Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

KLASIFIKASI TINGKAT KEMATANGAN GONAD DAN PEMIJAHAN IKAN TONGKOL KOMO BETINA (EUTHYNNUS AFFINIS (CANTOR, 1849)) YANG DIDARATKAN DI KEDONGANAN- BALI arnenda, gussasta levi; Wiratmini, Ngurah Intan; Wijana, I Made Sara
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 15, No 3 (2023): (DESEMBER) 2023
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.15.3.2023.132-146

Abstract

Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia di Samudera Hindia dengan kode WPP-RI 572 dan 573 kaya akan potensi sumber daya ikan yang didominasi oleh ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis (Cantor, 1849). Pemanfaatan ikan Tongkol Komo telah melampaui batas optimal dengan tekanan penangkapan yang tinggi. Biologi reproduksi Tongkol Komo perlu diketahui untuk memastikan keberadaannya di alam. Tujuan dari penelitian ini adalah Tahap Kematangan Gonad (TKG) dan pemijahan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari, April, Juni hingga Desember 2020. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan langsung di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Kedonganan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive stratified sampling. Analisis histologi di Laboratorium Penelitian Perikanan Tuna, Denpasar. Hasil yang diperoleh bahwa pola pertumbuhan tuna komo didominasi oleh pola alometrik positif dengan sebaran panjang 20-65cmFL. Ukuran pertama kali matang gonad (Lm) untuk betina 44,07 cmFL. Tingkat Kematangan Gonad (TKG) pada klasifikasi makroskopis dan mikroskopis perkembangan gonad didominasi oleh ikan yang belum matang gonad. Musim pemijahan pada bulan Agustus dan Desember.
PENDUGAAN STOK IKAN TUNA (Thunnus spp.) MENGGUNAKAN MODEL PRODUKSI SURPLUS (MPS) DI PERAIRAN SAMUDERA HINDIA (STUDI KASUS: SELATAN JAWA TIMUR) arnenda, gussasta levi; Kusuma, Dimas Amirul; Fergiawan, Dimas Galang
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 3 No. 2 (2019): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2019.003.02.15

Abstract

Sumberdaya ikan tuna (Thunnus spp.) merupakan salah satu jenis ikan pelagis besar yang dominan ditangkap di Samudera Hindia pada perairan Jawa Timur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengestimasikan nilai potensi tangkap maksimum lestari(MSY) dan nilai jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB), status sumberdaya, jumlah stok ikan tuna pada tahun 2015, dan manajemen pengelolaan sumberdaya perikanan untuk mencapai stok ikan tuna yang optimum di perairan Samudera Hindia pada perairan Jawa Timur. Data sekunder menggunakan data statistik perikanan tangkap Jawa Timur tahun 1990-2015. Berdasarkan hasil analisis didapatkan nilai potensi maksimum tangkap lestari dengan menggunakan model Fox (1970) didapatkan nilai fMSY 1.226.054 trip dan nilai YMSY 2.926,59 ton. Kondisi pada saat JTB didapatkan nilai fJTB 578.296 trip dan YJTB 2.341,27 ton. Tingkat pengusahaan sumberdaya ikan tuna dengan acuan nilai fJTB didapatkan nilai 107% dan pemanfaatan biomass dengan acuan nilai JTB yang didapatkan dari non-quilibrium model didapatkan sisa biomass pada tahun 2015 80% dari biomass saat JTB, sehingga didapatkan status perikanan tuna over exploited. Pendugaan stok pada tahun 2015 sebesar 11.990,85 ton atau 80% dari biomass pada saat JTB. Manajemen pengelolaan sumberdaya ikan tuna di Samudra Hindia pada periaran Jawa Timur dengan mensimulasikan upaya penangkapan pada tahun 2016-2025 setara dengan upaya penangkapan tahun 2015 yaitu 486.017 trip dan menghasilkan biomass 12.701,98 ton. 
FAKTOR OPERASIONAL YANG BERPENGARUH TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis ) DAN MADIDIHANG (Thunnus Albacares) DI PERAIRAN BITUNG, SULAWESI UTARA Arnenda, Gussasta Levi; Akhbar, Dahrul; Kusdinar, Afriana
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 4 No. 2 (2020): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2020.004.02.3

