Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Plantain (Musa X paradisiaca AAB) and Activated Charcoal Powder towards Ice Cream Quality Nurul Hidayah, Dina Mazida; Hariyani, Nunuk; Djauhari, Arlin Besari
Food Science and Technology Journal (Foodscitech) Vol. 3 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Dr Soetomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.991 KB) | DOI: 10.25139/fst.v0i0.2513

Abstract

Ice cream is a frozen snack made from ingredients such as milk, cream, sugar, and stabilisers that being frozen and mixed with other ingredients to create a variety of ice cream flavours, such as banana ice cream. Plantain (Musa paradisiaca) contains high nutritions such as vitamin A, B6, C, other minerals, and carbohydrates. The addition of plantain and Activated Charcoal Powder (ACP) into the ice cream can increase its nutrition value. This because of bananas as a carbohydrate source and the ACP, made from coconut shell charcoal and create a distinct ice cream colour, as a toxin absorber and immune system enhancer. This research will utilise the Completely Randomised Design (CRD) using two factors. Factor 1 is the plantain substitutions, which are 10%, 15%, and 20%. Factor 2 is the ACP concentrations, which are 0.1%, 0.2%, and 0.3%. Each combination of treatments is conducted through three-time repetitions. Research observation uses proximate analysis and organoleptic test. Parametric data in the analysis, which based on the parametric statistic by utilising Analysis of Variance (ANOVA) shows that the difference between plantain substitution and ACP concentration intangibly influences the protein and fat content. The different plantain substitution and its interaction between the different ACP concentration intangibly influence the sugar content and overrun. The different concentration of ACP intangibly influences the sugar count and tangibly influences the banana ice cream's overrun. Parametric data test results later become the base of effectivity test to obtain the best treatment. The best treatment of this research is obtained from the combination of 20% plantain and 0.3% ACP concentration, with the highest score of 0.84 with the research variable criteria of protein content (3.7%), fat content (2.4%), sugar content (41.3%), and overrun (81.37%).
Olahan Daging Ikan Kekinian Guna Peningkatan gizi Remaja Khususnya Pelajar SMK Universitas Dr. Soetomo Surabaya Hariyani, Nunuk; Djauhari, Arlin Besari; Handarini, Kejora; Sucahyo, Bambang Sigit
Jurnal Karya Abdi Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2022): Jurnal Karya Abdi Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.613 KB) | DOI: 10.22437/jkam.v6i1.19373

Abstract

Siswa SMK Universitas Dr. Soetomo merupakan siswa yang dituntut mumpuni dalam berkreasi dan menghasilkan produk pangan kekinian yang bisa bersaing, namun demikian para siswa SMK tersebut masih memiliki kekurangan dalam menciptakan produk pangan sesuai trend saat ini. Program Studi Teknologi Pangan Universitas Dr. Soetomo, melalui kegiatan pengabdian masyarakat memberikan solusi bagi permasalahan ini. Adapun Tujuan dari kegiatan ini adalah : 1) Memberikan penyuluhan kepada para siswa tentang pengolahan hasil hewani secara umum sehingga para siswa mendapatkan tambahan pengetahuan tentang hasil – hasil hewani yang dapat diolah menjadi bahan pangan dengan tren produk olahan kekinian yang dapat diterima oleh konsumen 2) Memberikan pelatihan keterampilan pembuatan produk hasil hewani yaitu kentang tuna yang tergolong pada makanan hewani kekinian. Metode pelaksanaan terdiri atas 3 tahap. Tahap pertama diawali dengan survei untuk melakukan studi kelayakan peserta yang akan dilibatkan dalam kegiatan Pengabdian pada masyarakat. Tahap kedua dan ketiga merupakan tahap penyuluhan dan pelatihan yang merupakan kegiatan inti yang terdiri atas kegiatan penyampaian teori dan praktik. Tahapan praktik ini merupakan tahap pendampingan siswa yaitu pendampingan siswa dalam melakukan praktik mulai persiapan bahan sampai selesainya pengolahan dan menghasilkan produk akhir sesuai dengan materi pelatihan serta penilaian organoleptik yang dilakukan oleh semua peserta pelatihan dan Tim Pengabdian terhadap produk yang dihasilkan oleh para siswa. Penilaian organoleptik ini meliputi rasa, aroma dan tekstur.
PENGARUH SUHU DAN LAMA PENGERINGAN TERHADAP KADAR POLIFENOL, TANIN, AIR DAN ORGANOLEPTIK TEH DAUN KAYU JAWA (Lannea coromandelica) Yuliani, Novia Dwi; Djauhari, Arlin Besari; Hariyani, Nunuk; Handarini, Kejora
Pro-STek Vol 5, No 2 (2023): December
Publisher : Fakultas Sains Terapan Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/prs.v5i2.3620

