R. A. Dinar Sri Hartati
Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Manado, Tondano 95618, Indonesia

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Bia Music in Batu Village, Likupang, North Minahasa Sri Sunarmi; R. A. Dinar Sri Hartati; Putri Reina Gandawari
Journal of Theory and Practice in Arts Vol. 1 No. 3 (2026)
Publisher : CV Wahana Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study investigates Bia Music in Batu Village, South Likupang District, North Minahasa Regency, North Sulawesi, focusing on its historical development, organological characteristics, sound production, playing techniques, socio-cultural functions, and sustainability. A qualitative descriptive approach was employed, with data collected through literature review, observation, documentation, and interviews with community members, performers, and local cultural informants. Data were analyzed through data reduction, descriptive presentation, interpretation, and cross-source comparison to strengthen validity. The findings indicate that Bia Music originated from the use of marine shells as signaling instruments and subsequently developed into an organized musical ensemble through local creativity and experimentation. Organologically, Bia is classified as an aerophone because its sound is produced through controlled airflow and resonance within the shell cavity. Different shell types and sizes, including Charonia tritonis, Cassis cornuta, and Stramonita haemastoma, are adapted as melodic and accompanying instruments with differentiated pitch functions. Sound characteristics are strongly influenced by shell morphology, cavity dimensions, embouchure, and blowing pressure, while production and tuning require practical knowledge, precision, and repeated comparison with reference pitches. Bia Music currently functions in entertainment, religious activities, community events, cultural festivals, education, tourism, social interaction, and cultural identity formation. However, its continuity faces challenges related to environmental degradation, declining shell availability, performer regeneration, and cultural transmission. The study concludes that Bia Music constitutes living cultural heritage whose sustainability requires integrated strategies involving intergenerational transmission, documentation, cultural education, community participation, institutional support, artistic development, and environmental conservation.
Penerapan Musik 432hz pada Anak Muda yang Mengalami Gangguan Tidur di Kelurahan Paslaten 1 Shannan Charmaine Cheraphim Kampong; Franklin E. Dumais; R. A. Dinar Sri Hartati
Journal of Theory and Practice in Arts Vol. 1 No. 2 (2026)
Publisher : CV Wahana Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tidur merupakan kebutuhan fisiologis yang berperan penting dalam menjaga kesehatan fisik, fungsi kognitif, regulasi emosi, dan produktivitas. Gangguan tidur pada anak muda dapat berkaitan dengan tekanan akademik, pekerjaan, aktivitas sosial, penggunaan perangkat digital, serta kebiasaan tidur larut malam. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan musik 432 Hz sebagai alternatif intervensi nonfarmakologis dalam mendukung kualitas tidur anak muda yang mengalami gangguan tidur di Kelurahan Paslaten 1. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Partisipan berjumlah 21 anak muda berusia 15–24 tahun yang mengalami permasalahan tidur. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, dan jurnal tidur selama satu bulan. Penerapan dilakukan dengan mendengarkan musik 432 Hz selama 15–30 menit sebelum tidur secara rutin setiap malam. Analisis dilakukan melalui pengorganisasian data, pengkodean, pengelompokan tema, interpretasi pola pengalaman, dan triangulasi sumber serta teknik. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan positif secara bertahap dalam pengalaman tidur responden. Pada minggu pertama, pola tidur masih tidak teratur dengan durasi sekitar 5–6 jam dan kualitas tidur buruk hingga sedang. Pada minggu kedua mulai terlihat proses adaptasi, sedangkan minggu ketiga dan keempat menunjukkan pola tidur yang lebih stabil, durasi sekitar 7–8 jam, waktu tidur lebih teratur, serta kondisi setelah bangun yang lebih positif. Responden juga melaporkan meningkatnya ketenangan, berkurangnya kegelisahan, dan tubuh yang lebih segar. Musik 432 Hz berpotensi menjadi alternatif sederhana untuk mendukung kualitas tidur, meskipun efektivitas spesifik frekuensi ini masih memerlukan pengujian eksperimental lebih lanjut. 
