Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PENGARUH KONSENTRASI ASAM ASETAT DAN RETARDER KATIONIK PADA PROSES PENCELUPAN BENANG POLIAKRILAT MENGGUNAKAN ZAT WARNA BASA Karina Indirani; Samuel Martin Pradana; Wiwiek Eka Mulyani
Texere Vol 20, No 2 (2022): Texere Volume 20 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Politeknik STTT Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53298/texere.v20i2.05

Abstract

Pencelupan benang poliakrilat dengan zat warna basa untuk warna muda sampai medium sering mengalami permasalahan diantaranya adalah ketidakrataan dalam pencelupan. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil pencelupan tersebut adalah penggunaan retarder dan kondisi proses seperti suhu dan pH larutan celup. Pada penelitian ini membahas pengaruh variasi konsentrasi asam asetat dan retarder kationik terhadap ketuaan dan kerataan warna yang dihasilkan dalam proses pencelupan. Selain itu untuk menentukan konsentrasi optimum dari penggunaan asam asetat dan retarder kationik pada proses pencelupan sehingga menghasilkan pencelupan yang sesuai. Varasi konsentrasi asam asetat sebesar 0,5; 1,0; 1,5; dan 2,0 ml/l dan retarder kationik sebesar 0,5; 1,0; 1,5; dan 2,0 ml/l pada suhu 105°C dan waktu pencelupan selama 20 menit dengan metode arrest temperature system. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi asam asetat mengakibatkan hasil celup lebih tua tetapi lebih rata dan makin tinggi konsentrasi retarder kationik maka hasil celup lebih muda tetapi lebih rata. Kondisi optimum diperoleh pada pengerjaan dengan konsentrasi asam asetat 0,5 ml/l menggunakan retarder kationik 0,5 ml/l berdasarkan bobot perangkingan dengan total nilai sebesar 1340. Pada kondisi tersebut nilai K/S 11,46 dengan standar deviasi 0,27 dan nilai tahan luntur warna sebesar 4 – 5.
The Influence of Different Structures of Single-Knit Fabric on the Comfort Properties of Clothes Samuel Martin Pradana; Tommy Yacob Hariandja; Sukma Yudistira; Siti Isma Sari Lubis
JURNAL PENDIDIKAN DAN KELUARGA Vol 15 No 01 (2023): Jurnal Pendidikan dan Keluarga
Publisher : Fakultas Pariwisata dan Perhotelan Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jpk/vol15-iss01/1279

Abstract

The purpose of this research is to determine the characteristics of variations in knitted structures on the comfort properties of materials in the form of porosity and moisture management properties in single knits fabrics. This research was carried out by varying the mesh structure in the form of all knit, knit knit – knit tuck, and variations of knit tuck – tuck knit, which then looked for the porosity value of the material using the image processing method of tresholding color map images by looking at the size of the empty space between materials. To see the properties of moisture management in single knit fabrics can be seen by looking at the value of air permeability, and the moisture management tester. From the experimental results, it was found that the porosity test results for structure 1 obtained a porosity value of 22.04%, for structure 2 it was 29.2% and for structure 3 it was 30.2%. where the test results show that the mesh structure with knit-knit tuck is the best mesh structure with an air permeability value of 735 cm3/cm2/s, and an OMMC value of 0.7447.
Penentuan Kondisi Optimum Nacl Dan Na2co3 Dalam Proses Pencelupan Kain Rajut Kapas-Bambu (60%-40%) Dengan Zat Warna Reaktif (Reactive Blue Brf) Samuel Martin Pradana; Nada Zakiyya Zahra; Rr Wiwiek Eka Mulyani
Texere Vol 21, No 1 (2023): Texere Volume 21 Nomor 1 Tahun 2023
Publisher : Politeknik STTT Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53298/texere.v21i1.01

