Kesehatan gigi dan mulut pada anak tunagrahita masih menjadi permasalahan karena keterbatasan kognitif danmotorik dapat menghambat kemampuan melakukan perawatan gigi secara mandiri. Guru memiliki peran pentingdalam memberikan edukasi dan pendampingan, tetapi pengetahuan guru belum tentu berbanding lurus dengankondisi kebersihan gigi dan mulut anak. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh tingkat pengetahuanguru terhadap kebersihan gigi dan mulut anak tunagrahita di SLB BC-Optimal Surabaya. Penelitianmenggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi sekaligus sampelpenelitian berjumlah 19 guru yang dipilih menggunakan total sampling. Pengetahuan guru diukur menggunakankuesioner, sedangkan kebersihan gigi dan mulut anak diukur menggunakan Oral Hygiene Index Simplified (OHI-S). Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkanbahwa 73,69% guru memiliki pengetahuan dalam kategori baik, sedangkan kebersihan gigi dan mulut anaksebagian besar berada pada kategori buruk (57,9%). Hasil uji statistik memperoleh p-value 0,646 (>0,05),sehingga tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara tingkat pengetahuan guru dan kebersihan gigi dan mulutanak tunagrahita. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan guru perlu disertai praktikpendampingan, pembiasaan, pengawasan, serta keterlibatan orang tua dan tenaga kesehatan untuk mendukungpemeliharaan kesehatan gigi dan mulut anak tunagrahita.