Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

TEKNIK KONVENSIONAL PENGGUNAAN TUMBUHAN OBAT DI KAWASAN ESTUARIA TAKISUNG Lestari, Ema
Jurnal Humaniora Teknologi Vol. 2 No. 1 (2016)
Publisher : P3M Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34128/jht.v2i1.9

Abstract

Tumbuhan obat adalah tumbuhan yang memiliki khasiat obat dan digunakansebagai obat dalam penyembuhan maupun pencegahan penyakit. Di daerahTakisung terdapat kawasan estuaria.Dikawasan tersebut ditumbuhi pepohonan,tumbuhan herba dan semak yang berpotensi sebagai tanaman obat.Masyarakatdaerah setempat menggunakan tumbuhan obat sebagai alternatif dalampengobatan, karena banyak ditemukan tumbuhan obat di sekitarmereka.Penelitian ini bertujuan untukmendapatkan informasi tentangbagaimana teknik penggunaan tumbuhan obat dikawasan estuaria Takisungoleh masyarakat di daerah tersebut.Metode yang digunakan dalam penelitianini adalah metode diskriptif, dengan terjun secara langsung ke lapangan padakawasan kiri dan kanan bantaran estuaria Pantai Takisung KecamatanTakisung Kabupaten Tanah Laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwatumbuhan berkhasiat obat yang ditemukan di kawasan estuaria Takisung yangdiketahui dan digunakan oleh masyarakat setempat terdapat 15 jenistumbuhan.Teknik konvensional penggunaan tumbuhan obat masyarakat dikawasan estuaria meliputi:1bahan di cuci bersih kemudian di rebus bersamaan,setelah dingin air rebusan tersebut disaring kemudian diminum,2bahan dicucibersih terlebih dahulu kemudian ditumbuk, setelah itu dioleskan, 3bahandipanggang diatas api kemudian diusapkan, 4bahan diparut kemudian diperas,air yang dihasilkan diminum, 5bahan direbus kemudian dicucikan, 6bahandirendam dalam air terus dan diminum, 7bahan direbus dan dimakan, 8bahancairan yang pada bagian tumbuhan kemudian diteteskan, 9bahandirebus danair rebusan diminum, 10bahan dilumatkan hingga halus dan di oleskan, 11bahandibersihkan lalu ditumbuk sampai halus, lalu dicampurkan dengan bahan lainlalu dioleskan, 12bahan dikeringkan kemudian direbus, lalu air rebusannyadiminum, 13bahan ditumbuk kemudian dicampurkan dengan bahan lainkemudian diusapkan, 14bahan diremas-remas dan di usapkan.Kata Kunci: Tumbuhan Obat, Kawasan Estuaria, Teknik Konvensional
Evaluation of the Characteristics of Transparent Solid Soap Fortified with Jeringau Rhizome Extract (Acorus calamus L) Hairiyah, Nina; Nuryati, Nuryati; Fatimah, Fatimah; Meldayanoor, Meldayanoor; Amalia, Raden Rizki; Lestari, Ema; Linangsari, Titis; Salmah, Siti
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol. 12 No. 1 (2025): Jurnal Teknologi Agro-Industri
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34128/jtai.v12i1.230

Abstract

Transparent solid soap is a widely used cleansing product, yet formulation improvements are needed to enhance antibacterial activity while maintaining skin safety. This study aimed to investigate the effect of adding sweet flag rhizome extract (Acorus calamus L.) on the physicochemical properties, foam stability, pH, and antibacterial activity of transparent solid soap. Four soap formulations were prepared with varying extract concentrations: F0 (control, without extract), F1 (0.1 g), F2 (0.3 g), and F3 (0.5 g). The evaluated parameters included moisture content, total fatty acid content, free alkali, free fatty acids, foam stability, pH, skin irritation, and bacterial inhibition zone diameter. Data were statistically analyzed using one-way ANOVA and Duncan's Multiple Range Test (DMRT) at a 95% confidence level. The results showed that the addition of sweet flag extract significantly (p < 0.01) affected all tested parameters. The F3 formulation exhibited the highest antibacterial activity with an inhibition zone diameter of 15.5 mm but exceeded the SNI (Indonesian National Standard) limits for moisture content and pH, indicating a potential risk of skin irritation. However, skin irritation tests revealed that formulations containing the extract did not cause noticeable irritation in most panelists. It can be concluded that sweet flag rhizome extract has potential as an antibacterial agent in transparent solid soap formulations, although further optimization is required to reduce pH and free alkali levels to ensure product safety.
TEKNIK KONVENSIONAL PENGGUNAAN TUMBUHAN OBAT DI KAWASAN ESTUARIA TAKISUNG Lestari, Ema
Jurnal Humaniora Teknologi Vol. 2 No. 1 (2016)
Publisher : P3M Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34128/jht.v2i1.9

