Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Lithology Units Padaherang Area and Surrounding, Ciamis District, West Java Province Gani, Reza Mohammad Ganjar; Firmansyah, Yusi
Journal of Geological Sciences and Applied Geology Vol 5, No 2 (2021): Journal of Geological Science and Applied Geology
Publisher : Faculty of Geological Engineering, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/gsag.v5i2.35035

Abstract

Administratively, Padaherang region and surrounding is included to kecamatan Padaherang, Ciamis Regency, West Java. The reason why this area is a research area is partly because the author feels that the area in Ciamis Regency is a southern mountainous area that is influenced by volcanism and sedimentation processes and other geological processes. In addition, there are still many geological problems that have not been fully revealed, so the author feels the need to conduct further and more detailed research. Objects to be studied in the field include rocks (description, sampling, direction of moves and slopes), indications of geological structures, and landscape appearances accompanied by sketch photos and additional data deemed to support the research results, The research steps carried out included several stages of work, namely the preparation stage, field work, laboratory research, and the stage of preparing reports. The trajectory that is traced in the field research that has been determined at the preparatory stage. If the trajectory is deemed inadequate, a search for additional trajectories is carried out. There are three methods used in geological mapping, namely the field orientation method, the compass trajectory method, the measuring tape method and the compass. In this mapping, the methods used are the field orientation method and the measuring tape and compass method. Threre are  five lithology units which is arrange at research area, these units of lithologi from the older to the younger is breccias unit, sandstone units,  claystone. Geology activity at research area predicted begun at Oligocen till Holocen era. first in Oligocen the volcanic activity is strong enough where the eruption produced the breccia and sandstone unit, this process stop at lower Miosen. And at the middle Miosen there is the tectonic activity hapenned. Limestone unit was diendapkan at middle Miocen, and claystone unit at upper Miocen, and quartery deposit is the younger unit at research area
DEPOSITIONAL ENVIROMENT CARBONATES SANDSTONE UNIT OF THE NYALINDUNG FORMATION BASED ON OUTCROP DATA Firmansyah, Yusi; Ganjar Gani, Reza Mohammad; Fachrudin, Kurnia Arfiansyah
Journal of Geological Sciences and Applied Geology Vol 2, No 3 (2017): Journal of Geological Sciences and Applied Geology
Publisher : Faculty of Geological Engineering, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/gsag.v2i3.15754

Abstract

The research area is located in Loji Village, Simpenan District, Sukabumi Regency, West Java Province. The research was conducted by geological mapping method. The determination of the carbonaceous rocks precipitation environment based on the characteristics of lithology and fossil analysis. Based on the characteristics of lithology, this unit consists of carbonate sandstones. In megaskopis unit of this Carbonate Sandstone has physical characteristics, brown, medium grain sand size - very fine sand, circular round, open pack - closed, good sorting and bad permeability. The results of fossil foraminifera bentonic and plantonic analysis show that the bathymetry zone is at the outer center of neritik So it can be predicted that the deposition environment of this unit is in shallow sea.Keywords : lithologic characteristics, bentonic foraminifera, depositional environment
NILAI DAN JENIS POROSITAS BATUPASIR PADA FORMASI WALATDI DAERAH CICANTAYAN, KABUPATEN SUKABUMI BERDASARKAN METODE PETROGRAFI Firmansyah, Yusi; Mardiana, Undang; Kurniawan, Endy; Nurdrajat, .; Gani, Reza Mohammad Ganjar
Bulletin of Scientific Contribution Vol 16, No 3 (2018): Bulletin of Scientific Contribution GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (878.6 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v16i3.20224

