Bayu Fermadi
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MODERAT DAN PURITAN DALAM PEMIKIRAN KHALED ABOU EL FADL Bayu Fermadi
Bahasa Indonesia Vol 5 No 2 (2019): JURNAL ILMIAH SPIRITUALIS
Publisher : Program Studi Ilmu Tasawuf IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk, Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53429/spiritualis.v5i2.67

Abstract

Perlombaan adu gagasan kebenaran terjadi sangat ketat antara Islam moderat dan puritan. Masing-masing ‘mencari mangsa’ agar paham mereka dapat diterima oleh khalayak. Dalam artikel ini dibahas perbedaan mendasar kedua kelompok tersebut dari kacamata Khaled Abou el Fadl. Kesimpulan artikel ini adalah muslim puritan memiliki karakter kembali kepada al-Qur’an dan hadis. Kelompok ini diiwakili oleh Wahabi. Implikasi dari paham tersebut adalah Islam dicap sebagai agama garis keras, teroris, bahkan menghakimi orang yang tidak sepaham sebagai kafir. Mereka hanya mengikuti ijtihad ulama mereka dan menutup ruang pemahaman baru. Hal ini didasarkan oleh asumsi mereka bahwa 90 % ajaran Islam tidak dapat diinterpretasikan. Sedangkan muslim moderat adalah kelompok yang mengakomodir pemahaman dasar-dasar Islam melalui kacamata ijma>’ dan qiya>s: yang diwakili oleh kelompok Sunni. Mereka lebih longgar dan menerima modernitas. Paham tersebut mencerminkan Islam yang humanis dan fleksiel. Poin penting dalam menyikapi perbedaan tersebut bukan dinilai dari benar salah, tetapi siapakah yang lebih baik diantara mereka.
TRANSFORMASI SANTRI PASCA 1965 Bayu Fermadi
Bahasa Indonesia Vol 6 No 1 (2020): JURNAL ILMIAH SPIRITUALIS
Publisher : Program Studi Ilmu Tasawuf IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk, Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.862 KB) | DOI: 10.53429/spiritualis.v6i1.78

Abstract

Sebelum kemerdekaan, santri, kyai dan seluruh elemen masyarakat bersatu padu untuk melawan penjajah. Namun setelah merdeka, mereka sedikit banyak dibenturkan oleh kepentingan politik dalam negeri. Tulisan singkat ini akan membahas tentang transformasi santri pasca tahun 1965 dari segi budaya, agama dan politik di wilayah Pare, Kediri. Kesimpulan artikel ini adalah munculnya pemberontakan di Madiun yang dilakukan oleh PKI menjadi cikal bakal persatuan para santri disebabkan perseteruan idiologi antara keduanya. Untuk memperkuat solidaritas umat Islam, akhirnya didirikan banyak pesantren di Kediri sebagai penangkal kekuatan Abangan dan kristenisasi. Lambat laun, banyaknya jumlah pesantren sedikit banyak mengalami gesekan. Pesantren yang melahirkan alumni di desa-desa membuat mereka saling berkompetisi dan ingin menunjukkan jati diri masing-masing. Gesekan antar santri cukup terasa terutama dalam masalah politik. Sebab pondok pesantren merupakan lahan empuk untuk meraih suara santrinya. Meskipun saat ini, pengaruh pesantren dalam persoalan politik tidak terlalu signifikan. Sedangkan identitas Abangan akhir-akhir ini sudah sulit ditemukan karena pada umumnya label Abangan tersebut merupakan citra negatif.