Abstract

Sumber daya ikan yang berada di perairan Bitung, Sulawesi Utara sangat tinggi baik dari segi jumlah maupun potensi pemanfaatan. Salah satu komoditas unggulan adalah Cakalang dan Tuna yang di tangkap menggunakan pole and line (huhate). Hasil tangkapan spesies ini adalah yang paling dominan dari spesies tuna lainnya. Pemahaman yang baik tentang faktor operasional sangat berguna untuk menentukan strategi penangkapannya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan strategi penangkapan ikan cakalang (katsuwonus pelamis )dan madidihang (thunnus albacares) dalam upaya penangkapan  yang efektif dan efisien. penelitian dilakukan sepanjang bulan desember 2017 hingga bulan maret 2018 melalui pengambilan data dilakukan dengan mengikuti operasi penangkapan secara langsung dengan menggunakan kapal pole and line zyang berbasis di Bitung, Sulawesi Utara. Data tersebut meliputi data hasil tangkapan dan suhu permukaan laut (SPL) yang diukur secara langsung (in situ). Hasil penelitian diperoleh factor pengoperasian sangat berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan madidihang, dan tidak memiliki pengaruh terhadap ikan cakalang.
INTERAKSI BEBERAPA FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP HASIL TANGKAPAN PER UNIT USAHA ( CATCH PER UNIT EFFORT) ALBAKORA (Thunnus Alalunga Bonnaterre,1788) DI SAMUDRA HINDIA Arnenda, Gussasta Levi; Rochman, Fathur
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 3 No. 3 (2019): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2019.003.03.14

Abstract

Produksi sumber daya ikan akan selalu mengalami kenaikan dan penurunan secara alami. Perikanan tuna masih menjadi komoditas ekspor penting di Indonesia. Albakora merupakan spesies tuna yang selalu ada keberadaannya sepanjang tahun. Hasil tangkapan spesies ini adalah yang paling dominan dari spesies tuna lainnya. Pemahaman yang baik tentang interaksi berbagai faktor musim, daerah penangkapan, jumlah pancing antar pelampung dan kombinasi umpan sangat berguna untuk menentukan strategi penangkapannya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan strategi penangkapan dalam upaya penangkapan albacore yang efektif dan efisien.Penelitian dilakukan sepanjang bulan Januari 2006 sampai dengan Oktober 2015 melalui metode pengamatan dan pencatatan spesies albakora secara langsung oleh obsever diatas kapal longline yang berbasis di pelabuhan perikanan muara baru (Jakarta), Pelabuhan ratu (Jawa Barat), Cilacap (Jawa Tengah), dan Benoa (Bali). Hasil penelitian diperoleh faktor umpan memiliki pengaruh terbesar daripada seluruh faktor. Interaksi terbesar adalah antara daerah penangkpan dengan umpan. Pada faktor musim, musin muson barat dan muson timur tidak memiliki pengaruh yang signifikan. Faktor darah penangkapan, diluar ZEE memiliki nilai rata-rata CPUE lebih tinggi dari  didalam ZEE. Faktor jumlah pancing antar pelampung tidak memiliki pengaruh yangsignifikan. Faktor umpan, ikan layang memiliki nilai signifikan tertinggi.  Interaksi dari beberapa faktor terhadap CPUE hasil tangkapan ALB diketahui bahwa faktor umpan memiliki pengaruh terbesar daripada faktor lainnya, dan interaksi yang paling berpengaruh adalah interaksi anatara faktor umpan dengan faktor daerah penangkapan Strategi penangkapan dapat dilakukan pada daerah penangkapan diluar ZEE dengan umpan iakn layang, baik pada musim muson barat ataupun timur agar penangkapan ikan efektif dan efisien
CPUE STANDARDIZATION OF CATCH PER UNIT OF EFFORT (CPUE) OF ALBACORE (Thunnus alalunga) CAUGHT FROM LONGLINE FISHERY IN THE EASTERN INDIAN OCEAN Rochman, Fathur; Sulistyaningsih, Ririk Kartika; Arnenda, Gussasta Levi
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 5 No. 1 (2021): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2021.005.01.18

