur pemeliharaan preventif yang dilakukan. Salah satu tantangan teknis yang krusial dalam operasional harian adalah potensi kontaminasi mikrobiologi yang dipicu oleh akumulasi air bebas di dalam tangki bahan bakar. Fenomena ini sering kali terjadi ketika pesawat mengalami fase Remain Over Night (RON), di mana durasi parkir yang panjang memungkinkan terjadinya proses kondensasi akibat fluktuasi suhu lingkungan, yang secara termodinamika mengubah uap air di ruang tangki menjadi tetesan air bebas (free water). Air bebas inilah yang menjadi media utama bagi pertumbuhan mikroorganisme patogen, terutama jamur Hormoconis resinae, yang dikenal sebagai jamur bahan bakar jet karena kemampuannya memproduksi asam organik yang memicu korosi struktur tangki aluminium dan membentuk lapisan lendir (slime mats) yang dapat menyumbat filter bahan bakar. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi secara mendalam efektivitas prosedur drain fueling harian dalam mereduksi penumpukan air kondensasi serta menekan pertumbuhan koloni mikroba pada armada Boeing 737-8 MAX milik PT. Airfast Indonesia. Metode penelitian yang diterapkan adalah eksperimen kuantitatif dengan pendekatan komparatif, menggunakan alat uji MicrobMonitor2 untuk menghitung secara presisi jumlah Colony Forming Units (CFU) dalam sampel bahan bakar. Penelitian ini membagi subjek observasi ke dalam dua kelompok perlakuan: kelompok pertama sebagai kontrol yang tidak mendapatkan perlakuan drainase rutin pasca RON, dan kelompok kedua sebagai variabel uji yang mendapatkan prosedur drainase secara terjadwal setiap hari pasca fase RON. Pengambilan sampel dilakukan pada enam titik observasi dengan masa inkubasi media gel selama empat hari untuk mendapatkan data populasi mikroba yang valid dan akurat. Hasil analisis data menunjukkan perbedaan tingkat kontaminasi yang sangat drastis dan signifikan secara statistik antara kedua kelompok perlakuan. Kelompok pertama yang tidak mendapatkan intervensi drainase menunjukkan indikasi proliferasi mikroba yang sangat berat, dengan estimasi tingkat kontaminasi mencapai nilai ≥ 10⁵ - 10⁶ CFU/L. Tingkat ini jauh melampaui ambang batas toleransi operasional, sehingga menempatkan bahan bakar pada status kontaminasi “Heavy” atau berat, yang secara teknis mewajibkan tindakan korektif segera melalui aplikasi biocide dan inspeksi visual menyeluruh ke dalam tangki bahan bakar guna mencegah kerusakan struktural lebih lanjut. Sebaliknya, hasil pengujian pada kelompok kedua yang disiplin menerapkan prosedur drain fueling harian pasca fase RON menunjukkan hasil yang sangat memuaskan. Observasi visual konsisten menunjukkan ketiadaan pertumbuhan koloni yang signifikan, dengan estimasi tingkat kontaminasi berhasil ditekan hingga berada di level terendah, yaitu < 2.000 CFU/L. Data ini mengonfirmasi bahwa status kontaminasi bahan bakar pada kelompok tersebut tetap terjaga pada kategori “Negligible” atau aman, sesuai dengan standar operasional yang ditetapkan oleh Aircraft Maintenance Manual (AMM) serta pedoman International Air Transport Association (IATA). Kesimpulan akhir dari penelitian ini menegaskan bahwa prosedur drain fueling harian pasca fase RON bukan sekadar rutinitas pemeliharaan, melainkan mitigasi primer yang sangat efektif untuk memutus siklus pertumbuhan mikroorganisme di lingkungan tangki bahan bakar. Konsistensi dalam pelaksanaan prosedur ini terbukti secara empiris mampu menjaga integritas struktural tangki, mencegah potensi Microbiologically Influenced Corrosion (MIC), dan memastikan keandalan sistem bahan bakar yang sangat krusial bagi keselamatan penerbangan. Penelitian ini merekomendasikan pengetatan prosedur pengawasan harian dan edukasi sterilitas bagi personel teknisi untuk memastikan efektivitas pemeliharaan yang berkesinambungan.
Analisis Kegagalan Brake Servo Valve Hydraulic System Blue Pada Main Landing Gear Pesawat Airbus A330 dengan Metode FMEA dan FTA di PT. XYZ Bhisma Bimantara; Lilies Esthi Riyanti; Dody Herdianto
Jurnal Teknik Mesin, Elektro dan Ilmu Komputer Vol. 6 No. 1 (2026): Maret : Jurnal Teknik Mesin, Elektro dan Ilmu Komputer
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/teknik.v6i1.8651

Abstract

Aircraft maintenance is an essential aspect of aviation aimed at ensuring airworthiness and keeping components in optimal condition to minimize accidents. The landing gear system supports the aircraft during ground operations, takeoff, and landing, with the Alternate Brake Servo Valve serving as a vital component that regulates hydraulic pressure in the brake system. The failure of Alternate Brake Servo Valve P/N C20374000-2 on Airbus A330 aircraft at PT GMF AeroAsia Tbk has resulted in 57 unscheduled removals between 2020–2024. This study aims to analyze the factors causing these failures, identify the root causes, and provide improvement recommendations. The methods used are Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) to identify failure modes and calculate the Risk Priority Number (RPN), and Fault Tree Analysis (FTA) to determine root causes. The analysis shows that Leak From Connection is the dominant failure mode with the highest RPN value (210). The FTA results indicate that the main causes include the absence of specific maintenance procedures, uneven standard practices training, lack of reinspection by Inspectors, non-compliance with manuals, and inaccurate tools used. Based on these findings, several corrective actions are proposed, including developing specific inspection procedures, providing comprehensive standard practices training, implementing a double-check system, emphasizing adherence to the Aircraft Maintenance Manual (AMM), and conducting periodic tool calibration.
Analisis Penyebab Kegagalan Power Conditioning Module pada Sistem Thrust Reverser Engine Rolls-Royce Trent-700 pada Pesawat Airbus A330-300 di PT. GMF AeroAsia, Tbk. Muhammad Arif Setiyanto; Wahyu Cakra Nugraha; Dody Herdianto
Jurnal Teknik Mesin, Elektro dan Ilmu Komputer Vol. 6 No. 1 (2026): Maret : Jurnal Teknik Mesin, Elektro dan Ilmu Komputer
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/teknik.v6i1.8684

Abstract

This study aims to analyze the causes of Power Conditioning Module (PCM) component failure in the Thrust Reverser system of the Rolls-Royce Trent-700 engine used on the Airbus A330-300 aircraft at PT GMF AeroAsia, Tbk. The thrust reverser system is crucial for aircraft braking; thus, its failure affects flight safety and operational efficiency. Based on defect fault data from 2019–2024, there were 68 cases of thrust reverser failure, with 21 cases related to PCM malfunction. The analysis method used a Pareto diagram to identify major causes, followed by Root Cause Analysis (RCA) using a fishbone diagram and 5 Why’s Analysis. The results show that corrosion on electrical connectors is the main cause of PCM failure, contributing 67% of total cases. Contributing factors include human (lack of technician compliance), method (improper use of PPE and tightening), machine (inadequate tools), and material (corrosion-prone components). The study recommends preventive actions such as regular training on EWIS, Human Factors, and Safety Precautions, strict PPE enforcement, periodic tool inspection, and coordination with manufacturers for improved maintenance guidance. Implementing these recommendations is expected to reduce PCM failure rates and enhance the reliability of the thrust reverser system on the Airbus A330-300 aircraft.