Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Jurnal InterAct

ETHICAL DISCOURSE OF DOXING IN INDONESIAN TWITTER USERS Novianty, Suci Marini; Wijayanti, Sri; Muamar, Jihad
Jurnal InterAct Vol. 12 No. 1 (2023): Jurnal InterAct
Publisher : School of Communication - Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/interact.v12i1.4134

Abstract

Indonesia sebagai negara mayoritas kelima pengguna Twitter di dunia, menjadikan platform ini sebagai dunia maya populer untuk mencari informasi dan kumpulan opini dengan tujuan memenuhi keinginan rasa ingin tahu, pengetahuan, kebencian, suka, atau topik apapun yang dianggap menarik untuk dibicarakan. Tidak jarang diskusi semacam itu mengarah pada perdebatan penting atau sepele yang membuat seseorang mengungkapkan informasi kredensial lawan mereka. Tindakan mengungkapkan informasi kredensial tentang lawan mereka disebut 'doxing'. Namun demikian, fenomena doxing adalah paradoks, karena beberapa orang mungkin mengatakan doxing dapat terjadi dengan niat jahat, sementara yang lain menganggap doxing sebagai perbuatan baik mengungkapkan aktor kasus kriminal atau tidak bermoral. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk membahas "apa wacana etis untuk aktivitas doxing di kalangan pengguna Twitter Indonesia?". Kasus doxing yang menjadi subjek kajian tulisan ini adalah kasus viral Natalie, Rizky Billar, Gilang 'Bungkus', akun whistle blower anonim, dan dugaan penipuan. Metode dalam tulisan ini adalah kajian wacana kritis, dengan menggunakan teknik pengumpulan data dokumentasi. Hasilnya, tulisan ini menemukan bahwa doxing adalah wacana terbuka yang memiliki kemungkinan untuk diperluas sesuai dengan pluralitas masyarakat, dinamika pemerintah, dan pembatasan kebebasan berbicara di bidang frekuensi publik. 'Doxing Netral' adalah terminologi baru yang diusulkan makalah ini yang percaya bahwa kecukupan doxing terletak pada tujuannya. Kesimpulannya, dalam hak apa pun ada batasan etis untuk mengetahui apakah ada lebih banyak manfaat dalam melakukannya. Ketika, orang memiliki hak untuk mengakui informasi mengenai kesejahteraan mereka maka doxing dapat diterima, juga berlaku sebaliknya. Selain itu, kami percaya bahwa itu berkompromi dengan tujuan doxing.
Strategic Health Service Communication to Strengthen Competitive Advantages in BPJS Partner Clinics Novianty, Suci Marini; Ningsih, Diana Hestya; Butarbutar, Benny Siga
Jurnal InterAct Vol. 14 No. 1 (2025): Jurnal InterAct
Publisher : School of Communication - Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/interact.v14i1.6515

Abstract

Penelitian ini mengkaji komunikasi layanan kesehatan sebagai alat strategis untuk memperkuat keunggulan kompetitif klinik mitra BPJS di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Penelitian berfokus pada komunikasi yang bertujuan mengubah perilaku kesehatan masyarakat. Penelitian ini secara khusus meneliti praktik komunikasi dalam layanan klinis, termasuk komunikasi antarindividu, organisasi, dan digital yang membentuk pengalaman pasien, serta mempengaruhi daya saing klinik. Metode penelitian menggunakan campuran secara kuantitatif dan kualitatif, dengan data dikumpulkan melalui survei kepada 200 klinik mitra BPJS, wawancara dengan pemimpin bidang komunikasi BPJS, dan umpan balik pasien. Temuan menunjukkan bahwa komunikasi layanan kesehatan yang efektif, ditandai dengan kejelasan, empati, responsif, dan penyampaian di berbagai platform media dapat secara langsung meningkatkan indikator keunggulan kompetitif: kepercayaan, kepuasan, dan loyalitas pasien. Namun, perlu juga melakukan integrasi interaksi tradisional antara penyedia layanan dan pasien dengan platform digital, terutama aplikasi seluler JKN, karena secara signifikan dapat meningkatkan aksesibilitas layanan, penanganan keluhan, konsultasi jarak jauh, dan kelangsungan untuk perawatan. Klinik dengan sistem komunikasi yang kuat menunjukkan tingkat kepuasan pasien yang tinggi, efisiensi operasional, dan kepatuhan terhadap standar regulasi BPJS. Studi ini juga mengidentifikasi beberapa faktor yang mempengaruhi pencapaian komunikasi layanan kesehatan yang efektif, termasuk kompetensi komunikasi staf, kesiapan digital, kualitas infrastruktur, dan karakteristik demografis pasien. Indikator pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini meliputi kualitas komunikasi yang dirasakan, ketahanan pasien, skor loyalitas, dan posisi kompetitif klinik. Meskipun manfaatnya telah terbukti, tantangan tetap ada, seperti literasi digital yang terbatas di kalangan pasien lanjut usia dan gangguan teknis secara periodik. Secara keseluruhan, studi ini menyimpulkan bahwa memprioritaskan komunikasi layanan kesehatan dalam kerangka kerja manajemen strategis, serta memanfaatkan inovasi digital seperti aplikasi JKN, merupakan hal esensial bagi klinik BPJS untuk mempertahankan daya saing dalam lingkungan kesehatan yang semakin kompleks.