Franklin E. Dumais
Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Manado, Tondano 95618, Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Descriptive Analysis of Music Arts Learning Efforts at State Senior High School 2 Langowan Franklin E. Dumais; Meyny S. C. Kaunang; Marselino S. Malonda
Journal of Theory and Practice in Arts Vol. 1 No. 3 (2026)
Publisher : CV Wahana Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to describe and analyze efforts to improve music arts learning at SMA Negeri 2 Langowan, focusing on students’ learning interest, participation, musical skills, creativity, and learning outcomes. The study employed a quantitative approach with a correlational and regression design. The research was conducted from September to November 2023 and involved 30 Grade XII Social Sciences students selected through total sampling. Data were collected using questionnaires, observations, interviews, and documentation. The data were analyzed descriptively and inferentially through frequency and percentage analysis, Pearson product-moment correlation, and simple linear regression. The findings indicate that music arts learning initially faced several challenges, including teacher-centered instructional practices, limited musical instruments and facilities, low student motivation, and weak extracurricular support. To address these challenges, the school implemented four complementary strategies: Project-Based Learning (PjBL), digital technology and media utilization, teacher professional development, and strengthening of extracurricular music activities. The implementation of these strategies resulted in positive changes in the learning process and student outcomes. Student attendance increased to 95%, while average practical music scores increased from 70 to 85. Furthermore, 80% of students reported that music learning became more enjoyable, 75% demonstrated improved practical skills, and 90% became more confident in public performances. Participation in extracurricular music activities increased from 10 to 35 students. These findings demonstrate that an integrated approach combining pedagogical innovation, digital technology, teacher competence, and authentic musical experiences can create a more active, creative, collaborative, and meaningful learning environment. The study concludes that sustainable improvement in music arts education requires continuous teacher development, adequate facilities, effective technology integration, and opportunities for students to engage in authentic musical activities.
Liturgical Music Practices in Worship at GMIM Pniel Watulambot Congregation Merary Michela Kainde; Luccylle Manina Takalumang; Franklin E. Dumais
Journal of Theory and Practice in Arts Vol. 1 No. 1 (2026)
Publisher : CV Wahana Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines the practice of liturgical music in worship at GMIM Pniel Watulambot Congregation, focusing on musical implementation, the readiness and competence of music ministers, team coordination, and congregational participation. The study was motivated by differences in musical competence, preparation, coordination, and congregational responses observed in regular Sunday worship and special services. A descriptive qualitative approach was employed, with data collected through literature review, direct observation, semi-structured interviews, and documentation. The research was conducted in February 2026 at GMIM Pniel Watulambot Congregation, Minahasa, North Sulawesi, involving members of the music ministry team selected purposively based on their experience and involvement in worship music. Data were analyzed through data condensation, data display, and conclusion drawing and verification. The findings indicate that liturgical music functions not only as accompaniment but also as a medium for creating the worship atmosphere, directing congregational attention, supporting congregational singing, and facilitating the appreciation of liturgical meaning. Musical implementation varies according to the theme and purpose of worship, with special services generally receiving more intensive preparation. Differences were identified in song mastery, pitch accuracy, rhythmic stability, tempo, dynamics, and coordination. Sudden changes in team composition and limited rehearsal time also affected musical consistency and congregational participation. The study concludes that strengthening liturgical music ministry requires continuous competency development, structured rehearsals, effective coordination, and systematic personnel management while maintaining active congregational participation as its primary orientation.
Penerapan Musik 432hz pada Anak Muda yang Mengalami Gangguan Tidur di Kelurahan Paslaten 1 Shannan Charmaine Cheraphim Kampong; Franklin E. Dumais; R. A. Dinar Sri Hartati
Journal of Theory and Practice in Arts Vol. 1 No. 2 (2026)
Publisher : CV Wahana Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tidur merupakan kebutuhan fisiologis yang berperan penting dalam menjaga kesehatan fisik, fungsi kognitif, regulasi emosi, dan produktivitas. Gangguan tidur pada anak muda dapat berkaitan dengan tekanan akademik, pekerjaan, aktivitas sosial, penggunaan perangkat digital, serta kebiasaan tidur larut malam. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan musik 432 Hz sebagai alternatif intervensi nonfarmakologis dalam mendukung kualitas tidur anak muda yang mengalami gangguan tidur di Kelurahan Paslaten 1. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Partisipan berjumlah 21 anak muda berusia 15–24 tahun yang mengalami permasalahan tidur. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, dan jurnal tidur selama satu bulan. Penerapan dilakukan dengan mendengarkan musik 432 Hz selama 15–30 menit sebelum tidur secara rutin setiap malam. Analisis dilakukan melalui pengorganisasian data, pengkodean, pengelompokan tema, interpretasi pola pengalaman, dan triangulasi sumber serta teknik. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan positif secara bertahap dalam pengalaman tidur responden. Pada minggu pertama, pola tidur masih tidak teratur dengan durasi sekitar 5–6 jam dan kualitas tidur buruk hingga sedang. Pada minggu kedua mulai terlihat proses adaptasi, sedangkan minggu ketiga dan keempat menunjukkan pola tidur yang lebih stabil, durasi sekitar 7–8 jam, waktu tidur lebih teratur, serta kondisi setelah bangun yang lebih positif. Responden juga melaporkan meningkatnya ketenangan, berkurangnya kegelisahan, dan tubuh yang lebih segar. Musik 432 Hz berpotensi menjadi alternatif sederhana untuk mendukung kualitas tidur, meskipun efektivitas spesifik frekuensi ini masih memerlukan pengujian eksperimental lebih lanjut. 
Peran Pemimpin Pujian dalam Peribadatan di GPdI Karmel Tataaran 2 Patar Risel Jan Branth Pangkey; Franklin E. Dumais; Meyny S. C. Kaunang
Journal of Theory and Practice in Arts Vol. 1 No. 3 (2026)
Publisher : CV Wahana Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis dan mendeskripsikan peran pemimpin pujian dalam peribadatan di GPdI Karmel Tataaran 2 Patar, khususnya pada dimensi liturgis, musikal, komunikatif, sosial, dan spiritual. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian terdiri atas pemimpin pujian, anggota tim musik, dan jemaat yang dipilih secara purposif berdasarkan keterlibatan mereka dalam kegiatan peribadatan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif-interpretatif melalui tahapan kondensasi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi teknik dan sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemimpin pujian memiliki peran strategis yang melampaui aktivitas memimpin nyanyian. Pertama, pemimpin pujian berfungsi sebagai pengarah liturgi melalui pemilihan lagu, pengaturan urutan dan transisi, serta penjagaan kesinambungan rangkaian ibadah. Kedua, pemimpin pujian berperan sebagai komunikator rohani melalui pengantar, ajakan, dan peneguhan yang mendorong keterlibatan jemaat. Ketiga, pemimpin pujian menjadi penggerak partisipasi dengan membangun suasana ibadah yang komunikatif, akrab, dan sesuai dengan kondisi jemaat. Keempat, pemimpin pujian berfungsi sebagai pelayan spiritual yang membantu mengarahkan perhatian jemaat kepada Tuhan dan mendukung penghayatan iman. Efektivitas peran tersebut dipengaruhi oleh kompetensi musikal, komunikasi, kepemimpinan, pemahaman liturgi, kesiapan spiritual, serta koordinasi dengan tim musik. Penelitian menyimpulkan bahwa penguatan pelayanan pemimpin pujian memerlukan latihan, pembinaan spiritual, koordinasi, dan evaluasi berkelanjutan agar ibadah berlangsung tertib, partisipatif, kontekstual, dan bermakna.