Abstract

ABSTRACTStudy of sandstone porosity Walat Formation in Sukabumi, West Java is a step to get information about the value and type of porosity that develops in this area. Sandstones that have good porosity can potentially become reservoir rocks but not all sandstones have good porosity. Systematic modeling of Walat Formation outcrops which are believed to have potential as reservoir rocks are analyzed in the laboratory to see their porosity. Eight samples were selected and analyzed by petrographic method to determine the type of porosity and calculate the sandstone porosity value of the Walat Formation located in Cicantayan Village, Cisaat District, Sukabumi District. Based on the results of petrographic analysis, all sandstone samples in the study area have intergranular primary porosity and have sufficient to special porosity values. Based on this research, it can be said that in general the sandstones in the study area have very good porosity which has the potential to be a good reservoir rock.Keywords: Walat Formation, sandstone, porosity, petrographic analysis.ABSTRAKKajian porositas batupasir Formasi Walat di Sukabumi, Jawa Barat merupakan suatu langkah untuk mendapatkan informasi mengenai nilai dan jenis porositas yang berkembang pada daerah ini. Batupasir yang memiliki porositas yang baik dapat berpotensi menjadi batuan reservoir namun tidak semua batupasir memiliki porositas yang baik. Sistematika pemercontohan singkapan Formasi Walat yang diyakini berpotensi sebagai batuan reservoar di analisis ke laboratorium untuk dilihat porositasnya. Sebanyak delapan percontoh terpilih dan dianalisis dengan metode petrografi untuk mengetahui jenis porositas serta menghitung nilai porositas batupasir Formasi Walat yang terletak di desa Cicantayan, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi. Berdasarkan hasil analisis petrografi semua percontoh batupasir di daerah penelitian memiliki porositas primer intergranular dan memiliki nilai porositas yang cukup hingga istimewa. Berdasarkan penelitian ini dapat dikatakan secara umum batupasir didaerah penelitian memiliki porositas yang sangat baik sehingga berpotensi menjadi batuan reservoir yang baik.Kata Kunci: Walat Formation, sandstone, porosity, petrographic analysis.
BATUAN SEDIMEN DI CEKUNGAN OBI SERTA POTENSINYA SEBAGAI BATUAN SUMBER Putra, Andri Perdana; Gani, Reza Mohammad Ganjar
Bulletin of Scientific Contribution Vol 16, No 3 (2018): Bulletin of Scientific Contribution GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.04 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v16i3.18815

Abstract

Cekungan Obi merupakan cekungan Tersier di Kawasan Timur Indonesia yang memiliki endapan batuan sedimen berumur Paleogen dan Neogen namun belum memproduksi hidrokarbon, sehingga menarik untuk dipelajari dan dikaji potensi sumberdaya minyak dan gas buminya. Daerah penelitian cekungan Obi meliputi pulau Bacan dan pulau Kasiruta di bagian utara serta pulau Obi dan pulau Obilatu di bagian selatan yang secara administrasi termasuk ke dalam Kabupaten Halmahera Selatan, Propinsi Maluku Utara. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengkaji potensi batuan sumber (source rock) cekungan Obi yang mendukung dalam prospeksi sistem perminyakan cekungan Obi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini mencakup pengamatan dan perekaman data lapangan serta pengambilan contoh batuan terhadap satuan-satuan batuan di beberapa lokasi dan lintasan pengamatan terpilih untuk analisa geokimia organik. Lokasi pengamatan lapangan terhadap satuan batuan dilakukan di lokasi tipe tempat batuan tersebut pertama kali diamati dan dinamakan. Formasi Loleobasso disebandingkan dengan formasi Piniya yang diendapkan pada laut dangkal-paparan yang dipengaruhi oleh pasang surut. Formasi Fluk kemungkinan diendapkan pada area laut dangkal, Formasi Amasing kemungkinan diendapkan pada area laut dangkal, Formasi Ruta kemungkinan diendapkan pada area laut dangkal-paparan dan Formasi Woi kemungkinan diendapkan pada area laut dangkal-paparan. Berdasarkan hasil analisa TOC terhadap percontoh satuan-satuan batuan di beberapa lokasi dan lintasan pengamatan terpilih dapat disimpulkan bahwa secara umum cekungan Obi memiliki potensi batuan sumber dengan kategori buruk, dengan kerogen tipe III dan tipe IV. Tingkat kematangan termal batuan sumber cekungan Obi umumnya berada pada tingkat belum matang, matang dan overmature. Kata Kunci: Cekungan Obi, Batuan Sedimen, Batuan Sumber, Nilai TOC.
KARAKTERISTIK BATUBARA DAERAH KECAMATAN NUNUKAN, KALTARA GANI, REZA MOHAMMAD GANJAR
Bulletin of Scientific Contribution Vol 18, No 1 (2020): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v18i1.27358

