Ariko Rahmat Putra
Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Hubungan Lingkar Pinggang dan IMT dengan Osteoartritis Genu Adzra Mu'aazarah P; Mia Kusmiati; Ariko Rahmat Putra
Bandung Conference Series: Medical Science 117-124
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22083

Abstract

Abstract. Knee osteoarthritis is a degenerative joint disease commonly affecting middle-aged and older adults, leading to pain, functional limitations, and reduced quality of life. Obesity is recognized as a major risk factor for knee osteoarthritis through increased mechanical load on the joint and systemic inflammatory processes. Obesity can be assessed using Body Mass Index (BMI) and waist circumference as an indicator of central obesity. This study aimed to analyze the association between waist circumference and Body Mass Index (BMI) with the incidence of knee osteoarthritis among patients at Mary Cileungsi General Hospital. This study employed an analytic observational design with a cross-sectional approach using secondary data from medical records. A total of 130 female patients aged ≥35 years who met the inclusion and exclusion criteria were included. The independent variables were waist circumference and BMI, while the dependent variable was the incidence of knee osteoarthritis. Data were analyzed using univariate analysis, bivariate analysis with the chi-square test, and multivariate analysis using logistic regression. The results showed a significant association between waist circumference and BMI with the incidence of knee osteoarthritis (p<0.05). Patients with central obesity and higher BMI had a greater proportion of knee osteoarthritis compared to non-obese patients. However, multivariate analysis did not identify any variable with a statistically significant association, although BMI demonstrated the highest tendency as a risk factor. In conclusion, both general and central obesity play an important role in the occurrence of knee osteoarthritis. Abstrak. Osteoartritis genu merupakan penyakit sendi degeneratif yang sering ditemukan pada usia paruh baya hingga lanjut dan dapat menyebabkan nyeri, keterbatasan aktivitas, serta penurunan kualitas hidup. Obesitas diketahui sebagai salah satu faktor risiko utama osteoartritis genu, baik melalui peningkatan beban mekanik pada sendi maupun melalui proses inflamasi sistemik. Penilaian obesitas dapat dilakukan menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT) dan lingkar pinggang sebagai indikator obesitas sentral. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan lingkar pinggang dan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan kejadian osteoartritis genu pada pasien di RSU Mary Cileungsi. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain potong lintang (cross-sectional) menggunakan data sekunder rekam medis. Sampel penelitian berjumlah 130 pasien perempuan berusia ≥35 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel independen meliputi lingkar pinggang dan IMT, sedangkan variabel dependen adalah kejadian osteoartritis genu. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara lingkar pinggang dan IMT dengan kejadian osteoartritis genu (p<0,05). Pasien dengan obesitas sentral dan IMT gemuk memiliki proporsi kejadian osteoartritis genu yang lebih tinggi dibandingkan kelompok non-obesitas. Namun, pada analisis multivariat tidak ditemukan variabel yang berhubungan secara signifikan, meskipun IMT menunjukkan kecenderungan risiko paling dominan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa obesitas, baik secara umum maupun sentral, berperan penting dalam kejadian osteoartritis genu.
Hubungan Tingkat Stres Mahasiswa terhadap Kebiasaan Merokok di Fakultas Kedokteran Unisba Irgi Indra Wirawan; Ratna Dewi Indi Astuti; Ariko Rahmat Putra
Bandung Conference Series: Medical Science 615-622
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22290