Fungsi dan Dampak Permainan Drumset dalam Peribadatan di GPDI Pakuure Satu, Minahasa Selatan Keren Kenny Kent Keintjem; R. A. Dinar Sri Hartati; Widyata Sarayar
Journal of Theory and Practice in Arts Vol. 1 No. 2 (2026)
Publisher : CV Wahana Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis fungsi dan dampak permainan drumset dalam pelayanan ibadah di GPDI Pakuure Satu, Minahasa Selatan, dengan fokus pada organisasi ritmis, koordinasi ansambel, dinamika musikal, transisi lagu, keterlibatan jemaat, dan pembentukan suasana ibadah. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif yang dilaksanakan pada Januari–Februari 2026. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, studi pustaka, studi media, dan dokumentasi dengan melibatkan gembala sidang, sekretaris jemaat, pemain musik, singers, worship leader, dan jemaat sebagai informan. Data dianalisis secara induktif melalui analisis tematik dan keabsahan data diperiksa menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa drumset memiliki fungsi pragmatis sebagai pengatur tempo, pengarah dinamika, penanda perpindahan bagian lagu, dan penguat koordinasi antarpemain. Secara estetis, drumset memperkaya tekstur musikal melalui groove, aksentuasi, fill, dinamika, dan variasi style, seperti country atau mars, reggae, funk, disco, swing, blues, ballad worship, dan rock worship. Permainan drumset juga berkontribusi terhadap keterlibatan jemaat melalui respons bernyanyi, tepuk tangan, gerakan tubuh, angkat tangan, dan respons verbal. Perbandingan ibadah dengan dan tanpa drumset menunjukkan bahwa ketiadaan drumset cenderung membatasi variasi ritmis, dinamika, dan fleksibilitas koordinasi musikal, meskipun tidak mengurangi keberlangsungan ibadah. Penelitian menyimpulkan bahwa drumset merupakan bagian dari sistem musikal, sosial, dan ritual yang mendukung keteraturan, ekspresivitas, koordinasi, dan keterlibatan jemaat dalam pengalaman ibadah.
Development of a Pitch System for the Traditional Musical Instrument “Bambu Entel” of the Talaud Islands in Sambuara Village Orion Nando Pangalila; Perry Rumengan; R. A. Dinar Sri Hartati
Journal of Theory and Practice in Arts Vol. 1 No. 2 (2026)
Publisher : CV Wahana Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bambu Entel is a traditional bamboo musical instrument originating from the Talaud Islands, North Sulawesi, Indonesia, whose distinctive construction and sound reflect the cultural knowledge of the Talaud community. However, its limited pitch availability may constrain its integration into broader musical arrangements and contemporary performance contexts. This study aimed to develop a new B-flat (B♭) pitch for Bambu Entel while maintaining its traditional construction principles, acoustic characteristics, and cultural identity. The study employed a Research and Development (R&D) approach using the ADDIE model, consisting of Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation. The research was conducted in Sambuara Village, Talaud Islands Regency, in June 2025, involving Bambu Entel craftsmen, players, and traditional music and instrument experts. Data were collected through observation, interviews, expert validation, and product testing and were analyzed descriptively. The findings indicate that Bambu Entel production involves integrated knowledge of bamboo selection, harvesting conditions, material treatment, shaded drying, structural dimensions, and empirical tuning. The B♭ pitch was successfully developed through gradual modification of the bamboo node opening, followed by repeated auditory evaluation and adjustment by experienced craftsmen. The process demonstrated that traditional empirical knowledge can effectively support tonal innovation without requiring fundamental changes to the instrument's construction or cultural characteristics. The resulting development expands the tonal functionality of Bambu Entel and creates opportunities for its use in broader musical arrangements, education, and contemporary performances. The study concludes that culturally grounded acoustic innovation can contribute to both the musical revitalization and sustainable preservation of Bambu Entel as Talaud cultural heritage.
Analisis Musikologis Komposisi Passionflower Karya Jon Gomm: Pemberdayaan Elemen Musikal dan Teknik Fingerstyle dalam Gitar Akustik Kontemporer Augusto Diego Van Join Jangin; Perry Rumengan; R. A. Dinar Sri Hartati
Journal of Theory and Practice in Arts Vol. 1 No. 1 (2026)
Publisher : CV Wahana Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan fungsi musik dalam peribadatan Anak Sekolah Minggu di Jemaat GMIM Sion Tempang Wilayah Langowan II, Kabupaten Minahasa, dengan memperhatikan bentuk musik, penggunaan instrumen, pola penyajian, posisi dalam liturgi, serta kontribusinya terhadap keterlibatan, pengalaman emosional, pemahaman iman, dan spiritualitas anak. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang dilaksanakan pada Agustus–September 2025. Informan terdiri atas seorang pembina Sekolah Minggu dan 10–15 anak yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dokumentasi, dan perekaman audio-visual, kemudian dianalisis melalui reduksi data, pengodean, pengelompokan tema, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan memadukan perspektif psikologi musik dan teologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musik memiliki fungsi multidimensional dalam peribadatan anak, meliputi fungsi pengiring, pengatur kegiatan ibadah, pembentuk suasana, emosional, sosial, pedagogis, dan spiritual. Lagu dengan melodi sederhana, ritme mudah diikuti, tempo yang sesuai, serta lirik yang dipahami anak cenderung meningkatkan partisipasi dan antusiasme. Penggunaan keyboard membantu menjaga tempo, menyediakan dasar harmonis, dan mengarahkan jalannya puji-pujian. Musik juga membantu anak memahami pesan iman melalui pengulangan lirik serta memberikan ruang bagi ekspresi emosional, interaksi sosial, dan pengalaman spiritual. Penelitian menyimpulkan bahwa pengelolaan musik yang sesuai dengan karakteristik perkembangan anak dapat mendukung terciptanya ibadah yang partisipatif, edukatif, dan bermakna.
