Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Efektifitas Asuhan Keperawatan Keluarga Terhadap Tingkat Kemandirian Keluarga Mengatasi Masalah Stanting Pada Anak Di Wilayah Kerja Puskesmas Bukit Surungan Padang Panjang Dalina Gusti; Mariza Elsi
Menara Ilmu : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmiah Vol 17, No 2 (2023): Vol 17 No. 02 JANUARI 2023
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mi.v17i2.4116

Abstract

Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang harus ditangani secara serius. Indonesia adalah negara dengan prevalensi stunting kelima terbesar. Balita/baduta yang mengalami stunting akan memiliki tingkat kecerdasan tidak maksimal, anak  lebih rentan terhadap penyakit dan di masa depan dapat berisiko  menurunnya tingkat produktivitas. Anak pendek yang terjadi di Indonesia sebenarnya tidak hanya dialami oleh rumah tangga/keluarga yang miskin dan kurang mampu, karena stunting juga dialami oleh rumah tangga/keluarga yang tidak miskin/yang berada di atas 40% tingkat kesejahteraan social dan ekonomi. Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat, yang merupakan entry point dalam upaya mencapai kesehatan masyarakat secara optimal. Dalam upaya meningkatkan kemampuan keluarga melaksanakan fungsi perawatan kesehatan keluarga di rumah, maka penting bagi keluarga untuk memahami dan melaksanakan lima tugas kesehatan keluarga. .Tujuan Penelitian dilakukan untuk Mengetahui efektifitas pemberian asuhan keperawatan  keluarga terhadap kemandirian keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan Stunting pada anak.. Desain yang digunakan adalah kuasi eksprimen one group pretest-posttest design Penelitian dilakukan wilayah kerja Puskesmas Bukit Suruangan Padang panjang Timur.  Sampel dalam penelitian adalah sebanyak 50 keluarga, Analisa data pada penelitian ini bersifat univariat dan bivariat (uji T dependen).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya pengaruh yang signifikan pemberian asuhan keperawatan keluarga terhadap tingkat kemandirian keluarga dalam mengatasi stunting pada anak di keluarga (p value = 0,000). Penting sekali perawat Puskesmas melakukan asuhan keperawatan pada keluarga dalam bentuk kunjungan rumah guna membantu keluarga mengatasi masalah kesehatan yang ada di keluarga sehingga status kesehatan keluarga dapat meningkat. Keyword:                 stunting, asuhan keperawatan, keluarga , kemandirian 
SOSIALISASI PREMARITAL CARE DALAM PENCEGAHAN STUNTING DI KABUPATEN SIJUNJUNG Rikayoni Rikayoni; Dian Rahmi; Mariza Elsi
Jurnal Abdimas Saintika Vol 5, No 1 (2023): Jurnal Abdimas Saintika
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jas.v5i1.1856

Abstract

Di Indonesia menurut hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan(Kemenkes), prevalensi balita yang mengalami stunting sebanyak 24,4% pada tahun 2021.Dengan demikian, hampir seperempat balita di dalam negeri yang mengalami stunting padatahun lalu. Wilayah Sumatra Barat dengan prevalensi balita stunting terbanyak pada tahun2021. Tersebar di beberapa kabupaten kota. Kabupaten Sijunjung menduduki urutan ke tigaterbanyak yaitu 30.1% dari jumlah balita, urutan terbanyak berada di Kabupaten Solok 40,1dan Pasaman 30,2%. Khusus Dikabupaten Sijunjung terbanyak berada di Kecamatan LubukTarok, hingga Februari 2022 ditemukan 186 balita dengan kasus stunting (Jurnal Sumbar,2022). Penyuluhan premarital care atau premarital chek up di Kabupaten Sijunjung sebagaiupaya pencegahan stunting. Langkah kecil untuk memutus rantai stunting dengan langkahpreventif yang dilakukan oleh masyarakat yang sadar akan bahaya stunting. Langkahsederhana dimulai premarital care atau premarital chek up termasuk salah satu upayapenting untuk mencegah dan menurunkan angka stunting. Premarital check up ataupemeriksaan kesehatan pranikah adalah rangkaian pemeriksaan kesehatan penting yangdilakukan oleh pasangan yang akan menikah. Tujuannya untuk mencegah penularan penyakitkepada pasangan dan calon anak kelak. Kegiatan pengabdian promosi kesehatan inidilakukan di Kanagarian Kabupaten Sinjunjung diikuti sebanyak lebih 25 orang ibu-ibu yangdikumpulkan di Aula Kantor Wali nagari Kanagarian Sijunjung. Kegiatan ini sangat diterimaserta didukung secara positif oleh ibu-ibu peserta pemerintah Kabupaten Sijunjung terlihatdari perwakilan wali nagari kanagarian Pamatang Panjang, serta kader yang memfasilitasikegiatan dengan menyediakan tempat dan mengumpulkan ibu-ibu guna mengikutipenyuluhan tentang stunting untuk menyadari akan pentingnya edukasi pencegahan stunting.Kata Kunci : Premarital Care - Stunting
EFEK VARIASI METODE TRIASE TERHADAP PENGELOMPOKAN PASIEN IGD DENGAN KONTROL CONTOH KASUS Elsi, Mariza; Rahman, Nurhamidah
Jurnal Kesehatan Saintika Meditory Vol 7, No 2 (2024): November 2024
Publisher : STIKES Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jsm.v7i2.3020