Abstract

Saat ini batubara banyak dibutuhkan karena merupakan, bahan galian yang strategis dan salah satu bahan baku energi nasional yang mempunyai nilai ekonomi penting. Informasi mengenai sumberdaya dan cadangan batubara menjadi hal yang mendasar dan penting dalam merencanakan strategi kebijaksanaan energi nasional dikarenakan saat ini, pemerintah tengah meningkatkan pemanfaatan batubara baik sebagai energi altematif untuk keperluan domestik seperti pada sektor industri dan pembangkit tenaga listrik maupun untuk keperluan ekspor. Maksud dari pelaksanaan kegiatan ini adalah untuk melaksanakan pemetaan awal yaitu dengan mempelajari Kondisi Geologi Daerah Penyelidikan secara umum guna mendapatkan data-data awal serta gambaran secara jelas mengenai keberadaan dan potensi deposit batubaranya. Kota terdekat dari daerah penyelidikan adalah Kota Nunukan. Letak lokasi penyelidikan tepatnya ke arah barat dari Kota Nunukan dengan jarak sekitir 50 km. Nunukan merupakan sebuah pulau kecil dengan luas areal sekitar 34.000 ha yang pada saat sekarang telah menjadi kabupaten hasil dari pemekaran kabupaten sebelumnya yaitu Kabupaten Bulungan. Berdasarkan data-data hasil Kegiatan Penyelidikan Lapangan, stratigrafi litologi penyusun Daerah Penyelidikan didominasi oleh ; Alluvium dan anggota Formasi Meliat (Tmm) serta Formasi Tabul (Tmt). Berdasarkan data Geologi Regional dan Hasil Interpretasi Data-data Lapangan diduga Daerah Penyelidikan berada pada salah satu sayap / sisi suatu “Zona Lipatan”, hal tersebut terutama dicirikan oleh gradasi harga “dip” (kemiringan lapisan) batuan dan batubara yang tidak konsisten pada beberapa Lokasi / Stasiun Pengamatan di lapangan. Hasil penyelidikan sumberdaya batubara di lapangan didapat 14 singkapan batubara dipermukaan (outcrop) dengan jumlah titik pengamatan yang disampling sebanyak 7 titik untuk kernudian dikirim ke laboratorium. Secara megaskopis, umumnya batubara di daerah penyelidikan berwarna hitam kusam, berlapis dengan retakan angular, agak kompak, dan agak keras. Dari kenampakan megaskopis tersebut, diperkirakan bahwa secara umum kualitas batubara yang ada di daerah penyelidikan adalah browncoalignite.Kata kunci: eksplorasi, batubara, nunukan
GAS IN PLACE PREDICTION OF COAL BED METHANE EXPLORATION WITH PROXIMATE DATA, PIT “HMG”, WEST BANKO, SOUTH SUMATRA GANI, REZA MOHAMMAD GANJAR; Arbi, Hafsanjani; Firmansyah, Yusi; Nurdrajat, .; Alfadli, Muhammad Kurniawan
Bulletin of Scientific Contribution Vol 16, No 2 (2018): Bulletin of Scientific Contribution GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.388 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v16i2.18556

Abstract

The energy demand are increase everyday, but the supply insufficiently if only depends on conventional energy. Coal bed methane exploration are one of the unconventional energy that can fulfill energy demand. The main aspect of coal bed methane exploration are the reserve of gas in place. In this research are use conventional data to approach a prediction and calculation of gas in place at PIT “HMG”, West Banko, Tanjung Enim, South Sumatra. Based on the analysis shows that the gas content are increase as the deeper of seam, and the total gas in place are 235.30 MMcf, with Seam C has the highest value 72.47 MMcf.
Pemetaan Pintas dan Analisis Geologi Lingkungan, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat Setiawan, Iwan Fahlevi; Ganjar Gani, Reza Mohammad
Bulletin of Scientific Contribution Vol 18, No 2 (2020): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v18i2.28433

