Mu'min, Ma'mun
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PERAN KYAI TELINGSING DALAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT MUSLIM DI DAERAH TAJUG KUDUS Mu'min, Ma'mun
Community Development: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol 2, No 2 (2017): Community Development Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam (Article In Press)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/cdjpmi.v2i2.3306

Abstract

 Manusia secara individual dan social senantiasa mengalami perubahan secara dialektis, hal ini terjadi sebab manusia adalah mahluk yang memiliki harapan dan keinginan terus maju dan berhasil dalam mempertahankan kehidupannya. Walau demikian, tentu saja dalam perkembangannya manusia membutuhkan pembimbing yang memberikan arahan dan bimbingan sehingga dalam perkembangannya manusia tidak mengalami salah jalan. Peran seorang pembimbing di sini menjadi sangat penting dan dibutuhkan manusia dalam meraih harapan dan tujuan hidup. Dalam konteks ini, Kyai Telingsing salah seorang anggota pasukan dan rohaniawan serta saudagar yang ikut serta dalam ekspedisi yang pimpin Panglima Cheng Ho asal Tiongkok, dalam pengembaraannya ke Nusantara ia tidak kembali ke negara asalnya di Tiongkok, ia memilih menetap di daerah Tajug atau daerah Kudus. Di Tajug Kudus, selain berdagang dan berdakwah, Kyai Telingsing memiliki keahlian melukis dan mengukir atau menyungging, ia mengembangkan keahliannya tersebut sehingga banyak orang yang belajar mengukir di rumahnya. Dari hari ke hari semakin banyak orang belajar mengukir kepadanya dan kemudian bermukim di Tajug. Karena orang semakin banyak, tempat itu berkembang menjadi perkampungan dan terkenal ke daerah sekitar, seperti Demak, Jepara, dan Juwana sebagai tempat perguruan meyungging. Sebagai seorang muslim, Kyai Telingsing menjadikan keahliannya tersebut sebagai media dakwah untuk mengembangkan masyarakat muslim di daerah Tajug. Artikel ini merupakan simpulan hasil penelitian penulis berjudul Peran Kyai Telingsing dalam Dakwah Islamiyah di Daerah Tajug Kudus (2016). Untuk menganalisis peran tersebut, peneliti menggunakan konsep dialektika perkembangan manusia dari Auguste Comte, yaitu tiga tahap perkembangan dialektika berfikir manusia, yaitu tahap teologis, metafisis dan positifis. Temuan penelitian adalah: (a) Kyai Telingsing berhasil merubah masyarakat Tajug dari masyarakat tunakarya menjadi masyarakat berkarya, (b) Kyai Telingsing berhasil melakukan dakwah islamiyah melalui pendidikan menyungging, (c) Kyai Telingsing berhasil melakukan pemberdayaan ekonomi masyarakat Tajug, dan (d) Kyai Telingsing berhasil membangun daerah Tajug yang semula daerah yang terisolir dan tidak maju menjadi daerah yang maju dan banyak dikunjungi para saudagar.
SEJARAH TAREKAT QODIRIYAH WAN NAQSABANDIYAH PIJI KUDUS Mu'min, Ma'mun
FIKRAH Vol 2, No 2 (2014): Fikrah
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.364 KB) | DOI: 10.21043/fikrah.v2i2.667

Abstract

PERGUMULAN TAREKAT DAN POLITIK (Peranan Kyai Haji Muhammad Shiddiq dalam Tarekat dan Politik di Kudus) Mu'min, Ma'mun
FIKRAH Vol 2, No 1 (2014): Fikrah
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.112 KB) | DOI: 10.21043/fikrah.v2i1.555

Abstract

SEJARAH PERKEMBANGAN PENDIDIKAN TASAWUF (Studi Atas Tariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah di Kudus Jawa Tengah) Mu'min, Ma'mun
QUALITY Vol 4, No 1 (2016): QUALITY
Publisher : Pascasarjana IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/quality.v4i1.2116

Abstract

This paper is a summary of the results of my thesis research at the Faculty of Humanities Postgraduate Program at Diponegoro University by 2013 and then it was developed, particularly on the data that is more up to date. The main purpose of writing this article is to examine the history of the Sufism education, with focus on the education development history of Thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah in Piji Kudus. This research used the historical method and phenomenological approach of Edmund Husserl to understand the meaning of education development history of the Thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah in Piji Kudus and the Sufism ideas of Kyai Haji Muhammad Siddiq as a Murshid of the Thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah in Piji Kudus. This research reveals the mysticism education and Sufism thought development of Kyai Siddiq in Piji Kudus. Some of the research results that can be described in this paper are: first, the education development of Thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji Kudus begins with the formation of a small mosque which was built in 1837 on the initiative of Mantri Sutowijoyo (1835-1870), in 1920 was developed into al-Aqsa Mosque as of now. Second, in 1956 Kyai Siddiq built an Islamic primary school, in 1970 built an Islamic Junior High School, in 1972 established an Islamic Boarding School of Manba'ul Falah, and in 2009 established a vocational education. Third, in 1972 Kyai Shiddiq established Thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji Kudus after doing a bai'at for Murshid of the Thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Rejoso Peterongan Jombang, Kyai Haji Tamim Romli. Fourth, the education institution that taught by Kyai Siddiq, namely tawheed education (monotheism), Sharia (Shari'ah), thariqat (congregations) and ma'rifat. Fifth, after the death of Kyai Siddiq (2011) Thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji Kudus led by Kyai Haji Abdul Latif Siddiq, Kyai Haji Affandi Siddiq, and Kyai Haji Siddiq Muchtar Amin.
The Challenge of Islam Nusantara Against Terorism: Analysis Study of Islam Nusantara of Ulama NU Movement in Central Java Mu'min, Ma'mun; Mufid, Fathul
ADDIN Vol 12, No 1 (2018): Addin
Publisher : LPPM IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/addin.v12i1.4185

