Hendro Sudjono Yuwono
Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Perbandingan Efek Krim Kopi Robusta dan Argentum Sulfadiazine terhadap Edema Luka Reshan Biran yudhono; Hendro Sudjono Yuwono; Ismet M. Nur
Bandung Conference Series: Medical Science 99-108
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22079

Abstract

Abstract. Subcutaneous wounds require appropriate management to ensure optimal healing. Argentum sulfadiazine is a commonly used standard topical therapy; however, natural agents such as Robusta coffee have potential as alternatives due to their bioactive compounds with antioxidant, anti-inflammatory, and antibacterial properties. This study aimed to compare the effectiveness of argentum sulfadiazine cream and Robusta coffee cream in subcutaneous wound healing.This study was an experimental animal study involving 30 male Wistar rats divided into three groups: Robusta coffee cream, argentum sulfadiazine cream, and an untreated control group. Subcutaneous incision wounds were created, and observations were conducted on days 3, 7, 10, and 14. The evaluated parameters included wound area, degree of edema, and erythema. Statistical analysis was performed using the Friedman test and appropriate post hoc tests based on data distribution, with p<0.05 considered statistically significant. The results showed that all groups demonstrated a statistically significant reduction in wound area during the observation period. Edema decreased more rapidly in both treatment groups compared with the control group, with significant differences observed at several time points (p<0.05). Erythema was mild and transient in all groups, with no adverse local reactions observed. Robusta coffee cream demonstrated wound-healing effectiveness comparable to argentum sulfadiazine and showed a favorable safety profile. These findings provide scientific evidence supporting the development of Robusta coffee–based topical formulations and serve as a foundation for further translational and clinical research. Abstrak. Luka subkutis memerlukan perawatan yang tepat agar proses penyembuhan berlangsung optimal. Argentum sulfadiazine merupakan terapi topikal standar yang umum digunakan, namun bahan alami seperti kopi Robusta berpotensi menjadi alternatif karena kandungan senyawa bioaktif yang bersifat antioksidan, antiinflamasi, dan antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat perbandingan efektifitas penymbuhan luka menggunakan krim argentum sulfadiazine dan krim kopi robusta. Metode pada penelitian ini merupakan studi eksperimental pada 30 ekor tikus Wistar jantan yang dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok krim kopi Robusta, kelompok krim argentum sulfadiazine, dan kelompok kontrol tanpa terapi. Luka subkutis dibuat secara insisi, kemudian dilakukan observasi pada hari ke-3, ke-7, ke-10, dan ke-14. Parameter yang dinilai meliputi luas luka, derajat edema dan eritema. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji Friedman dan uji lanjutan sesuai distribusi data, dengan nilai p<0,05 dianggap bermakna.untuk hasil penelitian. Seluruh kelompok menunjukkan penurunan luas luka yang bermakna secara statistik selama periode pengamatan Penurunan edema terjadi lebih cepat pada kedua kelompok perlakuan dibandingkan kontrol, dengan perbedaan bermakna pada beberapa waktu pengamatan (p<0,05). Eritema bersifat ringan dan sementara pada seluruh kelompok serta tidak menunjukkan reaksi merugikan. Krim kopi Robusta memiliki efektivitas penyembuhan luka subkutis yang sebanding dengan krim argentum sulfadiazine serta profil keamanan yang baik. Temuan ini memberikan dasar ilmiah bagi pengembangan sediaan topikal berbahan alami berbasis kopi Robusta dan menjadi landasan bagi penelitian lanjutan berskala translasi maupun klinis.
Perbedaan Kekuatan Penangkapan Radikal Bebas Antioksidan Bubuk Kopi dan Kuntit Metode DPPH Muhammad Wildan; Hendro Sudjono Yuwono; Ismawati
Bandung Conference Series: Medical Science 109-116
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22082