Abstract

Kabupaten Bandung memiliki 31 Kecamatan, 270 Desa dan 10 Kelurahan yang terbagi ke dalam 8 Wilayah Pengembangan (WP) (Buku Rencana Kabupaten Bandung 2016-2036). Sejalan dengan kondisi seperti ini perkembangan daerah Kabupaten Bandung cukup siginifikan baik di bidang perekonomian, kependudukan, jasa, industri, pertanian dan sebagainya, menyebabkan timbulnya kebutuhan lahan untuk pembangunan prasarana fisik dan pengembangan wilayah baik untuk pemukiman, industri, perkantoran dan lainnya. Menurut Yovi (2015) bahwa proses perkembangan suatu kota akan berpotensi menciptakan tantangan bagi perencanaan kota yang sangat terkait dengan perubahan penggunaan lahan. Setiap perubahan penggunaan lahan tentunya akan menimbulkan berbagai dampak terhadap lingkungan. Oleh karena itu analisis geologi lingkungan di Kutawaringin dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kondisi geologi lingkungan daerah tersebut dan diharapkan data ini dapat digunakan oleh berbagai pihak dalam rangka kegiatan pembangunan. Penelitian ini merupakan tahap awal yang lebih ditekankan kepada pengumpulan data sekunder berupa data spatial yang meliputi peta topografi, citra satelit, peta geologi, peta penggunaan lahan, peta kehutanan, dan data penunjang lainnya serta didukung oleh data pengamatan lapangan. Berdasarkan komponen-komponen daya dukung sumber daya dan kendala geologi yang berkembang di kecamatan Kutawaringin, maka wilayah Kecamatan Kutawaringin dapat dibagi menjadi tujuh Satuan Geologi Lingkungan (SGL), yaitu: SGL 1, SGL2, SGL 3, SGL 4, SGL 5, SGL 6 dan SGL 7.  Masing-masing dari satuan tersebut memiliki karakteristik tersendiri
EVALUASI BATUAN INDUK DAN PEMODELAN KEMATANGAN BATUAN INDUK PADA BLOK "F", CEKUNGAN JAWA BARAT UTARA Darmawan, Muhammad Farhan; Gani, Reza Mohammad Ganjar; Ilmi, Nisa Nurul; Husaeni, Ahmad; Bumolo, Firman Ardiansyah
Bulletin of Scientific Contribution Vol 19, No 2 (2021): Bulletins of Scientific Contribution : Geology
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v19i2.34464

Abstract

Penelitian dilakukan di Sub-Cekungan Jatibarang, Cekungan Jawa Barat Utara dengan menggunakan metode geokimia. Analisis dilakukan untuk mengetahui karakteristik batuan induk, biomarker, potensi batuan induk, sejarah pemendaman dan korelasi minyak bumi-batuan induk pada sumur D22, D26, dan D29. Hasil analisis menunjukan bahwa karakteristik geokimia pada Formasi Jatibarang dan Talang Akar dari masingmasing sumur memiliki nilai TOC, S1, S2, dan PY yang cukup baik dengan tipe kerogen II-III sehingga menghasilkan hidrokarbon dengan jenis minyak dan gas bumi serta memiliki tingkat kematangan yang matang. Potensi Formasi Jatibarang dan Talang Akar sebagai batuan induk termasuk kedalam klasifikasi batuan induk efektif, Formasi Baturaja dan Main Upper Cibulakan termasuk batuan induk potensial, dan Formasi Parigi termasuk batuan induk memungkinkan. Proses pengendapan pada daerah penelitian terjadi secara terus menerus karena pada Formasi Jatibarang tidak ditemukan suatu unconformity berupa erosional maupun non-deposisional. Korelasi minyak-batuan induk pada Formasi Jatibarang menunjukan minyak yang ada pada Formasi Jatibarang berasal dari batuan induk yang ada di Formasi Jatibarang sedangkan minyak yang ada pada Formasi Talang Akar berasal dari batuan induk yang ada di Formasi Talang Akar.
BATUBARA FORMASI STEENKOOL DI DAERAH RANSIKI, PAPUA Setiadi, Djadjang Jedi; Alam, Syaiful; Nurdrajat, .; Gani, Reza Mohammad Ganjar; Firmansyah, Yusi
Bulletin of Scientific Contribution Vol 16, No 3 (2018): Bulletin of Scientific Contribution GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1212.477 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v16i3.19008