Abstract

 Triase pada dasarnya adalah proses kategorisasi dimana prioritisasi pasien berdasarkan penyakit, keparahan, prognosis, dan ketersediaan sumber daya. Namun definisi ini lebih tepat diaplikasikan pada keadaan bencana atau korban massal. Untuk kegawatdaruratan sehari-hari di IGD rumah sakit istilah triase lebih tepat dikatakan sebagai metode untuk secara cepat menilai keparahan kondisi pasien, menetapkan prioritas, dan memindahkan pasien ke tempat yang paling tepat untuk perawatan. ESI merupakan konsep baru triage yang menggunakan lima skala dalam pengklasifikasian pasien di emergency department. Dalam mengaplikasikannya, saat perawat bertemu dengan pasien pertama kali, harus dapat segera melakukan penilaian kondisi pasien serta dan memberikan keputusan akhir perawatan/observasi, pemulangan  atau pemindahan ke ruang perawatan.Tujuan penelitian untuk mengetahui efek variasi metode terhadap pengkategorian triase yaitu melihat perbendaan metode triase klasik dan metode triase ESI. Desain penelitian ini menggunakan Pretes-Postest Design dengan menggunakan analisis Covariance. Dalam penelitian ini sebelum peneliti memberikan perlakuan dalam hal Metode ESI, terlebih dahulu peneliti melihat hasil pengkategorian triase dari 10 contoh kasus menggunakan metode klasik yang biasa digunakan diruangan. Kemudian peneliti memberikan pemahaman Metode ESI menggunakan algoritma dan panduan, kemudian pengkategorian dilihat lagi dengan menggunakan 10 contoh kasus yang sama sebelum perlakuan diberikanHasil penelitian tidak ada perbedaan pengkategorian triase menggunakan metode yang berbeda, dengan melakukan control terhadap penilaian sebelum perlakuan diberikan yaitu metode ESI dan metode klasik yang telah biasa digunakan.Kata Kunci : Kategori triase ; Klasik ; ESI
SKRINING DAN KONSELING PERKEMBANGAN ANAK PRA SEKOLAH DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PADANG PANJANG BARAT Elsi, Mariza; Gusti, Dalina; Ariani, Fitria
Jurnal Abdimas Saintika Vol 4, No 2 (2022): November Jurnal Abdimas Saintika
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jas.v4i2.1601

Abstract

Keberhasilan tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh faktor lingkungan, mulai dari lingkungan keluarga hingga masyarakat luas. Peran keluarga utamanya orangtua sangat penting dalam membentuk lingkungan keluarga yang harmonis, penuh kasih sayang, dan pengertian. Skrining dini dapat dilakukan oleh kader kesehatan melalui program posyandu yang dibentuk oleh Pusksmas. PKM telah dilaksanakan pada tanggal 29 Juli 2022 jam 08.00 – 10.30 di Kantor Kelurahan Balai-balai Padang Panjang Barat.  Kegiatan skrining dan konseling  diberikan kepada 18 orang tua yang memiliki anak usia pra sekolah, Karakteristik responden dikategorikan berdasarkan usia. sebagian besar berusia dewasa sebanyak 16 responden (88,9%). Hasil kegiatan dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan pengtahuan antara pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan intervensi terlihat peningkatan nilai rata-rata antara sebelum dan setelah diberikan pemahaman yaitu dari 7,22 menjadi 11,44. Hal ini berdampak terhadap hasil screening pertumbuhan dan perkembangan anak usia prasekolah di Kelurahan Balai-balai Padang Panjang Barat. Hasil skrining pada anak usia prasekolah didapatkan 100% anak memiliki pertumbuhan sesuai dengan tingkat usia.Kata Kunci : Skrining, Perkembangan, anak
Sosialisasi kesehatan mental tentang perundungan kekerasan seksual dan perilaku intoleransi pada remaja Elsi, Mariza; Setiarini, Sari; Gusti, Dalina
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i9.1715

