Zulmiardi
Program Studi Teknik Mesin Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Malikussaleh

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PEMBUATAN BIOETANOL DARI KENTANG MERAH (Solanum Tuberosom L) DENGAN CARA FERMENTASI MENGGUNAKAN RAGI ROTI (saccharomyces cerevisiae) Aidil Fajar; Muhammad Muhammad; Meriatna Meriatna; Lukman Hakim; Nasrul ZA Nasrul ZA; Zulmiardi
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 5 No. 6 (2025): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)-December 2025
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v5i06.20020

Abstract

Kentang merah (Solanum Tuberosum L.) berfungsi sebagai sumber penghasil bioetanol. Bioetanol merupakan bahan bakar terbarukan, dipilih sebagai bahan baku karena kandungan karbohidratnya yang signifikan. Kentang merah ini mengandung gula, selulosa, dan pati. Dibandingkan bahan bakar fosil lainnya, pemanfaatan bioetanol lebih bermanfaat bagi lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi penggunaan kentang merah sebagai sumber energi alternatif untuk produksi bioetanol dan menganalisis bagaimana variasi waktu dan jumlah ragi berdampak pada kuantitas bioetanol yang dihasilkan. Pada percobaan ini kentang merah diolah dengan ukuran 80 mesh, menggunakan ragi sebanyak 4 gram, 6 gram, 8 gram, dan 10 gram. Lama fermentasi yang diteliti adalah 2, 4, 6, dan 8 hari. Teknik yang digunakan meliputi hidrolisis, fermentasi, dan distilasi. Penelitian ini mengukur hasil, kepadatan, dan konsentrasi bioetanol. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa rendemen dan kepadatan optimal terjadi pada lama fermentasi 8 hari dengan 10 gram ragi, menghasilkan masing-masing 6,962 dan 0,8182, sedangkan konsentrasi bioetanol tertinggi juga tercatat pada 8 hari fermentasi dengan massa ragi sebesar 10 gram. Tingkat konsentrasi dipengaruhi oleh durasi fermentasi dan jumlah ragi yang digunakan.
ISOLASI TANIN DARI DAUN KETAPANG (TERMINILIA CATAPPA) SEBAGAI BIOSORBEN LOGAM TIMBAL PB2+ DENGAN AKTIVATOR NAOH Dwi Dear Asrianda Damanik; Meriatna; Masrullita; Wiza Ulfa Fibarzi; Raudhatul Ulfa; Zulmiardi
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 5 No. 6 (2025): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)-December 2025
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v5i06.23769

Abstract

Biosorben merupakan material padat yang pada umumnya berpori, yang digunakan untuk menyerap molekul adsorbat dalam suatu proses adsorpsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi tanin dari daun ketapang (Terminalia catappa) dan mengkaji efektivitasnya sebagai biosorben dalam penyerapan logam berat timbal (Pb²⁺) dengan aktivasi menggunakan NaOH. Proses aktivasi dilakukan dengan merendam serbuk tanin dalam larutan NaOH 0,1 N selama 24 jam, kemudian dianalisis karakteristik biosorben menggunakan FTIR dan SEM untuk mengetahui gugus fungsi aktif serta morfologi pori-pori. Variabel bebas yang diuji adalah massa biosorben (0,2; 0,4; 0,6; 0,8 dan 1 gram) dan waktu kontak (30, 45, 60, 75, 90 menit), sementara variabel terikat meliputi kapasitas penyerapan, persen penyerapan, dan isoterm adsorpsi. Analisis konsentrasi Pb²⁺ dilakukan menggunakan Atomic Absorption Spectroscopy (AAS). Hasil menunjukkan bahwa peningkatan massa biosorben dan waktu kontak meningkatkan efisiensi penyerapan Pb²⁺ hingga mencapai 99,45% dengan kapasitas maksimum 12,20 mg/g pada massa 1 gram dan waktu 90 menit. Kurva isoterm Langmuir (R² = 0,9999) lebih sesuai menggambarkan mekanisme adsorpsi dibandingkan isoterm Freundlich (R² = 0,9149), menandakan adsorpsi berlangsung secara monolayer pada permukaan homogen. Aktivasi kimia dengan NaOH berhasil meningkatkan luas permukaan dan porositas biosorben yang mendukung penyerapan logam Pb²⁺. Studi ini menegaskan bahwa tanin daun ketapang yang teraktivasi secara kimia merupakan biosorben yang efektif dan potensial untuk aplikasi pengolahan limbah cair mengandung logam berat.