Abstract

Tumbuhan obat adalah tumbuhan yang memiliki khasiat obat dan digunakansebagai obat dalam penyembuhan maupun pencegahan penyakit. Di daerahTakisung terdapat kawasan estuaria.Dikawasan tersebut ditumbuhi pepohonan,tumbuhan herba dan semak yang berpotensi sebagai tanaman obat.Masyarakatdaerah setempat menggunakan tumbuhan obat sebagai alternatif dalampengobatan, karena banyak ditemukan tumbuhan obat di sekitarmereka.Penelitian ini bertujuan untukmendapatkan informasi tentangbagaimana teknik penggunaan tumbuhan obat dikawasan estuaria Takisungoleh masyarakat di daerah tersebut.Metode yang digunakan dalam penelitianini adalah metode diskriptif, dengan terjun secara langsung ke lapangan padakawasan kiri dan kanan bantaran estuaria Pantai Takisung KecamatanTakisung Kabupaten Tanah Laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwatumbuhan berkhasiat obat yang ditemukan di kawasan estuaria Takisung yangdiketahui dan digunakan oleh masyarakat setempat terdapat 15 jenistumbuhan.Teknik konvensional penggunaan tumbuhan obat masyarakat dikawasan estuaria meliputi:1bahan di cuci bersih kemudian di rebus bersamaan,setelah dingin air rebusan tersebut disaring kemudian diminum,2bahan dicucibersih terlebih dahulu kemudian ditumbuk, setelah itu dioleskan, 3bahandipanggang diatas api kemudian diusapkan, 4bahan diparut kemudian diperas,air yang dihasilkan diminum, 5bahan direbus kemudian dicucikan, 6bahandirendam dalam air terus dan diminum, 7bahan direbus dan dimakan, 8bahancairan yang pada bagian tumbuhan kemudian diteteskan, 9bahandirebus danair rebusan diminum, 10bahan dilumatkan hingga halus dan di oleskan, 11bahandibersihkan lalu ditumbuk sampai halus, lalu dicampurkan dengan bahan lainlalu dioleskan, 12bahan dikeringkan kemudian direbus, lalu air rebusannyadiminum, 13bahan ditumbuk kemudian dicampurkan dengan bahan lainkemudian diusapkan, 14bahan diremas-remas dan di usapkan.Kata Kunci: Tumbuhan Obat, Kawasan Estuaria, Teknik Konvensional
DISRUPTIVE INNOVATION: EKSISTENSI BAJAJ ONLINE DI TENGAH MARAKNYA TRANSPORTASI ONLINE LAINNYA DI KOTA MAKASSAR Lestari, Ema; Hasni, Hasni; Falihin, Dalilul
Phinisi Integration Review Volume 8 Nomor 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pir.v8i2.73374

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui: 1) Gambaran eksistensi bajaj online sebagai bentuk disruptive innovation (inovasi disruptif) dalam menghadapi maraknya moda transportasi online lainnya di Kota Makassar, 2) Hambatan yang dihadapi para sopir bajaj online sebagai bentuk disruptive innovation (inovasi disruptif) dalam mempertahankan eksistensinya di tengah maraknya moda transportasi online lainnya di Kota Makassar, dan 3) Strategi adaptasi yang diterapkan oleh para sopir bajaj online sebagai bentuk disruptive innovation (inovasi disruptif) dalam menghadapi persaingan dengan moda transportasi online lainnya di Kota Makassar. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kemudian dianalisis dengan 4 tahapan yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Hasil penelitian menunjukkan bahwa bajaj online berhasil mempertahankan eksistensinya melalui keunggulan harga yang terjangkau, fleksibilitas rute, dan adaptasi teknologi sederhana berbasis aplikasi Maxride. Meskipun demikian, para sopir bajaj online menghadapi hambatan seperti persaingan ketat dengan layanan transportasi online lain, kendala teknologi, serta kurangnya dukungan kebijakan pemerintah. Untuk mengatasi tantangan tersebut, sopir bajaj online menerapkan strategi adaptasi yang meliputi peningkatan kualitas layanan, penghematan biaya operasional, dan pembentukan jaringan komunitas.This research aims to examine: 1) The existence of online bajaj as a form of disruptive innovation in facing the proliferation of other online transportation modes in Makassar City, 2) The obstacles faced by online bajaj drivers as a form of disruptive innovation to sustain their presence amid the rise of other online transportation modes in Makassar City, and 3) The adaptation strategies implemented by online bajaj drivers as a form of disruptive innovation to compete with other online transportation modes in Makassar City. The type of research used in this study is qualitative with a phenomenological approach. Data collection techniques include observation, interviews, and documentation. The data were then analyzed through four stages: data collection, data reduction, data presentation, and conclusions drawing. The results show that online bajaj has succeeded in maintaining its existence through advantages such as affordable prices, flexible routes, and simple technological adaptation via the Maxride application. However, online bajaj drivers face obstacles such as intense competition with other online transportation services, technological constraints, and lack of government policy support. To overcome these challenges, online bajaj drivers implement adaptation strategies including improving service quality, minimizing operational costs, and building community networks.
PENGARUH KONSENTRASI SARI BAYAM HIJAU (Amarathus tricolor L.) TERHADAP KARAKTERISTIK SENSORIK DAN FISIK PERMEN JELLY Rizki Amalia, Raden; Lestari, Ema; Nur Kasih, Avicenna; Nurhalisa
Jurnal Humaniora Teknologi Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Humaniora Teknologi
Publisher : P3M Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34128/jht.v11i2.194