Abstract

Pengembangan bahan tekstil banyak dilakukan dalam beberapa tahun terakhir, contohnya pembuatan serat dari tanaman bambu. Penggunaan serat bamboo biasanya dicampur dengan serat kapas yang merupakan serat alam untuk menghasilkan kain dengan sifat daya serap terhadap air atau keringat yang tinggi. Penggunaan serat bamboo sebagai bahan tekstil terbarukan diklaim memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan serat kapas, salah satunya adalah daya serapnya yang tinggi. Daya serap tersebut dipengaruhi oleh sifat moisture regain (MR) yang terdapat pada suatu serat. Moisture regain serat bamboo hampir 2 kali lipat daripada moisture regain serat kapas. Perbedaan moisture regain antara serat kapas dan bamboo tersebut dapat menyebabkan perbedaan daya serap pada kain yang terdiri dari campuran serat kapas dan bamboo.Perbedaan daya serap antara serat kapas dan serat bamboo cukup signifikan sehingga dapat berpengaruh terhadap kerataan warna hasil pencelupan kain campuran kapas-bamboo. Untuk meningkatkan kerataan warna, diperlukan penambahan zat pembantu tekstil dalam proses pencelupan. Zat pembantu tekstil yang berperan penting dalam pencelupan serat selulosa dengan zat warna reaktif adalah elektrolit (natrium klorida) dan alkali (natrium karbonat). Penambahan elektrolit dan alkali dengan konsentrasi tertentu ke dalam larutan celup dapat meningkatkan penyerapan zat warna ke dalam serat. Penggunaan elektrolit dan alkali tersebut diharapkan mampu membuat penyerapan zat warna reaktif terhadap serat kapas dan bamboo menjadi relatif sama sehingga menghasilkan kerataan warna yang baik dengan ketuaan warna yang tinggi serta ketahanan luntur warna yang baik pula.Percobaan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pencelupan kain rajut kapas-bamboo (60%-40%) dengan zat warna reaktif bifungsional (Reactive Blue BRF) yang memiliki dua gugus reaktif (monoklorotriazin dan vinil sulfon) menggunakan metode perendaman. Dalam percobaan ini dilakukan dua variasi, yaitu variasi konsentrasi natrium klorida (30 g/l, 45 g/l, 60 g/l) dan natrium karbonat (10 g/l, 20 g/l, 30 g/l) yang berfungsi sebagai zat pembantu tekstil dalam proses pencelupan. Kain hasil pencelupan dievaluasi ketuaan warna, kerataan warna, dan ketahanan luntur warnanya terhadap pencucian.Hasil pengujian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi natrium klorida dan natrium karbonat berpengaruh terhadap ketuaan dan kerataan warna hasil pencelupan, tetapi tidak berpengaruh terhadap ketahanan luntur warna terhadap pencucian. Semakin tinggi konsentrasi natrium klorida dan natrium karbonat yang digunakan, maka semakin tinggi ketuaan warna dan kerataan warna kain hasil pencelupan. Akan tetapi, penggunaan natrium klorida dan natrium karbonat dengan konsentrasi berlebih dapat menyebabkan warna hasil pencelupan kurang rata.Kondisi optimum yang diperoleh dari penelitian ini adalah pencelupan dengan menggunakan natrium klorida (NaCl) 45 g/l dan natrium karbonat (Na2CO3) 20 g/l. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kain kapas-bamboo yang dicelup dengan konsentrasi tersebut memiliki ketuaan warna yang cukup tinggi (nilai K/S zat warna yang terserap pada bahan 12,1963), kerataan warna terbaik (nilai standardeviasi paling rendah 0,2560), dan ketahanan luntur warna terhadap pencucian yang baik dengan skala penodaan pada kain pelapis atau multifiber 4-5.
The Effect of Dyeing Temperature on The Color and Color Fastness of Sicerek Leaves (Clausena Excavata Burm. F) on Roberto Cavali Fabric Siti Aisyah Nabila; Samuel Martin Pradana; Adriani; Sri Zulfia Novrita; Hadiastuti; Vina Oktaviani
SAINTEKS : Jurnal Sain dan Teknik Vol. 8 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Universitas Insan Cendekia Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37577/sainteks.v8i01.1063

Abstract

The industry produces synthetic dye waste that has the potential to damage the environment, so that more environmentally friendly natural dye alternatives are needed. One of the plants that has the potential to be used as a source of natural dyes is the sicerek leaf (Clausena excavata Burm. F), because sicerek leaves contain flavonoid compounds that can produce color. This study aims to analyze the color names and color fastness to washing on Roberto Cavali's fabrics whose writings use sicerek leaf extract at various dyeing temperatures. The method used is the experimental method. Identification of color names was carried out by involving 18 panelists as respondents and supported by the use of the Colorblind Assistant application to assist in color determination. Meanwhile, color fastness to washing was tested using a gray scale and a staining scale according to SNI ISO standards. Data analysis used is descriptive statistical analysis and simple linear regression tests. The results of the study show (1) Differences in dyeing temperatures produce different color names, RGB values ??and hexadecimal codes at various dyeing temperatures. (2) The dyeing temperature does not have a significant effect on color fastness based on gray scale testing as proven by a simple linear regression test with a Sig. value. 0.351 > 0.05 which indicates that there is no difference or is not significant. Meanwhile, testing using a coloring scale at temperatures of 30?C, 60?C and 90?C shows a value of 4-5 with a good category for various types of multifiber including wool, acrylic, polyester, nylon, cotton and acetate. (3) The dyeing temperature of 90?C is the most optimal temperature in producing color and color fastness.
PERSUASIVE LANGUAGE IN ADVERTISING FASHION PRODUCTS OF FASHION E-COMMERCE COURSE AT UNIVERSITAS NEGERI PADANG Nurul Inayah Hutasuhut; Siti Isma Sari; Samuel Martin Pradana
Ensiklopedia of Journal Vol 5, No 3 (2023): Vol. 5 No. 3 Edisi 3 April 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33559/eoj.v5i3.1786