Abstract

Abstract. Medical students are at high risk of experiencing stress due to intense and continuous academic demands. One behavior still found within this group is smoking; however, the relationship between smoking habits and stress levels has not been extensively examined specifically in this population. This study employed a quantitative, cross-sectional design involving third-year medical students at the Faculty of Medicine, UNISBA, in the 2025/2026 academic year. Data were collected using a structured questionnaire measuring smoking habits and stress levels based on the Perceived Stress Scale (PSS-10). The analysis was conducted descriptively and inferentially using the Fisher–Freeman–Halton Exact Test. The findings indicated that respondents exhibited varying levels of stress, with the largest proportion falling into the moderate-stress category. The Fisher–Freeman–Halton Exact Test yielded a p-value of 0.087, indicating no significant association between smoking habits and stress levels among UNISBA medical students. Smoking behavior among students may be influenced by other factors, such as social interactions, peer environment, and surrounding norms and culture, and therefore may not be directly related to perceived stress levels. Abstrak. Mahasiswa kedokteran memiliki risiko tinggi mengalami stres akibat tuntutan akademik yang intens dan berkelanjutan. Salah satu perilaku yang masih ditemukan pada kelompok ini adalah merokok, namun hubungan antara kebiasaan merokok dan tingkat stres belum banyak diteliti secara khusus pada populasi tersebut. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain cross-sectional yang melibatkan mahasiswa Fakultas Kedokteran UNISBA tingkat 3 Tahun Ajaran 2025/2026. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner tertutup yang mengukur kebiasaan merokok serta tingkat stres berdasarkan instrumen Perceived Stress Scale (PSS-10). Analisis dilakukan secara deskriptif dan inferensial dengan menggunakan uji Fisher–Freeman–Halton Exact Test. Hasil penelitian menunjukkan tingkat stres responden bervariasi dengan proporsi terbesar berada pada kategori stres sedang. Hasil uji Fisher–Freeman–Halton Exact Test menunjukkan nilai p = 0,087 yang mengindikasikan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan merokok dan tingkat stres pada mahasiswa Fakultas Kedokteran UNISBA. Kebiasaan merokok dapat disebabkan faktor lain seperti faktor pergaulan sosial. Kebiasaan merokok pada mahasiswa dapat dipengaruhi oleh faktor lain, seperti pergaulan sosial, lingkungan pertemanan, serta pengaruh norma dan budaya di sekitarnya, sehingga tidak selalu berkaitan langsung dengan tingkat stres yang dirasakan.
Hasil Tes Cepat Molekular TB Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin Ibrahim Iza Nur Haq; Noormartany; Ariko Rahmat Putra
Bandung Conference Series: Medical Science 721-728
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22367

Abstract

Abstract. Tuberculosis (TB) remains a significant public health problem in Indonesia, including West Java, which has the highest disease burden. Early and accurate diagnosis is essential to interrupt TB transmission, one of which is achieved through the Molecular Rapid Test (MRT), which can detect Mycobacterium tuberculosis while also indicating the degree of positivity as a marker of bacterial load. This study aimed to analyze differences in the degree of positivity of TB MRT results based on age and sex at Al-Islam Hospital Bandung. This study employed a quantitative analytical observational design with a cross-sectional approach. The study population consisted of patients who underwent TB MRT examination at Al-Islam Hospital Bandung during the 2023–2025 period. Data were collected from secondary sources in the form of medical records using purposive sampling, resulting in 385 samples. Data analysis was conducted using univariate and bivariate methods with the Chi-square test through SPSS version 29.0. The results showed a statistically significant association between age and sex with TB MRT results (p<0.05). The adult age group (45–59 years) and male patients exhibited higher MRT positivity levels compared to other groups. These findings indicate that biological, hormonal, and behavioral factors contribute to the increased bacterial load in TB patients. In conclusion, adult age and male sex are important risk factors for higher TB MRT positivity levels. It is recommended that TB screening and control strategies prioritize high-risk groups to support the achievement of TB elimination targets. Abstrak. Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, termasuk di Jawa Barat yang memiliki beban kasus tertinggi. Diagnosis dini dan akurat sangat penting untuk memutus rantai penularan TB, salah satunya melalui Tes Cepat Molekuler (TCM) yang mampu mendeteksi Mycobacterium tuberculosis sekaligus menggambarkan derajat positivitas sebagai indikator beban bakteri. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan derajat positivitas hasil pemeriksaan TCM TB berdasarkan usia dan jenis kelamin di RS Al-Islam Bandung.Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Objek penelitian adalah pasien yang menjalani pemeriksaan TCM TB di RS Al-Islam Bandung periode 2023–2025. Data dikumpulkan dari sumber sekunder berupa rekam medis dengan teknik purposive sampling sebanyak 385 sampel. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square melalui SPSS versi 29.0.Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara usia dan jenis kelamin dengan hasil TCM TB (p<0,05). Kelompok usia dewasa (45–59 tahun) dan pasien laki-laki memiliki tingkat positivitas TCM yang lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya. Temuan ini menunjukkan bahwa faktor biologis, hormonal, dan perilaku berperan dalam tingginya beban bakteri TB.Disimpulkan bahwa usia dewasa dan jenis kelamin laki-laki merupakan faktor risiko penting terhadap tingginya derajat positivitas TCM TB. Disarankan agar strategi skrining dan pengendalian TB difokuskan pada kelompok berisiko tinggi untuk mendukung pencapaian target eliminasi TB.
Gambaran Karakteristik Pada Pasien Miopia di RSUD Welas Asih Bandung Periode Januari-Desember 2024 Isma Aliya Helyana; Bambang Setiohadji; Ariko Rahmat Putra
Bandung Conference Series: Medical Science 737-742
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22371