Abstract

Albacore (Thunnus alalunga) is sub-tropical tuna that live in the high seas of the Pacific, Atlantic and Indian Ocean. The average catches of albacore from 2013-2017 was 36,235 ton per year. The stock status of the Indian Ocean albacore estimated near  overfished. The aims of this study  is to provide the CPUE standardization of Indonesian tuna longline operated in the Eastern Indian Ocean. This information is important to give the development indication of albacore fisheries in the Indian Ocean. Data were analyzed from onboard observer program during 2006-2018 consist of 2,811 setting. Data then will be analysis using GLM (Generalized Linear Models) include explanatory variables as supporting variables. The result showed that the explanatory variable give a significant contribution to CPUE standardization except the catch season variable This research suggests that the prepared data must include narrower area data (5 x 5 grids of longitude and latitude) and the addition of explanatory variables such as sea surface temperature, sub-surface temperature, dissolved oxygen and abundance of nutrients.
MUSIM PEMIJAHAN TUNA SIRIP KUNING (Thunnus albacares) DI SAMUDRA HINDIA SELATAN JAWA-BALI Arnenda, Gussasta Levi; Hartaty, Hety
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 14, No 1 (2022): (APRIL) 2022
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.14.1.2022.11-19

Abstract

Ikan tuna sirip kuning atau yellowfin Tuna (Thunnus albacares) merupakan salah satu jenis komoditas eksport yang penting bagi Indonesia. Pemanfaatan secara intensif tuna sirip kuning di Samudra Hindia diduga telah mengakibatkan keadaan lebih tangkap. Penelitian ini bertujuan untuk menduga musim pemijahan berdasarkan data biologi reproduksi yang nantinya dapat dimanfaatkan dalam saran pengelolaan perikanan yang lestari. Penelitian di lakukan di perusahaan pengolahan, dan observasi di atas kapal long-line yang berbasis di Pelabuhan Benoa. Penelitian dilakukan selama bulan Januari 2019 - April 2020. Sampel biologi tuna sirip kuning yang diperoleh sebanyak 127 ekor. Analisis histologis dilakukan terhadap sampel gonad di Laboratorium Histologi dengan metode parafin dan pewarnaan HE (Harris-Haemotoxilin dan Eosin). Berdasarkan sampel biologi yang diperoleh, populasi ikan Yellow Fin Tuna (YFT) didominasi oleh ikan dewasa matang gonad dengan status reproduktif aktif (spawning capable, spawning, dan regressing). Hasil pengamatan histologis berdasarkan Most Advanced Group of Oocytes (MAGO) dalam gonad menunjukkan YFT memiliki tipe pemijahan berganda (multiple spawner). Perkembangan oosit YFT adalah asynchronous (tidak seragam) yang ditandai oleh munculnya beberapa tingkat perkembangan oosit dalam satu ovarium. Indeks Kematangan Gonad (IKG) berbanding lurus dengan tingkat perkembangan (kematangan) gonadnya. Puncak musim pemijahan terjadi menjelang akhir tahun (bulan Oktober hingga Desember)Yellowfin tuna (YFT) is one of the important export commodities for Indonesia. Intensive fishing of this species in Indian Ocean has likely been nearly overfishing. This study aims to determine the spawning season based on reproductive biology that can be used in sustainable fisheries management. The research was carried out in processing companies, and on board long-line vessels based at Benoa Harbor conducted in January 2019 - April 2020. Samples of yellowfin tuna obtained were 127 tails. Histological analysis was performed in the Histology Laboratory using the paraffin method and HE staining (Harris-Haemotoxilin and Eosin). The sample was surgically removed by taking a pair of gonads and weighed (WG) with grams. The results of histological observations revealed that the Most Advanced Group of Oocytes (MAGO) in YFT gonads varied so that the development of oocyte was asynchronous (non-uniform) which was characterized by the emergence of several levels of oocyte development in one ovary. Gonado somatic index (GSI) was proportional with the level of gonad development. The peak of the spawning season occurs towards the end of the year in October to December.