Abstract

Makalah ini menyajikan hasil penelitian terhadap salah satu endapan batubara yang belum banyak dikenal dalam literatur geologi Indonesia, yakni batubara Formasi Steenkool (akhir Miosen – Plistosen) yang ada di daerah Ransiki, Kepala Burung, Papua. Hasil penelitian lapangan menunjukkan bahwa batubara Formasi Steenkool dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yakni bright coal, banded bright coal, dan dull coal. Batubara tersebut umumnya berwarna hitam dengan gores coklat, dan keras. Belerang kadang-kadang ditemukan mengisi bidang pecah planar hingga conchoidal yang berkembang didalamnya. Lapisan-lapisan batubara Formasi Steenkool di daerah Ransiki memiliki ketebalan yang sangat bervariasi, mulai dari beberapa centimeter hingga hampir 3 m. Sebagian diantaranya mengandung parting serpih karbonan dengan ketebalan umumnya kurang dari 20 cm. Lapisan-lapisan batubara umumnya diapit oleh lapisan serpih karbonan, meskipun ada sebagian diantaranya yang dialasi atau ditutupi oleh lapisan batupasir halus. Hasil penelitian laboratorium terhadap 13 sampel terpilih mengindikasikan bahwa batubara Formasi Steenkool umumnya memiliki kelembapan rata-rata < 3% adb, kadar abu rata-rata < 5%, kadar volatil rata-rata > 40%, kandungan karbon tertambat rata-rata > 45%, dan kadar belerang rata-rata < 1% dengan nilai kalor > 5000 kal/g. Penelitian ini mengungkapkan hasil yang berbeda dengan laporan yang selama ini diterima mengenai batubara Formasi Steenkool. Pertama, hasil penelitian ini menujukkan bahwa hampir semua batubara Formasi Steenkool di daerah penelitian merupakan high-volatile subbituminous coal, bukan lignit sebagaimana dilaporkan selama ini. Kedua, batubara Formasi Steenkool memiliki kualitas yang cukup baik. Hal itu terlihat dari bukti fisik sebagaimana terlihat di lapangan dan dari hasil penelitian laboratorium yang menunjukkan bahwa semua sampel memiliki nilai kalor lebih dari 5000 kal/g. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa batubara Formasi Steenkool layak diteliti lebih lanjut dan seksama untuk mengetahui potensi endapan batubara di wilayah Kepala Burung, Papua, dan untuk mengkaji nilai ekonomis yang mungkin dimilikinya.Kata kunci: Formasi Steenkool, Batubara, Papua 
PERANAN ASPEK STRATIGRAFI DAN GEOLOGI DALAM MENGKAJI POTENSI GERAKAN TANAH DI KECAMATAN PELABUHAN RATU, KABUPATEN SUKABUMI Firmansyah, Yusi; Ganjar Gani, Reza Mohammad; Setiadi, Djadjang Djedi; Adycipta, Adycipta
Bulletin of Scientific Contribution Vol 15, No 1 (2017): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.928 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v15i1.11995

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk menilai potensi gerakan tanah yang mengacu kepada aspek-aspek geologi yang berkembang pada daerah penelitian. Secara astronomis daerah penelitian terletak pada 7o 0’ 3.15” – 7o 5’ 26.89” LS dan 106o 37’ 43.84” – 106o 43’ 10.28” BT, dengan dimensi 10x10 Km. Aspek geologi yang digunakan untuk mengidentifikasi pergerakan tanah antara lain geomorfologi, stratigrafi dan geologi struktur, selain dari ketiga aspek tersebut kami juga mempertimbangkan aspek tutupan lahan sebagai pemicu pergerakan tanah. Dalam menganalisa potensi pergerakan tanah metoda yang digunakan adalah skoring, dimana variabel yang akan digunakan diberi nilai dan dimasukan kedalam kelas-kelas. Dari hasil analisis potensi gerakan tanah, dapat disimpulkan bahwa daerah penelitian didominasi oleh zona stabil hingga kurang stabil. Sedangkan untuk daerah yang dianggap tidak stabil berada dibeberapa titik dari lereng sungai cimandiri yang juga merupakan zona sesar cimandiri dan sesar hegarmanah, dengan litologi batubeku andesit, batugamping dan alluvium.  Kata kunci : Longsor, Pergerakan Tanah, Pemetaan Geologi ABSTRACTThis study was conducted to assess the potential for ground movement, which refers to the geologic aspects of developing the research area. In astronomical research area lies in 7o 0’ 3.15” – 7o 5’ 26.89” LS dan 106o 37’ 43.84” – 106o 43’ 10.28” BT, with dimensions of 10x10 km. Geological aspects are used to identify the movement of the ground, among others, geomorphology, stratigraphy and geologic structure, apart from these three aspects we also take into consideration aspects of land cover as a trigger for ground movement. In analyzing the potential for ground movement is scoring method used, where the variables to be rated and incorporated into classes. From the analysis of the potential for ground movement, it can be concluded that the study area is dominated by stable to less stable zone. As for areas that are considered unstable are several points of the slope Cimandiri river which is also the fault zones and fault Cimandiri Hegarmanah, with lithology batubeku andesite, limestone and alluvium.  Keywords : Landslide, Soil Movement, geological mapping