Abstract

Masyarakat Indonesia sangat menyukai teh, pada era yang semakin berkembang ini terdapat berbagai olahan teh herbal. Beragam tanaman yang dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan teh, salah satunya yaitu daun kayu jawa. Ekstrak daun kayu jawa telah dilakukan uji toksisitas dengan nilai LD50 lebih besar dari 5.000 mg/kg BB, sehingga dikategorikan sebagai ekstrak praktis tidak beracun. Toksisitas ekstrak daun kayu jawa menunjukkan bahwa daun kayu jawa aman untuk dikonsumsi, tetapi harus diperhatikan jumlahnya. Teh daun kayu jawa dibuat melalui proses sortasi, pencucian, penirisan, pelayuan, fermentasi, pengeringan, penghalusan, pengayakan dan pengemasan. Pengeringan dalam pembuatan teh daun kayu jawa dilakukan menggunakan food dehydrator. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan suhu, lama dan interaksi antara kedeua faktor tersebut yang tepat guna memberikan kadar polifenol, tanin, air dan nilai organoleptik teh daun kayu jawa yang baik. Selain itu juga untuk mengetahui perlakuan terbaik terkait suhu dan lama pengeringan dalam proses pembuatan teh daun kayu jawa. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen laboratoris. Variabel penelitian meliputi suhu pengeringan 40°C, 50°C dan 60°C dan lama pengeringan 4 jam dan 6 jam. Data yang diperoleh dianalisa berdasarkan statistik parametrik dan non parametrik menggunakan Analisis Sidik Ragam (ANSIRA) dengan SPSS 22. Analisa kimia yang diuji adalah kadar polifenol, tanin dan air. Uji organoleptik dilakukan dengan uji kesukaan/hedonik yang meliputi warna, rasa dan aroma. Perlakuan S2L1 yaitu suhu pengeringan 50°C : lama pengeringan 4 jam merupakan perlakuan terbaik dengan Nilai Hasil (NH) 0,55 dengan parameter kadar polifenol 12,08mg GAE/g, kadar tanin 0,12%, kadar air 6,70% warna 5,16 (suka), rasa 4,37 (suka), aroma 4,99 (suka).Kata kunci: Teh daun kayu jawa; pengeringan; suhu; lama 
UPAYA PENINGKATAN DAYA TAHAN TUBUH MELALUI PEMBELAJARAN OLAHAN MINUMAN FUNGSIONAL TEH DAUN KELOR PADA SISWA SMA Djauhari, Arlin Besari; Aida, Gilang Rusrita; Illahi, Rhochmad Wahyu; Budiyanto, Didik; Kartikasari, Dwirini; Saraswati, Exist
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2024): Volume 5 No 1 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i1.23960

Abstract

Upaya untuk menjaga ketahanan tubuh dari seranga berbagai macam penyakit, diperlukan asupan makanan dan minuman yang kaya akan nutrisi salah satunya makanan atau minuman yang mengandung antioksidan. Banyak bahan-bahan alami yang mengandung antioksidan salah satunya daun kelor yang saat ini banyak dikenal memang banyak diolah dalam bentuk makanan. Padahal daun kelor bisa diolah menjadi minuman fungsional yang bisa memberikan asupan gizi dan pemuasan sensori untuk menjaga ketahanan tubuh. Pengetahuan tentang minuman fungsional tentunya diperlukan sedini mungkin, salah satunya melalui kegiatan pengabdian melalui pembelajaran olahan minuman fungsional teh daun kelor kepada siswa/i SMA. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah metode ceramah berupa pemberian materi dan praktek pembuatan teh daun kelor yang dilaksanakan pada 10 dan 15 Mei 2023. Peserta kegiatan ini adalah siswa/i SMA Al Islam, Krian, Sidoarjo. Pelaksanaan kegiatan pengabdian berjalan dengan lancar dan siswa/i sangat antusias mengikuti kegiatan pengabdian ini karena siswa/i diajak langsung praktek membuat teh daun kelor. Produk olahan hasil praktek siswa/i SMA ini menjadi salah satu produk yang dipasarkan pada pekan kewirausahaan SMA Al Islam. Hasil evaluasi kegiatan menunjukkan bahwa peserta kegiatan pengabdian ini sangat puas dengan pelaksanaan kegiatan ini dan antusias jika kegiatan serupa dilaksanakan kembali.
Making Basic Spices That Are Durable In Add To The Pocket Money Of Unitomo Vocational School Students Djauhari, Arlin Besari
KARYA ABDI Vol 3 No 2 (2022): Article
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/karyaabdi.v3i2.2370

Abstract

Red chili is a vegetable product that has a spicy taste and is seasonal. Meanwhile, people who like to consume spicy food always need chili as a mixture in cooking. During the chili season the price of red chili is very cheap, and when it is not the chili season the price is very expensive. This situation is an opportunity for Unitomo Vocational High School students to add pocket money at school. Faculty of Agriculture University Dr. Soetomo through the Community Service program provides a solution to this problem. This Community Service Program aims to: 1. Provide counseling to Unitomo Vocational High School students about the process of making basic seasonings made from long-lasting red chilies; 2. Provide business skills training to make basic spices, so that the profits can be used as additional pocket money at school. The implementation method consists of 4 stages, namely a. the observation stage conducts a feasibility study of participants who will be involved in community service; b. counseling stage; and c. the training stage which is the core of the activity in the form of delivery of theory and practice; d. assisting students in carrying out activities starting with the preparation of materials and tools, the process of making basic spices, evaluating product preferences, selling products, to making a profit. The process of making basic seasonings is chili being processed into basic seasoning ingredients consisting of red chilies, shallots and garlic. which has a shelf life of up to 6 months. These basic spices are semi-finished ingredients, meaning that these basic spices can then be used to prepare a number of other dishes, including shrimp fried rice, fried tempeh/dried tofu sauce, egg bali, eggplant balado, lodeh bamboo shoots, and others. The way to make the basic seasoning is 1 kg of red chilies, 400 g of shallots and 400 g of garlic. All ingredients are crushed and then sautéed with a little oil until coarse, then dried, then floured until it becomes powder and then packaged in airtight plastic, and stored in a dry place. This dried basic seasoning is ready to be used at any time, even when it's not chili season where the price of chili is very expensive, we can still taste spicy food. In addition, the profits from the basic seasoning business can be used to increase pocket money or school needs