Abstract

Abstract. Oxidative stress caused by free radicals plays an important role in the development of various degenerative diseases, highlighting the need for effective natural antioxidants. Robusta coffee (Coffea canephora) and turmeric rhizome (Curcuma longa L.) are natural materials known to contain bioactive compounds with antioxidant potential. This study aimed to analyze the difference in antioxidant activity between robusta coffee powder and turmeric rhizome powder using the DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) method measured by spectrophotometry. This research was conducted as an in vitro laboratory study with a descriptive comparative design. Samples were tested at several concentration levels, and each test was performed in triplicate. Antioxidant activity was determined based on the IC₅₀ value obtained from linear regression analysis between sample concentration and percentage of DPPH radical inhibition. The results showed that robusta coffee extract had an IC₅₀ value of 84.802 ppm, classified as a strong antioxidant, while turmeric rhizome extract had an IC₅₀ value of 132.199 ppm, classified as a moderate antioxidant. The lower IC₅₀ value of robusta coffee indicates a higher free radical scavenging capacity compared to turmeric rhizome. In conclusion, there is a difference in antioxidant activity between robusta coffee powder and turmeric rhizome powder, with robusta coffee exhibiting stronger antioxidant activity based on the DPPH method. Abstrak. Radikal bebas berperan dalam terjadinya stres oksidatif yang berkontribusi terhadap berbagai penyakit degeneratif, sehingga pemanfaatan antioksidan alami menjadi penting dalam upaya pencegahan. Kopi robusta (Coffea canephora) dan rimpang kunyit (Curcuma longa L.) merupakan bahan alam yang mengandung senyawa bioaktif dan berpotensi sebagai sumber antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kekuatan aktivitas antioksidan antara bubuk kopi robusta dan bubuk rimpang kunyit menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) dengan pengukuran spektrofotometri. Penelitian dilakukan secara in vitro dengan desain deskriptif komparatif di laboratorium. Sampel diuji pada beberapa tingkat konsentrasi dan setiap pengujian dilakukan dalam tiga kali replikasi teknis. Aktivitas antioksidan ditentukan berdasarkan nilai IC₅₀ yang diperoleh dari hubungan linier antara konsentrasi sampel dan persentase penghambatan radikal bebas DPPH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kopi robusta memiliki nilai IC₅₀ sebesar 84,802 ppm yang tergolong dalam kategori antioksidan kuat, sedangkan ekstrak rimpang kunyit memiliki nilai IC₅₀ sebesar 132,199 ppm yang termasuk kategori antioksidan sedang. Perbedaan nilai IC₅₀ tersebut menunjukkan bahwa bubuk kopi robusta memiliki kemampuan yang lebih tinggi dalam mereduksi radikal bebas dibandingkan bubuk rimpang kunyit. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan kekuatan aktivitas antioksidan antara kedua bahan uji, dengan aktivitas antioksidan kopi robusta lebih kuat berdasarkan metode DPPH.
Efektivitas Larutan Air Bubuk Kopi Robusta Terhadap Pengobatan Jerawat Hikmatiyar Al Quarizmi Azhari; Hendro Sudjono Yuwono; Usep Abdullah Husin
Bandung Conference Series: Medical Science 531-538
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22252

Abstract

Abstract. Acne vulgaris (AV) is a chronic inflammatory condition of the pilosebaceous unit, affecting 85% of medical students at Universitas Islam Bandung. Long-term antibiotic use risks bacterial resistance. Robusta coffee contains bioactive compounds such as chlorogenic acid, caffeine, and flavonoids with antibacterial properties against Cutibacterium acnes and anti-inflammatory effects. This quasi-experimental study with a pre-post-test control group design involved male students (18-25 years) with mild acne. Subjects were divided into robusta coffee infusion (5g coffee in 15ml hot water), topical clindamycin phosphate, and control groups. Acne severity was measured using the Global Acne Grading System (GAGS). The robusta coffee infusion group showed a significant decrease in GAGS scores from 16.56 ± 2.06 to 13.44 ± 1.87 (p < 0.001) with a mean reduction of 3.11 ± 0.60. The clindamycin group showed a greater reduction of 6.14 ± 1.06, while the control group only decreased by 1.57 ± 0.53. Robusta coffee powder infusion is significantly effective in reducing the severity of mild acne. Although less effective than clindamycin phosphate, robusta coffee infusion has potential as a safe natural alternative or complementary therapy with a lower risk of bacterial resistance. Abstrak. Jerawat (Acne vulgaris) merupakan kondisi inflamasi kronis pada unit pilosebasea yang dialami oleh 85% mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung. Penggunaan antibiotik jangka panjang berisiko menimbulkan resistensi. Kopi robusta memiliki senyawa bioaktif seperti asam klorogenat, kafein, dan flavonoid yang bersifat antibakteri terhadap Cutibacterium acnes dan antiinflamasi. Penelitian eksperimental kuasi dengan desain pre-post-test control group ini melibatkan mahasiswa laki-laki (18-25 tahun) dengan jerawat ringan. Responden dibagi menjadi kelompok infusa kopi robusta (5 gram kopi dalam 15 ml air panas), klindamisin fosfat topikal, dan kontrol. Tingkat keparahan jerawat diukur menggunakan skor Global Acne Grading System (GAGS). Kelompok infusa kopi robusta menunjukkan penurunan skor GAGS yang signifikan dari 16,56 ± 2,06 menjadi 13,44 ± 1,87 (p < 0,001) dengan selisih 3,11 ± 0,60. Kelompok klindamisin mengalami penurunan lebih besar yaitu 6,14 ± 1,06, sementara kelompok kontrol hanya turun 1,57 ± 0,53. Infusa bubuk kopi robusta efektif secara signifikan dalam menurunkan keparahan jerawat ringan. Meskipun efektivitasnya di bawah klindamisin fosfat, infusa kopi robusta berpotensi menjadi terapi alternatif atau komplementer alami yang aman dengan risiko resistensi bakteri yang rendah.