Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Fenomena Campur Kode dalam Penggunaan Bahasa Melayu Jambi di Pasar Baru Kota Bangko Nisa, Afrillia; Akhyaruddin, Akhyaruddin; Priyanto, Priyanto; Andiopenta, Andiopenta
Konstruktivisme : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol 16 No 2 (2024): Juli 2024
Publisher : Universitas Islam Balitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35457/konstruk.v16i2.3504

Abstract

Latar belakang penelitian ini adalah ditemukannya fenomena penggunan campur kode bahasa Melayu Jambi yang dijumpai di pasar Baru Bangko. Tujuan dari penelitian ini berupa mengetahui bentuk, fungsi, dan bahasa etnis penyumbang campur kode dalam bahasa Melayu Jambi yang dijumpai di pasar Baru Bangko. Data penelitian berupa percakapan lisan pembeli ataupun penjual yang mengandung campur kode bahasa Melayu Jambi di Pasar Baru Bangko. Data diperoleh dengan teknis observasi, simak, rekam, catat, dan wawancara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik analisis isi. Ada tiga tahapan yang dilalui dalam proses analisis berupa mereduksi data, menyajian data, dan menarik kesimpulan. Uji keabsahan data dilakukan dengan teknik triangulasi metode dan teori. Hasil penelitian menemukan bentuk campur kode pada tataran kata sebanyak 30 data dan frasa sebanyak 4 data. Fungsi terjadinya campur kode yang ditemukan di pasar Baru Bangko meliputi fungsi menghormati lawan bicara, fungsi menanyakan sesuatu, dan fungsi menegaskan pembicaraan. Bahasa penyumbang campur kode bahasa Melayu Jambi meliputi bahasa Minangkabau sebanyak 20 data, bahasa Jawa sebanyak 11 data, dan bahasa Batak sebanyak 3 data.
Pengembangan Model Pembelajaran Sosiolinguistik Berbasis Lingkungan Melalui ADDIE Model pada PBS-FKIP Universitas Jambi Andiopenta, Andiopenta
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran Vol 5 No 1 (2019): Volume 5 Nomor 1 Tahun 2019
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.556 KB) | DOI: 10.29407/pn.v5i1.13820

Abstract

This study aims to produce an environmental-based Sociolinguistic learning model. The research method used is ADDIE model development research with stage (1) analysis, stage (2) design, stage (3) development, stage (4) implementation, stage (5) evaluation, and stage (6) production. The results of product trials, both stage one tests showed an increase in the average of 6.1 to 8.01. In the second phase of testing too, from 4.61 increased to 5.94. These results illustrate that the teaching material produced is suitable for use. In the t-test of the product in the small group, the average score of 4.56 was seen, while in the post-test it showed an average of 4.74, and the t-count of 8,099 was still greater than the t-table of 2,132, so the difference was very significant. Likewise, in the large group test, the parates average was 7.84, while the average post-test was 8.50, and the t-test was 9.573, which was also still greater than the t-table 2.132, so the difference was very significant. Based on the results of the study, an environment-based sociolinguistic learning model produced from this study is feasible to use. Syllabus and sociolinguistic learning models based on the environment produced from this research are very in accordance with the needs of students of the Indonesian Language and Literature Education Study Program at the Faculty of Social Sciences, Jambi University in taking Sociolinguistics Courses.
Kohesi Gramatikal Konjungsi dalam Cerita Rakyat Orang Kayo Hitam “Siginjai Keris Sang Rajo”: Analisis Wacana Khomsatun Yuliatun; Andiopenta, Andiopenta; Ade Kusmana; Nira Kusumawati
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 10 No. 4 (2024)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v10i4.4688

