p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Journal Juridisch
Cita Tsaabiethah Agustria Sasti
Fakultas Hukum, Universitas Semarang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perlindungan Hukum Korban Phishing: Analisis Kriminologi dan Efektivitas Regulasi di Indonesia: Legal Protection for Phishing Victims: Criminological and Regulatory Effectiveness Analysis in Indonesia Moh. Havidz Nevoso; Wahab Aznul Hidaya; Kadi Sukarna; Muhammad Junaidi; Cita Tsaabiethah Agustria Sasti
Journal Juridisch Vol. 4 No. 1 (2026): MARCH
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jj.v4i1.12221

Abstract

This study aims to analyze the criminological factors underlying phishing cybercrime and to assess the effectiveness of legal protection for victims of personal data theft in Indonesia. The core issue lies in the persistence of phishing despite existing legal instruments, indicating a gap between crime etiology and regulatory effectiveness. Academic discourse has largely focused on normative and technical aspects, while criminological analysis of offender motivation and opportunity structures remains limited. This research employs a normative juridical method with statutory and conceptual approaches. Criminological analysis applies strain theory to explain socio-economic pressures as offender motivations and routine activity theory to examine the interaction between motivated offenders, suitable targets, and weak digital guardianship. The findings reveal that phishing expands due to low-risk economic rationality, digital system vulnerabilities, and limited public literacy and supervision. Although regulated under the Electronic Information and Transactions Law and the Personal Data Protection Law, legal protection remains suboptimal due to evidentiary challenges and low enforcement probability. Integrating criminological perspectives is essential to strengthen both preventive and repressive strategies.   Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor kriminologis penyebab phishing cybercrime serta menilai efektivitas perlindungan hukum bagi korban pencurian data pribadi di Indonesia. Permasalahan terletak pada masih maraknya phishing meskipun instrumen hukum telah tersedia, yang menunjukkan kesenjangan antara etiologi kejahatan dan efektivitas regulasi. Kajian akademik selama ini cenderung normatif dan teknis, sementara analisis mengenai motivasi pelaku dan struktur peluang kejahatan masih terbatas. Metode yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan dan konseptual. Analisis kriminologis menggunakan strain theory untuk menjelaskan tekanan sosial-ekonomi sebagai motif pelaku serta routine activity theory untuk mengkaji interaksi antara pelaku termotivasi, target rentan, dan lemahnya pengawasan digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa phishing berkembang karena rasionalitas ekonomi berisiko rendah, kerentanan sistem digital, serta rendahnya literasi dan pengawasan. Meskipun telah diatur dalam UU ITE dan UU Perlindungan Data Pribadi, efektivitas perlindungan hukum belum optimal akibat kendala pembuktian digital dan rendahnya probabilitas penindakan. Integrasi pendekatan kriminologi diperlukan guna memperkuat pencegahan dan penegakan hukum.
Batas Kewenangan Pengadilan dalam Pembatalan Putusan Arbitrase: Studi Kasus Akuisisi TPI: Limits of Court Authority in the Annulment of Arbitral Awards: A Case Study of the TPI Acquisition Vikri Pramana Putra; Muhammad Junaidi; Oktarini Kusniawati; Cita Tsaabiethah Agustria Sasti
Journal Juridisch Vol. 4 No. 1 (2026): MARCH
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jj.v4i1.13332

Abstract

This research is motivated by the controversy surrounding the annulment of the arbitral award in the TPI acquisition case, which reveals a serious conflict between the principle of final and binding arbitration and judicial intervention that exceeds the limits of authority under Law No. 30 of 1999. The urgency of this study lies in the need to critically assess the fractured relationship between courts and arbitration, particularly when courts expand the interpretation of public order and disregard the kompetensi-kompetensi principle, thereby creating legal uncertainty for business actors. Using a normative juridical research method with qualitative analytical techniques based on case study and doctrinal interpretation, this study aims to identify the limits of judicial authority, map the forms of judicial overreach, and explain their implications for arbitral finality. The novelty of this research lies in its structural analysis of judicial practices in the TPI case, which have not been thoroughly examined in previous studies, as well as in its conceptual synthesis of authority theory, finality principles, and arbitral institutional design. The findings provide theoretical contributions by refining the understanding of the limits of judicial authority and offer practical benefits in the form of judicial and regulatory reform recommendations to strengthen the integrity of Indonesia’s arbitration system.   Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kontroversi pembatalan putusan arbitrase dalam kasus akuisisi TPI, yang memperlihatkan benturan serius antara asas final and binding arbitrase dengan praktik intervensi pengadilan yang melampaui batas kewenangan menurut UU 30/1999. Urgensi penelitian ini terletak pada kebutuhan untuk menilai secara kritis keretakan hubungan antara pengadilan dan arbitrase, terutama ketika pengadilan memperluas tafsir ketertiban umum dan mengabaikan prinsip-prinsip kompetensi hingga menimbulkan ketidakpastian hukum bagi pelaku usaha. Menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan teknik analisis kualitatif berbasis studi kasus dan penafsiran doktrinal, penelitian ini bertujuan mengidentifikasi batas kewenangan pengadilan, memetakan bentuk judicial overreach, serta menjelaskan implikasinya terhadap finalitas arbitrase. Kebaruan penelitian ini terletak pada analisis struktural terhadap praktik yudisial dalam perkara TPI yang selama ini belum diurai secara mendalam dalam penelitian terdahulu, serta sintesis konseptual antara teori kewenangan, asas finalitas, dan desain kelembagaan arbitrase. Hasil penelitian memberikan kontribusi teoretis berupa pemurnian pemahaman batas kewenangan pengadilan dan manfaat praktis berupa rekomendasi reformasi yudisial dan regulatif untuk memperkuat integritas sistem arbitrase Indonesia.