Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Evaluasi Tempat Evakuasi Akhir (TEA) Deyangan Dalam Penanggulangan Bencana Gunung Merapi Berbasis Sister Village Pada Masa Pandemi Covid-19 Di Kabupaten Magelang Margono, Margono; Priyo, Priyo
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 13th University Research Colloquium 2021: Kebencanaan dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagian besar penduduk Indonesia berada di wilayah resikobencana. Erupsi Gunung Merapi merupakan salah satu resikobencana alam yang dampak besar di Kabupaten Magelang. DalamUpaya penanggulangan bencana tersebut diterapkan dengan metodedesa bersaudara atau Sister village. Desa Deyangan merupakan desaaman / desa penyangga dari desa yang berada di KRB III GunungMerapi yaitu desa Krinjing. Dalam pelaksanaan masa tanggapdarurat tahun 2020 yang ditetapkan dari desa Deyangan telahmelakukan penyiapan manajemen dan tempat untuk menampungpenyintas gunung Merapi. namun dimasa pandemic covid-19tidaklah mudah dalam melakukan manajemen dalam pengungsian.Tujuan penelitian ini untuk melakukan evaluasi penangananpenyintas di Tempat Evakuasi Akhir ( TEA) Desa Deyangan. Metodepenelitian ini menggunakan desain mixed Method denganpendekatan Survey dan Focus Grup Discation ( FGD). Pada tahapsurvey melakukan evaluasi dokumen perencanan dengan dokumenpelaksanan. Selanjutkan dilakukan FGD yang melibatkan pengurusposko, pengungsi dan pemerintah Desa Penyangga. Dalam FGDdilakukan evaluasi dan pembahasan tergadap masing masing sektorpenanganan. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2020sampai januari 2021. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa TEADeyangan telah melakukan manajemen TEA dengan baik sesuaidengan rencana kontijensi dari manajemen pengungsian, pendataanpenyintas, logistic, dapur umum, sarana kesehatan, sarana informasi dan Pendidikan, Keagamaan dan Psikologi. Dalam perencanaan kontijensi penanganan covid belum dilalukan namun dalampelaksanaannya sudah melakukan sesuai dengan panduanpenanganan Covid-19. Dalam evaluasi yang dilakukan dengan FGDmenunjukan bahwa masing masing sektor sudah melakukan aplikasisesuai dengan Rencana Kontijensi dalam penanganan TEA. Kesimpulan TEA Deyangan telah melakukan penerapan programsister vallage sesuai dengan rencana Kontijensi yang di rencanakan.
Penerapan mirror therapy untuk kekuatan otot lansia dengan stroke non hemoragik di keluarga Aryati, Dwi; Priyanto, Sigit; Priyo, Priyo
Borobudur Nursing Review Vol 1 No 2 (2021): Borobudur Nursing Review Vol 1 No 2 (July-December 2021)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/bnur.5414

Abstract

Latar Belakang : Sreoke iskemik (stroke non hemoragik) adalah kehilangan fungsi otak yang disebabkan oleh sumpai darah ke otak yang terhenti karena adanya thrombus dan embolus sehingga dapat menyebabkan mobilisasi terganggu dan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari. Pengobatan yang digunakan untuk untuk mengembalikan anggota gerak yaitu dengan memberikan terapi cermin. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran asuhan keperawatan pada pasien stroke non hemoragik dalam pemenuhan kebutuhan mobilitas fisik. Metode : Merode yang digunakan adalah pendekatan studi kasus atau purposing sample. Subjek studi kasus ini diambil dari satu pasien lansia dengan stroke non hemoragik yang mengalami kelemahan pada otot sebagian tubuh pasien. Data penelitian ini diambil dengan menggunakan metode observasi partisipasif, wawancara tidak terstruktur, dan dokumentasi. Hasil : Hasil studi kasus menunjukkan bahwa pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien stroke non hemoragik dalam pemenuhan kebutuhan mobilitas fisik yang dilakukan didapatkan hasil bahwa terjadi peningkatan derajat kekuatan otot setelah dilakukan penerapan pemberian terapi cermin. Kesimpulan : Terapi cermin merupakan bentuk rehabilitasi yang mengandalkan bayangan motorik, dimana cermin akan memberikan stimulus visual yang akan cendrung ditiru oleh Sebagian tubuh yang mengalami kelemahan otot. Setelah dilakukan tindakan penerapan terapi cermin selama 7 hari dengan 5 kali kunjungan dipagi hari selama 15 menit selama 2 sesi klien mengalami peningkatan kekuatan otot dari skala 3 ke skala 4. Kesimpulannya terapi cermin cukup efektif untuk meningkatkan kekuatan otot ekstremitas atas pada pasien stroke non hemoragik.