Abstract

Abstract. Myopia is a refractive error characterized by the inability of the eye to focus light precisely on the retina, resulting in blurred distance vision. The prevalence of myopia continues to increase, particularly among young and productive age groups, and may lead to complications if not properly managed. This study aimed to describe the characteristics of patients with myopia at RSUD Welas Asih Bandung during the period of January–December 2024. This study employed a descriptive quantitative design with a cross-sectional approach. The study subjects consisted of secondary data obtained from the medical records of patients diagnosed with myopia. Sampling was conducted using purposive sampling, resulting in a total of 184 patients who met the inclusion criteria. The variables analyzed included age, sex, and degree of myopia. Data were analyzed using univariate analysis and presented in the form of frequency and percentage distributions. The results showed that the majority of myopia patients were in the 20–29 years age group (35.3%) and were female (76.6%). The most common degree of myopia was mild myopia in both the right eye (72.3%) and the left eye (77.2%). In conclusion, myopia was most frequently found among young and productive age groups with mild severity. These findings highlight the importance of early screening and eye health education to prevent the progression of myopia. Abstrak. Miopia merupakan kelainan refraksi yang ditandai dengan ketidakmampuan mata memfokuskan cahaya tepat di retina sehingga menyebabkan penglihatan jauh menjadi buram. Prevalensi miopia terus meningkat, terutama pada usia muda dan produktif, serta berpotensi menimbulkan komplikasi apabila tidak ditangani dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik pasien miopia di RSUD Welas Asih Bandung periode Januari–Desember 2024. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Objek penelitian berupa data sekunder rekam medis pasien yang terdiagnosis miopia. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 184 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Variabel yang diteliti meliputi usia, jenis kelamin, dan derajat miopia. Data dianalisis secara univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien miopia berada pada kelompok usia 20–29 tahun (35,3%) dan berjenis kelamin perempuan (76,6%). Derajat miopia terbanyak adalah miopia ringan, baik pada mata kanan (72,3%) maupun mata kiri (77,2%). Dapat disimpulkan bahwa miopia paling banyak ditemukan pada kelompok usia muda dan produktif dengan derajat ringan. Temuan ini menunjukkan pentingnya skrining dini dan edukasi kesehatan mata sebagai upaya pencegahan progresivitas miopia.
Hubungan Dukungan Orang Tua dengan Burnout Akademik pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung dalam Penyusunan Skripsi Tahun Akademik 2024/2025 Kayla Keviandra; Caecielia Makaginsar; Ariko Rahmat Putra
Bandung Conference Series: Medical Science 899-906
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22419