Abstract

This research was conducted to analyze the persuasive language used by fashion design students Universitas Negeri Padang for fashion products advertisement in e-commerce fashion courses. Fashion students promote their products on e-commerce websites, such as Facebook, Instagram, Shopee and other e-commerce applications or websites. Researchers want to know the persuasive language used in the ad because there is no previous research. To be a reference for local entrepreneurs in using persuasive language in advertisements for fashion businesses. And become a reference for learning material for fashion students in fashion e-commerce courses. This research uses qualitative methods. This method was chosen by the researcher because this research uses text as data and includes several processes in data analysis. This information was obtained from several fashion business e-commerce websites used by Universitas Negeri Padang fashion design students to promote their products in fashion e-commerce course. The researchers used posting and descriptions, which are statements and phrases, to assess the research data. The researcher's initial step in analyzing the data is to classify it according to the theory of persuasive language. The next step was to interpret the message contained in the ad. And the last step was to conclude the research. The sample group included 100 descriptions and slogans from students' e-commerce addresses. Alliteration was found to be the most often employed literary device, followed by imagery and assonance. The persuasive  was mostly used in advertising captions to describe product attributes, illustrate the items, actions or feelings, and emphasize.
Pengembangan Desa Adat "Bumi Sikerei" Matotonan: Mewujudkan Desa Wisata Kelas Dunia Anton Komaini; Retnaningtyas Susanti Susanti; Samuel Martin Pradana; Nora Fudhla; Suparno Suparno; Yovhandra Ockta; Heru Andika; Firunika Intan Cahyani; Andri Gemaini
JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT OLAHRAGA DAN KESEHATAN (JASO) Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat Olahraga dan Kesehatan
Publisher : DEPARTEMEN KESEHATAN DAN REKREASI UNIVERSITAS NEGERI PADANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jaso.v5i1.75

Abstract

Desa Adat "Bumi Sikerei" Matotonan, terletak di pendalaman Mentawai, memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai desa wisata kelas dunia. Dalam upaya ini, serangkaian pelatihan yang melibatkan masyarakat lokal dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan keterampilan mereka dalam mengelola pariwisata yang berkelanjutan, memadukan sport tourism dan wisata budaya. Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan meliputi pelatihan tentang paket wisata, pemanduan alam, pertolongan pertama di air, dan pengembangan souvenir khas Mentawai. Hasil dari pelatihan ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman masyarakat mengenai potensi wisata desa, kemampuan merancang paket wisata, serta keterampilan pemanduan yang aman. Selain itu, pelatihan tentang keselamatan air menjadi sangat krusial, mengingat banyak aktivitas wisata yang melibatkan elemen tersebut. Pengembangan produk wisata lokal, melalui kerajinan tangan dan kuliner khas, diharapkan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat. Untuk memastikan keberlanjutan pengembangan desa wisata, program pelatihan lanjutan dalam pemasaran digital, pengelolaan keuangan, dan teknologi informasi perlu diperkuat. Dengan kolaborasi antara masyarakat, akademisi, dan sektor swasta, "Bumi Sikerei" berpotensi menjadi contoh keberhasilan integrasi pariwisata dan pelestarian budaya, memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal dan meningkatkan daya tarik wisata.
Eksplorasi Teknik Water soluble patchwork Limbah Satin sebagai Upaya Penerapan Sustainable Fashion Dinda Anggraini; Samuel Martin Pradana; Ernawati Ernawati; Yulia Aryati
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.12432

Abstract

Industri fashion menghasilkan limbah tekstil dalam jumlah besar, khususnya kain perca satin yang sulit dimanfaatkan kembali. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi teknik water soluble patchwork menggunakan plastik biodegradable (telo roll bag) pada limbah perca satin berukuran 5–10 cm dengan variasi jarak setikan jahitan 0,3 cm, 0,5 cm, 1 cm, dan 1,5 cm dengan menggunakan gunting zig-zag pada pinggiran kain. Pendekatan mixed methods dengan desain sequential exploratory digunakan, meliputi wawancara, observasi, eksperimen, validasi ahli diantaranya 3 ahli desain, 3 ahli jahit dan 3 praktisi fashion dengan metode penggumpulan data menggunakan kuisioner dengan skala likert. Hasil menunjukkan variasi jarak setikan 0,5 cm memberikan keseimbangan terbaik: persentase validasi ahli desain 84% (layak), ahli jahit 90% (sangat layak), dan praktisi fashion 91% (sangat layak). Kemudian dengan melakukan Uji laboratorium kekuatan tarik sesuai dengan (SNI 08-0276:2009 dan uji kelangsaian/drape sesuai dengan SNI 08-1511-2004 dilaboratorium evaluasi fisika politeknik STTT Bandung. Data diolah melalui analisis deskriptif kualitatif dengan uji normalitas, homogenitas,dan one-way ANOVA. Hasil pengujiam dilaboratorium menunjukan bahwa jarak 0,3 cm menghasilkan kekuatan tarik tertinggi (rata-rata 184,16 N), sementara jarak 1,5 memiliki kekuatan yang paling kecil sehingga menghasilkan kelangsaian kain yang baik. Berdasarkan kedua hasil pengujian tersebut, variasi jarak setikan 0,5 cm dapat dianggap sebagai variasi yang paling seimbang karena mampu menghasilkan kekuatan sambungan yang baik sekaligus mempertahankan kelangsaian material. Teknik ini mendukung prinsip sustainable fashion melalui upcycling limbah menjadi material baru yang estetis dan fungsional.