Abstract

The more widespread ideology in the era of global terrorism today has become a global concern, acts of terror committed national or transnational terrorists have been bad for the creation of a harmonious world order, pluralist and inclusive. Several countries collapse in the Middle East and Africa as well as the tense conditions in Poso has been the evidence of how acts of terror committed the terrorists do not recognize tribes, nations and religions. If this trend continues, then the life of mankind and civilization of the world will be damaged. Long before understanding terrorism rampant in Indonesia and the world, the scholars Walisongo through propaganda Islamiyah has offered the concept of Islam Nusantara, the moderate Islam that can adapt to the cultural heritage at the time. Islam Nusantara or moderate Islam is essentially Islam that gave mercy to all the worlds. These efforts Walisongo scholars ulama NU followed by the next generation until now. Rampant ideology of terrorism today is of course a challenge for the NU clerics spearheading the development of Islam in the Indonesian archipelago. This research will find: formulation of basic normatively and historicity and the philosophical concept of Islam Nusantara, formulated the concept of Islam Nusantara in the perspective of scholars Walisongo and ulama NU in Central Java, the dynamics of socio-political development of Islam Nusantara in Central Java from time to time, the public response in Central Java to the development of Islam Nusantara, and the contribution of Islam Nusantara in a moderate Islam that can create harmony, pluralist and inclusive in order peaceful world civilization.
Model Pemikiran Tafsir Al-Kasysyaf Karya Imam Az-Zamakhsyari Mu'min, Ma'mun
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 2 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v11i2.5528

Abstract

Al-Qur’an sebagai kitab mu’jizat tentu membutuhkan respons dari para mufasir untuk memaksimalkan fungsinya sebagai rahmat bagi sekalian alam, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, dan penuntun jalan ke surga atau keselamatan. Tanpa pemikiran tafsir tentu saja fungsi ini menjadi sulit dipenuhi karena begitu pelik dan tingginya balaghah bahasa yang dipakai dalam al-Qur’an. Hal ini wajar karena al-Qur’an adalah kitab wahyu yang menggunakan bahasa Tuhan, kemudian didekatkan dengan bahasa manusia, yaitu bahasa Arab.Karena begitu tinggi aspek kebahasaan yang dikandung al-Qur’an, dan disertai maksud serta pesan terselubung dari penulis tafsir, pemikiran tafsir dalam perkembangannya telah mengalami dinamika yang demikian tajam. Tidak sedikit antara satu mufasir dengan mufasir lainnya, bukan hanya berbeda pendapat namun terkadang saling menyerang. Salah satu tafsir yang banyak menyerang kalangan sunni adalah Tafsir al-Kasysyaf karya Imam az-Zamakhsyari yang menjadi objek kajian penulis.Kali ini penulis berusaha menyuguhkan model pemikiran tafsir Imam az-Zamakhsyari dalam Tafsir al-Kasysyaf, karena tafsir ini berpengaruh besar dalam belantara pemikiran tafsir di dunia Islam. Pengaruh yang diberikan tafsir ini tidak hanya di kalangan mu’tazilah saja, namun juga berpengaruh di kalangan suni yang selama ini sering menolak teologi mu’tazilah yang dianut Imam az-Zamakhsyari.
REVITALISASI ETIKA BISNIS DALAM MEMBANGUN SISTEM PEREKONOMIAN YANG BERADAB Mu'min, Ma'mun
BISNIS Vol 3, No 1 (2015): BISNIS: Jurnal Bisnis dan Manajemen Islam
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/bisnis.v3i1.1467

Abstract

The  revitalization  of  business  ethics  in  the  global  economic  system  today urged   to   be   done   given   the   global   economic   competition   tend   to justifies  any  with  regard  not  business  ethics.  Business  Ethics  so  very important  done  especially  in  arranging  business  relationship  with  the parties  that  are  related  with  good  nature,  environment,  companies and  individuals.  Do  business  with  regard  not  the  ethics  of  course  willresult  in  injustice,  evil  and  destruction,  or  at  least  no  parties  who  are disadvantaged  because  of  the  fraudulent  behavior.  The  revitalizationof  business  ethics  in  order  to  build  the  economy  that  civilized  so urgent   and   urgent.   Among   the   business   ethics   that   must   be   were revitalized,    namely    values    of    honesty,    trust    responsible,    moral courage, fairness, realistic and critical, humble respect for  stakeholders.