Mu'min, Ma'mun
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PERAN KYAI TELINGSING DALAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT MUSLIM DI DAERAH TAJUG KUDUS Mu'min, Ma'mun
Community Development: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol 2, No 2 (2017): Community Development Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam (Article In Press)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/cdjpmi.v2i2.3306

Abstract

 Manusia secara individual dan social senantiasa mengalami perubahan secara dialektis, hal ini terjadi sebab manusia adalah mahluk yang memiliki harapan dan keinginan terus maju dan berhasil dalam mempertahankan kehidupannya. Walau demikian, tentu saja dalam perkembangannya manusia membutuhkan pembimbing yang memberikan arahan dan bimbingan sehingga dalam perkembangannya manusia tidak mengalami salah jalan. Peran seorang pembimbing di sini menjadi sangat penting dan dibutuhkan manusia dalam meraih harapan dan tujuan hidup. Dalam konteks ini, Kyai Telingsing salah seorang anggota pasukan dan rohaniawan serta saudagar yang ikut serta dalam ekspedisi yang pimpin Panglima Cheng Ho asal Tiongkok, dalam pengembaraannya ke Nusantara ia tidak kembali ke negara asalnya di Tiongkok, ia memilih menetap di daerah Tajug atau daerah Kudus. Di Tajug Kudus, selain berdagang dan berdakwah, Kyai Telingsing memiliki keahlian melukis dan mengukir atau menyungging, ia mengembangkan keahliannya tersebut sehingga banyak orang yang belajar mengukir di rumahnya. Dari hari ke hari semakin banyak orang belajar mengukir kepadanya dan kemudian bermukim di Tajug. Karena orang semakin banyak, tempat itu berkembang menjadi perkampungan dan terkenal ke daerah sekitar, seperti Demak, Jepara, dan Juwana sebagai tempat perguruan meyungging. Sebagai seorang muslim, Kyai Telingsing menjadikan keahliannya tersebut sebagai media dakwah untuk mengembangkan masyarakat muslim di daerah Tajug. Artikel ini merupakan simpulan hasil penelitian penulis berjudul Peran Kyai Telingsing dalam Dakwah Islamiyah di Daerah Tajug Kudus (2016). Untuk menganalisis peran tersebut, peneliti menggunakan konsep dialektika perkembangan manusia dari Auguste Comte, yaitu tiga tahap perkembangan dialektika berfikir manusia, yaitu tahap teologis, metafisis dan positifis. Temuan penelitian adalah: (a) Kyai Telingsing berhasil merubah masyarakat Tajug dari masyarakat tunakarya menjadi masyarakat berkarya, (b) Kyai Telingsing berhasil melakukan dakwah islamiyah melalui pendidikan menyungging, (c) Kyai Telingsing berhasil melakukan pemberdayaan ekonomi masyarakat Tajug, dan (d) Kyai Telingsing berhasil membangun daerah Tajug yang semula daerah yang terisolir dan tidak maju menjadi daerah yang maju dan banyak dikunjungi para saudagar.
SEJARAH TAREKAT QODIRIYAH WAN NAQSABANDIYAH PIJI KUDUS Mu'min, Ma'mun
FIKRAH Vol 2, No 2 (2014): Fikrah
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.364 KB) | DOI: 10.21043/fikrah.v2i2.667

Abstract

PERGUMULAN TAREKAT DAN POLITIK (Peranan Kyai Haji Muhammad Shiddiq dalam Tarekat dan Politik di Kudus) Mu'min, Ma'mun
FIKRAH Vol 2, No 1 (2014): Fikrah
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.112 KB) | DOI: 10.21043/fikrah.v2i1.555

Abstract

SEJARAH PERKEMBANGAN PENDIDIKAN TASAWUF (Studi Atas Tariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah di Kudus Jawa Tengah) Mu'min, Ma'mun
QUALITY Vol 4, No 1 (2016): QUALITY
Publisher : Pascasarjana IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/quality.v4i1.2116

Abstract

This paper is a summary of the results of my thesis research at the Faculty of Humanities Postgraduate Program at Diponegoro University by 2013 and then it was developed, particularly on the data that is more up to date. The main purpose of writing this article is to examine the history of the Sufism education, with focus on the education development history of Thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah in Piji Kudus. This research used the historical method and phenomenological approach of Edmund Husserl to understand the meaning of education development history of the Thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah in Piji Kudus and the Sufism ideas of Kyai Haji Muhammad Siddiq as a Murshid of the Thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah in Piji Kudus. This research reveals the mysticism education and Sufism thought development of Kyai Siddiq in Piji Kudus. Some of the research results that can be described in this paper are: first, the education development of Thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji Kudus begins with the formation of a small mosque which was built in 1837 on the initiative of Mantri Sutowijoyo (1835-1870), in 1920 was developed into al-Aqsa Mosque as of now. Second, in 1956 Kyai Siddiq built an Islamic primary school, in 1970 built an Islamic Junior High School, in 1972 established an Islamic Boarding School of Manba'ul Falah, and in 2009 established a vocational education. Third, in 1972 Kyai Shiddiq established Thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji Kudus after doing a bai'at for Murshid of the Thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Rejoso Peterongan Jombang, Kyai Haji Tamim Romli. Fourth, the education institution that taught by Kyai Siddiq, namely tawheed education (monotheism), Sharia (Shari'ah), thariqat (congregations) and ma'rifat. Fifth, after the death of Kyai Siddiq (2011) Thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji Kudus led by Kyai Haji Abdul Latif Siddiq, Kyai Haji Affandi Siddiq, and Kyai Haji Siddiq Muchtar Amin.