Nanang Supriyadi
Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Outcome-Based Education dan Learning Outcomes dalam Model-Model Evaluasi Pembelajaran Vina Nanda Sugesti; Siti Khotimah; Umi Hijriyah; Bambang Sri Anggoro; Nanang Supriyadi
Journal of Instructional and Development Researches Vol. 6 No. 5 (2026): October
Publisher : Yayasan Indonesia Emerging Literacy Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53621/3kx5t071

Abstract

Penelitian ini bertujuan menjelaskan konsep Outcome-Based Education (OBE) dan learning outcomes, mengidentifikasi model-model evaluasi pembelajaran, serta menganalisis integrasi dan tantangan implementasi OBE dalam praktik evaluasi pembelajaran. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan terhadap buku dan artikel jurnal yang relevan, yang dianalisis secara deskriptif-analitis. Hasil kajian menunjukkan bahwa OBE menempatkan learning outcomes sebagai fondasi seluruh keputusan pendidikan melalui backward design dan keselarasan (alignment) antara outcomes, pengalaman belajar, dan asesmen. Learning outcomes harus dirumuskan secara spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan terikat waktu dengan kata kerja operasional, serta mencakup dimensi kognitif, afektif, dan psikomotor. Lima model evaluasi dikaji, yaitu evaluasi berbasis norma, berbasis kriteria, formatif dan sumatif, berbasis outcome, serta alternative assessment; evaluasi berbasis kriteria dinilai paling selaras dengan prinsip OBE. Implementasi OBE membawa implikasi positif berupa kejelasan tujuan, keselarasan pembelajaran dan penilaian, efektivitas, serta akuntabilitas, tetapi menghadapi tujuh tantangan, antara lain kesulitan merumuskan outcomes yang operasional, perubahan pola pikir pendidik, keterbatasan sumber daya, resistensi pemangku kepentingan, dan minimnya bukti empiris di Indonesia. Artikel ini merekomendasikan pelatihan pendidik, pengembangan rubrik dan instrumen asesmen yang valid, serta penelitian lanjutan.
Evaluasi Pemanfaatan Artificial Intelligence dalam Asesmen Pembelajaran di MIN 5 Bandar Lampung: Studi Kualitatif Syifa Adilla Zahra; Syifaul Karima; Umi Hijriyah; Bambang Sri Anggoro; Nanang Supriyadi
Journal of Instructional and Development Researches Vol. 6 No. 5 (2026): October
Publisher : Yayasan Indonesia Emerging Literacy Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53621/qj645r06

Abstract

Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), khususnya Generative Artificial Intelligence (GenAI), memberikan peluang dalam pelaksanaan asesmen pembelajaran, tetapi juga menimbulkan persoalan terkait efektivitas, etika, autentisitas, dan integritas akademik. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemanfaatan AI dalam asesmen pembelajaran serta implikasinya terhadap proses dan hasil asesmen peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif yang dilaksanakan di MIN 5 Bandar Lampung. Subjek penelitian mencakup 109 peserta didik kelas VI yang tersebar dalam tiga kelas, sedangkan informan penelitian terdiri atas guru dan peserta didik yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan pengalaman mereka dalam menggunakan AI pada kegiatan pembelajaran dan asesmen. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi. Keabsahan data diperiksa menggunakan triangulasi sumber dan teknik, sedangkan analisis data meliputi kondensasi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI membantu guru menyusun soal, mengembangkan variasi asesmen, dan memberikan umpan balik awal sehingga pekerjaan menjadi lebih efisien. Bagi peserta didik, AI memberikan kemudahan dalam memahami materi dan memperoleh penjelasan tambahan ketika mengerjakan tugas. Meskipun demikian, pemanfaatannya juga menunjukkan adanya risiko ketergantungan terhadap jawaban yang dihasilkan AI tanpa proses pengolahan secara mandiri. Hal ini menimbulkan persoalan dalam memastikan keaslian hasil pekerjaan serta mengukur kemampuan peserta didik yang sebenarnya. Dengan demikian, pemanfaatan AI dalam asesmen pembelajaran memerlukan pengawasan guru, aturan penggunaan yang jelas, penguatan literasi AI, serta penerapan asesmen yang tidak hanya berorientasi pada hasil akhir, tetapi juga memperhatikan proses dan kemampuan peserta didik secara autentik.
Penguatan Asesmen Autentik dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada Kurikulum Merdeka Ryan Radjendra; Wiwin Sunita; Umi Hijriyah; Bambang Sri Anggoro; Nanang Supriyadi
Journal of Instructional and Development Researches Vol. 6 No. 5 (2026): October
Publisher : Yayasan Indonesia Emerging Literacy Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53621/28tyty35

Abstract

Implementasi Kurikulum Merdeka menuntut proses pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga mampu mengukur kemampuan peserta didik secara utuh melalui asesmen yang kontekstual dan bermakna. Dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), asesmen autentik menjadi penting karena capaian pembelajaran tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan keagamaan, tetapi juga keterampilan dan sikap yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penguatan asesmen autentik dalam pembelajaran PAI pada Kurikulum Merdeka serta mengidentifikasi bentuk, prinsip, dan strategi penerapannya dalam mendukung pencapaian kompetensi peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka. Data diperoleh melalui penelaahan berbagai literatur yang relevan mengenai asesmen autentik, pembelajaran PAI, dan implementasi Kurikulum Merdeka, kemudian dianalisis secara deskriptif-analitis. Hasil kajian menunjukkan bahwa penguatan asesmen autentik dalam pembelajaran PAI dapat dilakukan melalui asesmen kinerja, proyek, portofolio, observasi, dan penilaian produk yang dikembangkan berdasarkan tujuan pembelajaran dan konteks kehidupan peserta didik. Asesmen autentik juga memberikan ruang bagi guru untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai perkembangan pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik. Dengan demikian, penguatan asesmen autentik dapat menjadi strategi penting dalam mewujudkan pembelajaran PAI yang lebih kontekstual, bermakna, dan selaras dengan karakteristik Kurikulum Merdeka