p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Agrium
Ismadi Ismadi
Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Malikussaleh, Jl. Cot Tengku Nie Reuleut, Muara Batu, Aceh Utara, Aceh 24355, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Respon Pertumbuhan dan Hasil Varietas Jagung Pulut (Zea mays Ceratina L.) Terhadap Kondisi Agroekosistem Lhokseumawe Rizki Evi Yovita Sagala; Laila Nazirah; Ismadi Ismadi; Baidhawi Baidhawi; Jamidi Jamidi
Agrium Vol. 23 No. 3: September 2026
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v23i3.27187

Abstract

Waxy corn (Zea mays ceratina L.), has a high amylopectin content, resulting in a soft and sticky texture and showing strong potential as a local food source. Its development requires the selection of varieties that are well adapted to specific agroecosystem conditions, such as those in Lhokseumawe. This study aimed to evaluate the growth and yield and to determine the best adaptability and highest-yielding varieties of waxy corn under the agroecosystem conditions of Lhokseumawe. The experiment was conducted using a single-factor Randomized Block Design (RBD) with three replications. The treatment factor was variety (V), consisting of Arumba (V1), Kumala (V2), Rasanya (V3), Jutawan (V4), Jantan (V5), Paramita (V6), URI 1 (V7), and Pandu (V8). The results showed differences in the growth of several waxy corn varieties under the agroecosystem conditions of Lhokseumawe, particularly in plant height at 4 and 8 weeks after planting (WAP), stem diameter at 4 and 6 WAP, and number of leaves at 6 and 8 WAP. Different varieties also showed significant differences in several yield components, including days to male flowering, days to female flowering, total soluble solids, cob diameter without husk, cob weight without husk per plot, and yield. The Jutawan variety showed the best adaptability and the highest yield potential. This was indicated by optimal plant height and stem diameter, supported by superior yield components, like a cob weight without husk per plot of 7,572.4 g, total soluble solids of 18.20 °Brix, and yield reaching 12.62 t/ha.
Karakteristik biologi tanah yang diaplikasi biochar dan pupuk hayati terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis (Zea mays L. saccharata Sturt) Zulfikar Zulfikar; Yusra Yusra; Halim Akbar; Khusrizal Khusrizal; Ismadi Ismadi
Agrium Vol. 23 No. 3: September 2026
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v23i3.29219

Abstract

Degradasi tanah akibat pengelolaan lahan yang kurang berkelanjutan menjadi salah satu faktor pembatas produktivitas jagung manis (Zea mays L. saccharata Sturt). Pemanfaatan biochar dan pupuk hayati merupakan alternatif yang berpotensi memperbaiki karakteristik biologis dan kesuburan tanah melalui peningkatan aktivitas mikroorganisme serta ketersediaan hara bagi tanaman. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh biochar dan pupuk hayati terhadap karakteristik biologis tanah, pertumbuhan, dan hasil tanaman jagung manis di Desa Matang Raya Timur, Baktiya, Aceh Utara, pada September–Desember 2025. Analisis dilakukan di Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu, Laboratorium Biologi Tanah MIPA-USK, dan Laboratorium Terintegrasi Universitas Malikussaleh. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok faktorial 3 × 4 dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah jenis biochar (alang-alang, sekam padi, dan tempurung kelapa), sedangkan faktor kedua adalah jenis pupuk hayati (Promi, Trichoderma, PGPR, dan mikoriza). Peubah yang diamati meliputi populasi mikroorganisme tanah, panjang akar, bobot basah dan bobot kering akar, bobot jagung per kelobot, serta infeksi akar. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi biochar secara tunggal memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap bobot kering akar, bobot jagung per kelobot, dan infeksi akar, serta pengaruh nyata terhadap bobot basah akar. Hasil terbaik diperoleh pada perlakuan biochar sekam padi. Aplikasi pupuk hayati secara tunggal memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap panjang akar, bobot basah akar, dan bobot jagung per kelobot, serta berpengaruh nyata terhadap bobot kering akar. Hasil terbaik diperoleh pada perlakuan Trichoderma sp. dengan dosis 3,6 kg ha⁻¹ (20 g tanaman⁻¹). Interaksi antara biochar dan pupuk hayati memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap bobot jagung per kelobot. Kombinasi terbaik adalah biochar sekam padi dan pupuk hayati Trichoderma sp. dengan dosis 3,6 kg ha⁻¹ (20 g tanaman⁻¹). Untuk karakteristik biologis tanah, perlakuan terbaik adalah biochar sekam padi dan pupuk hayati Promi dengan dosis 4 kg ha⁻¹ (1,6 g tanaman⁻¹).