Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Evaluasi Pendidikan Dalam Perspektif Al-Qur'an Abdah Muhammad Hasan; Muh. Imamuddin Yusup; Badruzzaman M. Yunus; Endi Suhendi
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.11971

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep evaluasi pendidikan dalam perspektif Al-Qur'an, khususnya makna evaluasi yang terkandung dalam Q.S. At-Thalaq ayat 3. Latar belakang penelitian ini didasari oleh kenyataan bahwa praktik evaluasi pendidikan kontemporer kerap terjebak pada aspek administratif-kognitif semata, sehingga kurang menyentuh dimensi spiritual peserta didik. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi ragam terma evaluasi dalam Al-Qur'an serta menganalisis kandungan tarbawi pada Q.S. At-Thalaq ayat 3. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian kepustakaan (library research) dan metode penafsiran tahlili, yang menelaah ayat secara berurutan meliputi munasabah, asbab an-nuzul, tafsir mufrodat, dan pendapat para mufasir seperti Ibnu Katsir dan M. Quraish Shihab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur'an mengartikulasikan konsep evaluasi melalui delapan terma utama, yaitu al-imtihan, al-fitnah, al-nadzar, al-inba', al-taqdir, al-wazn, al-hisab, dan al-bala', yang masing-masing merepresentasikan dimensi evaluasi afektif, diagnostik, formatif, hingga autentik. Adapun Q.S. At-Thalaq ayat 3 menegaskan bahwa evaluasi sejati dalam pendidikan Islam bermuara pada tawakal, yaitu penyerahan diri yang aktif kepada Allah setelah ikhtiar maksimal dilakukan. Kesimpulannya, evaluasi pendidikan dalam Al-Qur'an bukan sekadar prosedur teknis penilaian kognitif, melainkan instrumen pedagogis yang mengintegrasikan ikhtiar manusia dengan ketetapan Ilahi, sehingga mengantarkan peserta didik pada derajat ketakwaan dan kemuliaan (akram).
Kecerdasan Linguistik Dalam Meningkatkan Kemampuan Berbahasa Peserta Didik (Siswa MTs Di Pondok Pesantren Tahfdizul Qur’an Misbahunnur Kota Cimahi) Muh. Imamuddin Yusup; Abdah Muhammad Hasan; Akhmad Roziqin; Ulfah Ulfah
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.11976

Abstract

Pengembangan kecerdasan linguistik merupakan salah satu aspek penting dalam pendidikan karena berkontribusi terhadap kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi, berpikir kritis, serta membangun interaksi sosial yang efektif. Namun, kajian mengenai peran layanan bimbingan dan konseling dalam mendukung pengembangan kecerdasan linguistik, khususnya pada lingkungan pendidikan berbasis pesantren, masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran layanan bimbingan dan konseling dalam mengembangkan kecerdasan linguistik serta implikasinya terhadap peningkatan kemampuan berbahasa peserta didik di MTs Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur'an Misbahunnur Kota Cimahi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data dijamin melalui teknik triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan linguistik berkembang melalui sinergi antara strategi pembelajaran yang komunikatif, layanan bimbingan dan konseling, budaya literasi, serta lingkungan pesantren yang mendukung praktik komunikasi aktif. Kegiatan seperti diskusi kelompok, presentasi, storytelling, pembiasaan membaca Al-Qur'an, muroja'ah, dan bimbingan kelompok terbukti meningkatkan kemampuan berbicara, membaca, menulis, serta kepercayaan diri peserta didik dalam berkomunikasi. Penelitian ini juga menemukan bahwa guru bimbingan dan konseling berperan tidak hanya sebagai fasilitator penyelesaian masalah, tetapi juga sebagai agen pengembangan kemampuan komunikasi peserta didik. Temuan tersebut memperkaya kajian mengenai integrasi layanan bimbingan dan konseling dengan pengembangan kecerdasan linguistik serta memberikan implikasi praktis bagi pengembangan pembelajaran dan layanan konseling yang berorientasi pada penguatan kompetensi komunikasi peserta didik di lingkungan sekolah dan pesantren.