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis konjungsi yang ada dalam cerita rakyat Melayu Jambi "Siginjai Keris Sang Rajo". Metodologi deskriptif kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari cerita rakyat Melayu Jambi "Siginjai Keris Sang Rajo." Peneliti telah menggunakan metode mendengarkan dan mencatat, yang meliputi membaca dan mengamati, untuk menggambarkan hasil tentang kohesi gramatikal konjungsi dalam cerita rakyat Melayu Jambi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa ada 13 jenis konjungsi, yaitu konjungsi koordinatif adiktif, konjungsi koordinatif adversatif, konjungsi koordinatif pendamping, konjungsi koordinatif pertentangan, konjungsi subordinatif waktu, konjungsi subordinatif alasan, konjungsi subornatif tujuan, konjungsi subordinatif relatif, konjungsi subornatif kondisional, konjungsi subornatif cara, konjungsi subornatif hasil, konjungsi korelatif, dan konjungsi antarkalimat.
Exploring Indonesian senior high school teachers’ perceptions of first language use in teaching English Nanda, Dodi Widia; Duhn, Iris; Prananda, Gingga; Pebriana, Putri Hana; Andiopenta, Andiopenta; Ridwan, Muannif; Ricky, Zuhar
Journal of Education and Learning (EduLearn) Vol 18, No 2: May 2024
Publisher : Intelektual Pustaka Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/edulearn.v18i2.21013

Abstract

This study aims to investigate Indonesian senior high school teachers’ perceptions of using the first language (L1) when teaching English because Indonesian teachers tend to have negative perceptions toward the application of the L1, while the L1 is needed in a situation where Indonesian students have limited skills in English. The semi-structured interview was applied to collect data, while thematic analysis was used to analyse it. The result showed that the teachers have three different positions in perceiving the use of the L1: the virtual position, maximal, and optimal positions. Although they have different perceptions toward the application of the L1, a major insight can be concluded about the limited use of the L1 for specific reasons, such as considering teachers’ and students’ English abilities, learners’ needs, and the type and the difficulty of the given task or assignment. The L1 can be functioned as scaffolding in three aspects: when teaching grammar, vocabulary, and when giving instructions. Teachers may consider this study’s results as the information to use the L1 in classrooms. This may also be beneficial for Indonesian educational stakeholders and the government to specifically define what type of scaffolding that teachers can use the L1 to teach English.
Kesantunan Berbahasa Masyarakat Batak Toba di Desa Pardomuan Nauli Pangururan Kabupaten Samosir Simarmata, Feronika; Akhyaruddin, Akhyaruddin; Ningsih, Arum Gati; Andiopenta, Andiopenta
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 1 (2026): Februari - April
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i1.7001

Abstract

Kesantunan merupakan salah satu kajian penting dalam bidang pragmatik karena pada dasarnya persoalan kesantunan berbahasa berkaitan erat dengan cara bahasa digunakan sebagai alat komunikasi yang selalu terikat oleh konteks sosial, budaya, dan situasional. Dalam praktiknya, kesantunan tidak hanya mencerminkan pilihan kata, tetapi juga menunjukkan nilai, norma, serta sistem budaya yang dianut oleh suatu masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan fungsi kesantunan berbahasa masyarakat Batak Toba di Desa Pardomuan Nauli Pangururan, Kabupaten Samosir, dengan menggunakan teori kesantunan Leech (1983) serta fungsi kesantunan menurut Chaer (2010) sebagai landasan analisis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif pragmatik dengan data berupa tuturan lisan yang diperoleh melalui teknik simak, catat, dan rekam dalam interaksi kehidupan sehari-hari masyarakat Batak Toba. Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menerapkan triangulasi teori sehingga hasil analisis memiliki validitas yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk kesantunan berbahasa yang dominan ditemukan dalam beberapa maksim, yaitu: (1) maksim kebijaksanaan, (2) maksim kedermawanan, (3) maksim penghargaan, (4) maksim kesederhanaan, (5) maksim pemufakatan, dan (6) maksim kesimpatian. Sementara itu, fungsi kesantunan berbahasa yang teridentifikasi meliputi: (1) fungsi menyatakan, (2) fungsi menanyakan, (3) fungsi menyuruh, (4) fungsi meminta maaf, dan (5) fungsi mengkritik. Temuan ini memperkaya kajian sosiopragmatik bahasa daerah sekaligus mendukung pelestarian kearifan lokal Batak Toba di tengah dinamika dan pengaruh perkembangan bahasa yang semakin pesat.