Abstract

Background: Violence in schools, including sexual violence, bullying, and intolerance, remains a serious problem that threatens the well-being of students. This is particularly concerning because it contrasts with the general perception that schools are safe environments free from crime because they are filled with educated individuals. Data from the Indonesian Child Protection Commission (KPAI) and the Federation of Indonesian Teachers' Unions (FSGI) in 2023 showed that the most common forms of violence experienced by students were physical violence (55.5%), verbal violence (29.3%), and psychological violence (15.2%). Purpose: To increase junior high school students' knowledge and awareness of the dangers of bullying, sexual violence, and intolerance in an effort to build positive character within the school environment. Method: This activity was held at SMP 16 Padang City in October 2025. The counseling session was attended by 67 seventh-grade students. The activity consisted of an interactive presentation using visual media that directly involved students. The questionnaire consisted of 15 questions, divided into two sections: 10 knowledge questions to measure students' understanding of the definition of violence, its types, and how to prevent and handle it. These questions were in multiple-choice and short-answer format. 5 behavioral questions aimed to measure changes in students' attitudes and behaviors after receiving the counseling, such as whether they felt more confident reporting violence they experienced or witnessed. These behavioral questions used a Likert scale (agree/disagree). Results: The average knowledge score before the counseling session was 59.6, with a range of 32-87. After receiving counseling on bullying, sexual violence, and intolerance, the average knowledge score increased to 86.0, with a range of 72-100. Conclusion: Through interactive outreach activities, participants more easily understand that bullying, sexual violence, and intolerance are behaviors that negatively impact mental health, for both victims and perpetrators. Students also become more able to assertively reject violence, respect differences, and report to authorities if actions threaten their own safety or the safety of others. Suggestion: It is hoped that sustainable programs related to violence prevention can be developed, involving an anti-violence task force team from all parties, including teachers, students, and school counselors. It is also hoped that regular activities in the form of anti-violence outreach or campaigns will be held, at least once a semester, so that the messages conveyed remain ingrained in students. Keywords: Bullying; Mental health; Prevention; School environment; Student behavior Pendahuluan: Kekerasan di lingkungan sekolah diantaranya kekerasan seksual, perundungan (bullying) dan intoleransi masih menjadi permasalahan serius yang mengancam kesejahteraan siswa di lingkungan sekolah. Hal ini di rasa miris karena kontras dengan pandangan umum bahwa sekolah merupakan lingkungan aman dari tindak kejahatan karena dipenuhi orang-orang terdidik. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) tahun 2023 menunjukkan bahwa bentuk kekerasan yang paling sering dialami siswa adalah kekerasan fisik (55.5%), verbal (29.3%), dan psikologis (15.2%). Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa SMP mengenai bahaya perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi dalam upaya membangun karakter positif di lingkungan sekolah. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan di SMP 16 Kota Padang pada bulan Oktober 2025. Jumlah peserta penyuluhan sebanyak 67 peserta terdiri dari siswa kelas VII. Kegiatan berupa presentasi interaktif menggunakan media visual yang melibatkan siswa secara langsung. Instrumen berupa kuesioner terdiri dari 15 pertanyaan, yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu pertanyaan pengetahuan (10 pertanyaan) untuk mengukur pemahaman siswa mengenai pengertian kekerasan, jenis-jenis kekerasan, serta cara pencegahan dan penanganannya. Pertanyaan-pertanyaan ini berbentuk pilihan ganda dan isian singkat. Kemudian pertanyaan perilaku (5 pertanyaan), bertujuan untuk mengukur perubahan sikap dan perilaku siswa setelah mendapatkan penyuluhan, seperti apakah mereka merasa lebih percaya diri untuk melaporkan kekerasan yang mereka alami atau saksikan. Pertanyaan perilaku ini menggunakan skala Likert (setuju/tidak setuju). Hasil: Menunjukkan bahwa nilai rata-rata pengetahuan sebelum diberikan penyuluhan yaitu sebesar 59.6 dengan rentang nilai 32-87. Setelah diberikan penyuluhan perundungan kekerasan seksual dan Intoleransi nilai rata-rata pengetahuan responden meningkat menjadi sebesar 86.0 dengan rentang nilai 72-100. Simpulan: Melalui kegiatan penyuluhan yang interaktif, peserta lebih mudah memahami bahwa perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi merupakan perilaku yang berdampak negatif terhadap kesehatan mental, baik bagi korban maupun pelaku. Siswa juga menjadi lebih mampu untuk bersikap tegas menolak kekerasan, menghargai perbedaan, dan melapor kepada pihak berwenang apabila terjadi tindakan yang mengancam keselamatan diri atau orang lain. Saran: Diharapkan dapat mengembangkan program berkelanjutan terkait pencegahan kekerasan, dengan melibatkan tim satuan tugas anti-kekerasan dari semua pihak antara guru, siswa, dan konselor sekolah. Diharapkan juga, adanya kegiatan rutin berupa penyuluhan atau kampanye anti-kekerasan, minimal setiap semester, agar pesan yang disampaikan tetap tertanam dalam diri siswa.