Abstract

Permen jelly merupakan salah satu produk pangan yang digemari masyarakat khususnya anak-anak karena teksturnya yang kenyal serta variasi bentuk dan rasa. Penelitian ini, sari bayam hijau (Amaranthus tricolor L.) digunakan sebagai bahan utama dalam pembuatan permen jelly. Salah satu sayuran yang mengandung nutrisi, air, protein, lemak, serat, karbohidrat, serta mineral seperti zat besi, kalsium, fosfor, magnesium, seng, dan kalium ialah bayam hijau (Amaranthus tricolor L.). Selain itu bayam hijau juga mengandung berbagai vitamin diantaranya vitamin A, vitamin C, vitamin E, dan kelompok vitamin B. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan formulasi permen jelly berbasis sari bayam hijau yang optimal. Formulasi dilakukan dengan tiga variasi konsentrasi sari bayam hijau, yaitu 40 g (F1), 50 g (F2), dan 60 g (F3), masing-masing diulang tiga kali. Parameter yang diuji meliputi kadar air, kadar abu, pH, serta uji hedonik terhadap warna, aroma, rasa, dan tekstur menggunakan 30 panelis semi-terlatih. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan F2 (50 g sari bayam) merupakan formulasi terbaik dengan nilai rata-rata uji hedonik tertinggi pada atribut warna (6,0), aroma (6,0), rasa (7,0), dan tekstur (7,0). Secara fisikokimia, F2 memiliki kadar air sebesar 10,30%, kadar abu 1,96%, dan pH 5,0, yang semuanya masih berada dalam rentang standar mutu SNI 3547-2-2008 untuk kembang gula lunak. Penelitian ini menunjukkan bahwa sari bayam hijau (Amaranthus tricolor L.) berpotensi sebagai bahan baku fungsional dalam pengembangan produk permen jelly yang bergizi dan disukai konsumen.
KARAKTERISTIK SAMPO BERBASIS EKSTRAK KULIT PISANG KEPOK (Musa acuminata) Lestari, Ema; Hairiyah, Nina; Agustin, Nisa
Jurnal Agroindustri Vol. 15 No. 1 (2025): May 2025
Publisher : BPFP Faperta UNIB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jagroindustri.15.1.83-96

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi ekstrak kulit pisang kepok (Musa acuminata) sebagai bahan aktif dalam formulasi sampo serta menentukan formula terbaik berdasarkan karakteristik fisikokimia dan preferensi konsumen. Empat formula sampo yaitu (F0–F3) dengan variasi konsentrasi ekstrak (0%–6%) diuji secara fisik (homogenitas, viskositas, pH, kadar air, dan tinggi busa) dan sensori melalui uji hedonik oleh 20 panelis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula memenuhi standar mutu sampo berdasarkan SNI 06-2642-1992. Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa penambahan ekstrak berpengaruh signifikan terhadap parameter warna, aroma, dan tekstur (p < 0,05), dengan formulasi F1 paling disukai secara organoleptik. Selanjutnya, dilakukan analisis menggunakan metode Bayes untuk menentukan formulasi optimal berdasarkan pembobotan seluruh parameter. Hasil analisis menunjukkan bahwa formulasi F3 (penambahan 6% ekstrak kulit pisang kepok) merupakan formula terbaik secara keseluruhan, karena memberikan performa tertinggi pada sebagian besar parameter kualitas. Temuan ini mendukung pemanfaatan limbah kulit pisang sebagai bahan aktif alternatif dalam produk kosmetik ramah lingkungan.
POTENSI PATI TEMULAWAK SEBAGAI BAHAN PANGAN PENGGANTI TEPUNG TERIGU PADA KUE BOLU Lestari, Ema; Fatimah, Fatimah; Sandri, Dwi; Yuniarti, Retno
Jurnal Ilmu Pangan dan Hasil Pertanian Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jiphp.v3i1.3610

