Biokonversi limbah organik menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF; Hermetia illucens) menghasilkan biomassa larva dan material residu yang masih berpotensi mengandung komponen nutrien bernilai. Karakteristik fisik substrat, khususnya ukuran partikel, diperkirakan memengaruhi proses biokonversi serta distribusi nutrien antara biomassa larva dan residu yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh ukuran partikel substrat terhadap proses biokonversi, bobot maggot, hasil residu, serta kandungan nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K) pada residu sebagai informasi awal mengenai potensinya sebagai bahan pakan ternak. Penelitian dilaksanakan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial 3 × 2 dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah ukuran partikel substrat yang terdiri atas bahan tanpa penggilingan (T0), penggilingan menggunakan ukuran 40 mesh (T1), dan penggilingan menggunakan ukuran 60 mesh (T2), sedangkan faktor kedua adalah kondisi sebelum (A1) dan setelah (A2) biokonversi. Substrat yang digunakan terdiri atas limbah organik rumah tangga, sisa pakan ternak, dan kotoran domba. Parameter yang diamati meliputi waktu biokonversi, pH, bobot maggot, bobot residu, serta kandungan N, P, dan K. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA), dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan pada taraf P<0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran partikel substrat berpengaruh nyata terhadap parameter yang diamati. Perlakuan T2 menghasilkan waktu biokonversi tercepat, yaitu 1,60 hari, dengan bobot residu akhir sebesar 30,00 g. Konsentrasi N, P, dan K tertinggi pada residu setelah biokonversi juga diperoleh pada perlakuan T2, masing-masing sebesar 45,33; 63,67; dan 147,33 ppm. Sebaliknya, bobot maggot akhir pada T2 sebesar 29,67 g, lebih rendah dibandingkan dengan T0 yang mencapai 187,67 g. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ukuran partikel substrat memengaruhi pemanfaatan substrat dan distribusi nutrien selama proses biokonversi BSF. Residu yang dihasilkan masih mengandung komponen nitrogen dan mineral yang berpotensi untuk dievaluasi lebih lanjut sebagai bahan pakan ternak. Namun, diperlukan evaluasi menyeluruh terhadap komposisi nutrien, kecernaan, palatabilitas, dan keamanan sebelum residu tersebut dapat direkomendasikan untuk digunakan dalam ransum ternak.