Abstract

Abstract. Academic burnout is a psychological problem commonly experienced by medical students, particularly during the thesis writing phase, characterized by emotional exhaustion, cynicism toward academic activities, and reduced academic efficacy. Parental support is assumed to act as a protective factor against academic burnout. This study aimed to determine the relationship between parental support and academic burnout among medical students of the Faculty of Medicine, Universitas Islam Bandung who were writing their thesis. This study used an analytical observational design with a cross-sectional approach. A total of 85 final-year students were selected using purposive sampling. Parental support was measured using the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS), while academic burnout was assessed using the Maslach Burnout Inventory–Student Survey (MBI-SS). Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with Spearman correlation test. The results showed that most respondents had high parental support (74.1%) and moderate academic burnout levels (76.5%). There was a significant negative correlation between parental support and academic burnout (p = 0.000). Parental support was significantly associated with emotional exhaustion and cynicism but not with academic efficacy (p = 0.823). These findings indicate that parental support plays an important role in reducing academic burnout during the thesis process. This study has received ethical approval from the Ethics Committee of the Faculty of Medicine, Universitas Islam Bandung (Ethical clearance number: 136/KEPK-Unisba/VII/2025). Abstrak. Burnout akademik merupakan masalah psikologis yang sering dialami mahasiswa kedokteran, terutama pada fase penyusunan skripsi, yang ditandai dengan kelelahan emosional, sikap sinis terhadap studi, dan penurunan efikasi akademik. Dukungan orang tua diduga berperan sebagai faktor protektif terhadap burnout akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan orang tua dengan burnout akademik pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung yang sedang menyusun skripsi. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian berjumlah 85 mahasiswa tingkat akhir yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Dukungan orang tua diukur menggunakan Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS), sedangkan burnout akademik diukur menggunakan Maslach Burnout Inventory–Student Survey (MBI-SS). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki tingkat dukungan orang tua tinggi (74,1%) dan tingkat burnout akademik sedang (76,5%). Terdapat hubungan negatif yang signifikan antara dukungan orang tua dan burnout akademik (p = 0,000). Dukungan orang tua berhubungan signifikan dengan kelelahan emosional dan sinisme, namun tidak berhubungan signifikan dengan efikasi akademik (p = 0,823). Temuan ini menunjukkan bahwa dukungan orang tua berperan penting dalam menurunkan burnout akademik selama penyusunan skripsi.Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik dari Komite Etik Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung dengan nomor etik 136/KEPK-Unisba/VII/2025.
Durasi Diabetes Melitus Tipe 2 dan Jenis Retinopati Diabetik: Adakah Hubungannya? Najla Hasyiba Tolani; Bambang Setiohadji; Ariko Rahmat Putra
Bandung Conference Series: Medical Science 1217-1226
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22533

Abstract

Abstract. Type 2 diabetes mellitus is a chronic metabolic disease with a continuously increasing prevalence and a high risk of microvascular complications, particularly diabetic retinopathy, which may lead to visual impairment and blindness. One important factor influencing the progression and severity of diabetic retinopathy is the duration of diabetes. This study aimed to analyze the association between the duration of type 2 diabetes mellitus and the type of diabetic retinopathy among patients at RSUD Welas Asih during 2024–2025. A quantitative observational study with a cross-sectional analytic design was conducted using secondary data obtained from patients’ medical records. The study population consisted of patients diagnosed with type 2 diabetes mellitus and diabetic retinopathy who met the inclusion criteria. The independent variable was the duration of diabetes (<5 years, 5–10 years, and >10 years), while the dependent variable was the type of diabetic retinopathy, classified as non-proliferative and proliferative. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with the Chi-square test. The results demonstrated a statistically significant association between the duration of type 2 diabetes mellitus and the type of diabetic retinopathy (p<0.05), indicating that a longer duration of diabetes was associated with a higher likelihood of proliferative diabetic retinopathy. In conclusion, the duration of type 2 diabetes mellitus is significantly associated with the severity of diabetic .retinopathy, highlighting the importance of regular ophthalmologic screening to prevent disease progression. Abstrak. Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit kronis yang prevalensinya terus meningkat dan berpotensi menimbulkan komplikasi mikrovaskular, salah satunya retinopati diabetik yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan hingga kebutaan. Salah satu faktor yang berperan dalam progresivitas retinopati diabetik adalah lama menderita diabetes. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan lama menderita diabetes melitus tipe 2 dengan jenis retinopati diabetik pada pasien di RSUD Welas Asih tahun 2024–2025. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitik observasional dan pendekatan cross-sectional. Objek penelitian adalah pasien diabetes melitus tipe 2 yang mengalami retinopati diabetik. Data dikumpulkan dari sumber sekunder berupa rekam medis pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Variabel bebas adalah lama menderita diabetes melitus tipe 2 yang dikategorikan menjadi <5 tahun, 5–10 tahun, dan >10 tahun, sedangkan variabel terikat adalah jenis retinopati diabetik yang dibedakan menjadi non-proliferatif (NPDR) dan proliferative (PDR). Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara lama menderita diabetes melitus tipe 2 dengan jenis retinopati diabetik (p<0,05), di mana durasi diabetes yang lebih lama cenderung berhubungan dengan retinopati diabetik proliferatif. Kesimpulan penelitian ini menegaskan pentingnya skrining dan pemantauan mata secara berkala pada pasien diabetes melitus tipe 2 untuk mencegah progresivitas komplikasi retina.