Abstract

Temulawak is one of tubers plant which grows in tropical forest areas and has good benefits for health. Temulawak also contained large enough starch, making has great potential as an additive in alternative products for processed food ingredients. Processing of temulawak starch flour is done to reduce the import of wheat flour to Indonesia. The purpose of this study are get starch of temulawak from tuber of temulawak plant, substituting wheat flour with temulawak starch flour for making sponge cake and knowing the panelist's favorite level of sponge cake made from temulawak starch flour. Sponge cake created with 3 treatments, 100% wheat flour as control, 50% temulawak starch with 50% wheat flour and 100% temulawak starch, then execute organoleptic test. Preparation of temulawak starch flour produces yellowish white flour. The organoleptic test showed that sponge cake with substitution of temulawak starch was 50% and 100% preferred over sponge cake without starch flour of temulawak. Based on this research, it was found that temulawak starch flour potency as commodity source of food substitute of wheat flour in making sponge cake because it can substitute wheat flour to 100%.
Formulasi pembuatan sirup herbal bunga telang (Clitoria ternatea) dengan penambahan jahe (Zingiber officinale) Fatimah, Fatimah; Rahmad, Thomi; Lestari, Ema; Linangsari, Titis
Journal of Tropical AgriFood Volume 8 Nomor 1 Tahun 2026
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35941/jtaf.8.1.2026.21997.29-37

Abstract

Penelitian ini bertujuan menentukan formulasi optimal sirup herbal berbahan bunga telang dengan penambahan jahe serta mengevaluasi karakteristik fisikokimia dan organoleptiknya. Penelitian ini adalah penelitian faktor tunggal (penambahan jahe, 0-30 g untuk setiap bunga telang sebanyak 5 g) yang dirancang dalam Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan. Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Data yang diperoleh dianalisis dengan ANOVA dilanjutkan dengan DMRT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan jahe berpengaruh signifikan terhadap respons organoleptik untuk rasa dan aroma sirup herbal bunga telang, tetapi tidak untuk warna. Sirup dengan penambahan jahe 20 g mendapatkan respons organoleptik hedonik tertinggi untuk parameter rasa 7,20 dan aroma 7,30. Respons organoleptik mutu hedonik menunjukan bahwa penambahan jahe meningkatkan kualitas rasa dan aroma sirup, dengan nilai tertinggi pada penambahan 30 g jahe yang memberikan skor untuk rasa 4,23 dan aroma 4,07. Nilai pH berkisar antara 5,56 hingga 5,83 untuk sirop tanpa penambahan jahe sampai dengan penambahan jahe 30 g, dengan perbedaan signifikan. Nilai pH yang diperoleh sesuai dengan rekomendasi bahwa sirup yang baik, memiliki pH antara 4-7. Melalui uji kualitatif, semua sampel diketahui mengandung senyawa flavonoid dan senyawa fenolik. Selain itu, semua formulasi menunjukkan homogenitas yang baik.
Analysis of Oil Losses on Empty Bunch Press Using The Statistical Process Control (SPC) Method at PT. XYZ Puteri, Azelia; Lestari, Ema; Linangsari, Titis; Fatimah; Darma Jaya, Jaka; Nuryati, Nuryati
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol. 12 No. 2 (2025): Jurnal Teknologi Agro-Industri
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34128/jtai.v12i2.244

Abstract

PT. XYZ is a palm oil processing enterprise.  The products produced are crude palm oil (CPO) and palm kernel oil (PKO).  The level of oil loss in PT. XYZ Empty Bunch Press should not exceed 0.90%, but there has been a significant increase in the last three months, exceeding the company's guidelines.  This disease may have an impact on CPO production output.  As a result, this study was done to investigate oil loss in empty bunch presses.  The method employed is Statistical Process Control (SPC), which employs three tools: a checksheet, histogram for data distribution, and fishbone diagram to aid in understanding and fixing the problems encountered.  The largest oil loss is 1.56%, which surpasses the Company's requirement of 0.9%. In order to achieve the required standards, suggestions for improvement must be made using a fishbone diagram that incorporates human, machine, method, and raw material aspects.