Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pengaruh Variasi Suhu Pencelupan Menggunakan Ekstrak Kulit Kayu Mangrove (Rhizophora mucronata) terhadap Hasil Pewarnaan pada Kain Rayon Fadhilla Husna; Samuel Martin Pradana; Adriani Adriani; Rima Agustia Utami
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.14073

Abstract

Pewarna alami merupakan salah satu alternatif pewarna tekstil yang lebih ramah lingkungan dibandingkan pewarna sintetis. Kulit kayu mangrove (Rhizophora mucronata) berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber pewarna alami karena mengandung senyawa yang dapat menghasilkan warna pada bahan tekstil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nama warna (hue) dan ketahanan luntur warna terhadap pencucian pada kain rayon yang dicelup menggunakan ekstrak kulit kayu mangrove (Rhizophora mucronata) dengan variasi suhu pencelupan 30°C, 60°C, dan 90°C. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen. Identifikasi nama warna dilakukan menggunakan aplikasi Color Blind Assistant dan penilaian oleh 15 panelis, sedangkan ketahanan luntur warna terhadap pencucian diuji berdasarkan SNI ISO 105-C06:2020 dengan penilaian perubahan warna menggunakan Grey Scale dan penodaan warna menggunakan Staining Scale. Data Grey Scale dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu 30°C menghasilkan warna dominan Wheat Light Brown dengan nilai Grey Scale 1, sedangkan suhu 60°C menghasilkan Raw Sienna dan suhu 90°C menghasilkan Golden Sundance, masing-masing dengan nilai Grey Scale 2. Penilaian Staining Scale pada seluruh variasi suhu menghasilkan nilai 4 pada serat kapas dan 4–5 pada serat poliester. Hasil analisis regresi linear sederhana menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,333 > 0,05, sehingga variasi suhu pencelupan tidak berpengaruh signifikan secara statistik terhadap ketahanan luntur warna berdasarkan Grey Scale. Secara deskriptif, suhu 60°C dan 90°C menunjukkan perubahan warna yang lebih kecil setelah pencucian dibandingkan suhu 30°C, tetapi belum dapat ditentukan satu suhu yang paling optimal karena keduanya memperoleh nilai Grey Scale yang sama.