Analisis Akord Substitusi dan Tensi Akord dalam Lagu Pure Imagination Aransemen Miguel Granada Ekleisio Fralvi Jonan Ruru; Perry Rumengan; R. A. Dinar Sri Hartati
Journal of Theory and Practice in Arts Vol. 1 No. 2 (2026)
Publisher : CV Wahana Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk substitusi akord, karakteristik tensi harmonik, serta hubungan antara substitusi akord dan pembentukan alur tensi–resolusi dalam aransemen Pure Imagination karya Leslie Bricusse dan Anthony Newley oleh Miguel Granada. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Data primer berupa partitur atau transkripsi aransemen Granada, sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur mengenai harmoni jazz, substitusi akord, reharmonisasi, konsonansi-disonansi, dan tensi musikal. Analisis dilakukan melalui identifikasi progresi akord, klasifikasi teknik substitusi, analisis tensi berdasarkan disonansi, tonal distance, voice leading, hierarchical tension, fungsi harmonik, dan kecenderungan resolusi, serta interpretasi hubungan tensi dan resolusi. Hasil penelitian menunjukkan 68 penggunaan substitusi harmonik yang terdiri atas Chord Enrichment (15), Common Tone Substitution (12), Chromatic Chord Enrichment (11), Modal Interchange (9), Secondary Dominant (8), Tritone Substitution (7), dan Diminished Substitution (6). Chord Enrichment dan Common Tone Substitution terutama berfungsi memperkaya warna sonoritas dengan mempertahankan kontinuitas tonal, sedangkan Chromatic Enrichment, Secondary Dominant, Tritone Substitution, Diminished Substitution, dan Modal Interchange meningkatkan kompleksitas serta tensi harmonik. Pemetaan tensi memperlihatkan pola 2–3–4–5–2, yaitu peningkatan dari Intro menuju Development sebagai puncak tensi, kemudian kembali menuju stabilitas pada Resolution. Temuan ini menunjukkan bahwa substitusi akord dalam aransemen Granada berfungsi sebagai strategi pengelolaan warna harmonik, ekspektasi, tensi, voice leading, dan resolusi musikal secara terpadu.
The Role of Gospel Music in Enhancing Congregational Participation and Spiritual Experience at Gereja Gerakan Pentakosta Batu Karang Sejati Bitung Josua Natanael Sumigar; Glenie Latuni; R. A. Dinar Sri Hartati
Journal of Theory and Practice in Arts Vol. 1 No. 3 (2026)
Publisher : CV Wahana Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines the role of gospel music arrangements in enhancing congregational participation and spiritual experiences during Pentecostal worship at Gereja Gerakan Pentakosta Batu Karang Sejati Bitung, North Sulawesi. The study employed a descriptive qualitative approach to explore congregants’ experiences, perceptions, behaviors, and responses to gospel music in a natural worship context. Data were collected through observations, semi-structured interviews with 20 congregants and the church pastor, and documentation of worship activities. The data were analyzed through data condensation, data display, and conclusion drawing and verification. The findings indicate that gospel arrangements positively influenced the worship atmosphere and congregational participation. Although the songs and lyrics remained unchanged, modifications in rhythm, tempo, harmony, dynamics, vocal expression, and musical interaction created a livelier, warmer, and more expressive worship environment. Congregants demonstrated increased participation through active singing, clapping, hand raising, bodily movement, and responses to worship leaders. Younger congregants showed particularly positive responses, perceiving gospel music as energetic, creative, and relevant to their musical preferences. Gospel music also supported emotional and spiritual experiences, including greater enthusiasm, joy, peace, attentiveness, personal reflection, and feelings of closeness to God. However, respondents emphasized that music functions as a supporting medium rather than the sole determinant of spiritual experience, which remains influenced by personal faith and spiritual readiness. The study concludes that gospel music can function as an affective, participatory, social, and spiritual resource in Pentecostal worship when implemented with appropriate musical competence, coordination, expressive performance, and spiritual orientation.